
Di rumah kediaman Adiaksa.
Resti berada di depan cermin rias, ia melihat tubuhnya yang terlihat lebih berisi.
Tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu yang mengganjal di perutnya, terasa mual dan hendak muntah.
Resti langsung berlari menuju kamar mandi.Kemudian memuntah isi perutnya.
Uek..uek...uek..
"Ih kok tiba-tiba aku jadi Neg ya? "
Ia pun kembali muntah.
Setelah isi perutnya habis dan tak ada lagi yang bisa ia muntahkan, Resti mencuci wajahnya kemudian kembali memakai seragam sekolahnya dan turun menuju lantai bawah untuk ikut sarapan bersama keluarga.
"Selamat pagi Mami. Selamat pagi Papi. "
"Selamat Pagi. " Adelia.
Resti menarik kursi, melirik sinis ke arah Adiaksa yang tengah menikmati sarapannya , kemudian ia tersenyum sinis kearah Papinya tersebut.
Adiaksa tak menggubris kehadiran Resti, karena merasa anaknya tersebut tak bisa di didik dengan benar, Setiap memarahi Resti, Adelia selalu membela putra-putri mereka.Hingga Resti besar kepala dan tak mau mendengar nasehat Adiaksa.
Adiaksa sedang sarapan, tanpa bicara sedikitpun pada anak dan istrinya. Ketika menikmati sarapan ia mendapatkan telpon dari Andre.
Dengan segera ia pun mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo, selamat pagi Tuan Andre! " Sapa Adiaksa.
"Selamat pagi ayah mertua. " Andre
Adiaksa kaget mendengar Andre yang memanggilnya dengan sebutan hormat kepadanya, yakni ayah mertua.
"Ada apa Tuan? " tanya Adiaksa, ia hanya takut salah dengar.
"Ayah mertua, aku ingin menyampaikan kabar gembira, jika Mayang kini ada bersama ku. " Andre.
"Alhamdulillah, yang benar Tuan? "tanya Adiaksa yang merasa bahagia.
"Iya, Mayang di rumah sakit saat ini. "
Delia langsung tertawa dalam hatinya.
'Hm, Mudah-mudahan si Mayang itu keguguran, setelah keguguran pasti dia di campakkan oleh Tuan Andre begitu saja. Hah !Dasar gadis pembawa sial. Sampai kapan pun hidup kamu ngak akan pernah beruntung Mayang,Jika saja kau tak mengandung anak Andre sudah pasti Andre tak akan mau menikahimu,'batin Adelia seraya tersenyum smirk.
***
"Mayang kenapa? "tanya Adiaksa khawatir
"Mayang tak apa-apa, hanya saja ia mengalami keram otot bagian perut , hingga harus bedres di rumah sakit. "
"Huh syukur lah Mayang sudah di temukan dan tak terjadi sesuatu pada Mayang. Baiklah kalau begitu. Nanti saya akan ke rumah sakit. "Adiaksa.
Setelah menutup telpon Adiaksa langsung menuju kamar untuk mengganti baju.
Sementara Adelia tersenyum sinis.
'Ehm, rasain moga saja anakmu itu celaka. ' umpat Adelia.
Resti tak menyentuh apa-apapun di meja makan, Tiba-tiba saja ia kehilangan selera makannya.
"Resti kenapa kamu melamun saja? kamu sakit? " tanya Adelia ketika melihat wajah Resti yang tampak pucat.
"Ngak kok Mi, aku merasa lemas saja. Kecapean mungkin. " Resti.
"Makanya pulang sekolah langsung pulang, jangan keluyuran sampai malam. Kalau papi kamu tahu kelakuan kamu seperti itu,dia pasti akan menarik kembali semua fasilitas yang di berikan kepada kamu. "
"Makanya, Mami jaga jangan sampai papi tahu, kalau aku sering pulang malam. Lagi pula papi akhir-akhir ini sibuk mencari si Mayang. Mana peduli sama aku dan Raga." Resti.
Beberapa saat kemudian Adiaksa keluar dari kamarnya. Sebelum ke kantor rencananya ia menjenguk Mayang.
"Papi mau kemana? "tanya Adelia.
"Apa urusan mu?! "
"Aku ikut Pi kerumah sakit, aku ingin melihat keadaan Mayang. " Adelia.
Delia terus membuntuti Adiaksa, hingga ke dalam mobil. Mereka pun berangkat menuju rumah sakit.
Bersambung dulu ya reader. Maaf author up dikit 🙏❤