Mengandung Benih CEO Kejam

Mengandung Benih CEO Kejam
Gadis Aneh


Setelah dari rumah sakit mereka langsung melanjutkan perjalanan menuju pesantren kakek.


Mayang mulai mengantuk, ia pun menyandarkan kepalanya pada dada bidang Andre. Mayang memang mudah lelah ketika mengandung janin kembarnya, apalagi dengan perutnya yang makin membesar.


Meski baru menasuki usia lima bulan kandungan. Namun, perut Mayang sudah terlihat seperti ibu yang tengah mengandung tujuh bulan.


Keadaan jalan yang mereka lewati cukup sepi, Andre yang jadi penunjuk jalan pada, Sean. Mereka pun ngobrol di sepanjang perjalanan.


Sean tak membawa laju mobilnya meski mereka berada di jalan tos bebas hambatan, karena ia sendiri tak mengetahui medan yang mereka lalui, Andre juga menyarankan kepadanya untuk membawa mobil dengan kecepatan rata-rata tak terlalu lalu laju, karena khawatir akan keselamatan istrinya..


Mereka masih asik mengobrol, sesekali terdengar tawa dari mereka, sementara Mayang masih tertidur lelap dalam pelukan suaminya.


Ketika melewati tikungan tiba-tiba saja seorang menyebrang,  Secara spontan Sean pun menginjak Rem.


Shutttt...


Mobil mereka berhenti.


Seorang wanita terpenting karena tak sengaja di senggol Sean.


"Ada apa Sean? " tanya Andre karena tiba-tiba saja Sean mengerem mendadak, hingga membangunkan istrinya.


"Sepertinya aku menabrak seseorang! "


Mendengar hal tersebut, Mayang langsung bangun.


Andre dan Mayang melirik kearah samping bawah, dan terlihat seorang gadis tengah meringis kesakitan dengan siku dan lutut yang mengeluarkan darah segah.


"Akh! Aduh! " ringis gadis tersebut.


"Untung Sean sempat ngerem, mobil juga, tak terlalu jauh. " Andre.


Sean menepikan mobilnya. Ia berhenti untuk melihat keadaan sang gadis yang di tabraknya.


Sean berlari kecil menghampiri gadis tersebut. Namun, baru saja mendekat, gadis itu kembali hendak berlari, tetapi lengan gadis tersebut langsung di sambar Sean.


"Mau kemana kamu? " tanya Sean. Andre dan Mayang masih memperhatikan keduanya.


"Lepaskan! Aku harus pergi! "Ucap gadis tersebut seraya menoleh  kearah belakang. Sean melihat ada dua orang laki-laki di ujung jalan. Mereka sepertinya punya kepentingan terhadap gadis tersebut.


Sean menatap tajam kearah dua pria tersebut, hingga kedua pria itu berpaling dan sedikit menjauh.


Sean masih mencengram erat tangan wanita tersebut, karena ia melihat gadis tersebut terlihat ketakutan. Pada wajahnya terdapat beberapa luka memar pada pelipis dan juga pipinya


"Kau mau kemana? " tanya Sean dengan suara melemah.


Wanita itu semakin takut melihat Sean,Namun, sesekali ia menoleh kembali kearah belakang.


Melihat ada yang tak beres pada gadis tersebut, Andre membawa Mayang menghampiri gadis itu.


Mungkin saja gadis itu ketakutan karena melihat perawakan Sean.


"Lepaskan saya tuan, saya mohon. "Pintanya dengan mengiba. Gadis itu terlihat begitu ketakutan.


"Katakan saja ada apa dengan mu? Kenapa kau terlihat ketakutan? " tanya Sean lagi.


Gadis itu terlihat ketakutan dengan bagian tubuh yang gemetar menoleh ke arah belakang. Ia menatap Sean dengan penuh keraguan.


"Apa mereka hendak menyakiti mu? " tanya Sean lagi.


Melihat kedatangan Mayang dan Andre, gadis tersebut tak lagi ragu.


Gadis itu mengangguk lemah.


Kedua orang pria tersebut melarikan diri ketika melihat Sean dan Andre menatapnya tajam.


"Kau mau kemana? " tanya Andre.


Gadis tersebut kembali menggeleng.


"Kau tidak tahu tujuan mu, dan kenapa dua pria tersebut mengincar mu?! " tanya Andre.


Gadis itu makin tertunduk karena gaya bicara Andre yang terdengar kasar dan tegas hingga membuat gadis tersebut menjadi takut.


"Sudahlah Mas, kita bawa dia ke dalam mobil sajalah. Kasihan dia. Lihat lutut dan sikunya juga berdarah. " Mayang.


Gadis itu menatap ke arah Mayang. Yang saat itu tersenyum kearahnya.


"Jika kamu tak punya tujuan. Ayo ikut kami saja. Atau kamu mau saya antar ke rumah? " tanya Mayang.


Gadis itu menggeleng


"Saya, ngak mau pulang kerumah, Bapak pasti marah! " Ucapnya dengan sedih.


Mereka bertiga saling memandang.


Gadis itu kembali menunduk, sepertinya ada rahasia yang ia sembunyikan.


"Sudahlah kita di dalam mobil saja. Biar aku obati luka-luka kamu. " Sean.


"Ayo ikut kami saja! " Mayang.


Karena tak punya pilihan, Gadis tersebut pun mengikuti Mayang.


Gadis itu seperti seumuran dengan mayang, penampilan sedikit lusuh, dengan menggunakan pakaian sangat sederhana.


Mereka menghampiri mobil. Sean membuka pintu mobil dan mengambil kotak P3K.


Kemudian ia menyuruh gadis tersebut duduk di jok mobil bagian depan, sementara Andre dan Mayang kembali ke dalam mobil.


Dengan Hati-hati Sean membersihkan luka degan alkohol 70 % kemudian memoles luka tersebut dengan provide iodin.


Sesekali wanita muda tersebut meringis menahan rasa sakit.


Setelah mengobati lukanya, Sean kembali ke kursi sopir.


"Tutup pintunya! " titah Sean pada gadis tersebut.


Gadis itu langsung menutup pintu mobil dengan kencang.


Setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan nya.


"Siapa nama kamu? " tanya Sean.


"Hesti Om, " Sahut Hesti dengan polos.


Mayang tersenyum ketika Hesti memangil Sean dengan sebutan Om.


"Lalu kamu mau kemana sebenarnya? dan kenapa kamu di kejar-kejar sama dua pria tersebut? " tanya Sean.


Hesti tertunduk.


"Saya kabur dari rumah Om. " Hesti menyimpul-nyimpul kaos yang ia kenakan. Saat itu wajahnya terlihat begitu sedih.


"Loh kenapa? " tanya Sean lagi, ia pun melirik ke arah Hesti.


"Karena...karena saya di paksa nikah sama kakek-kakek yang kaya raya di daerah saya. untuk menebus hutang orang tua saya. Makanya saya terpaksa kabur, karena nanti malam rencananya pernikahan tersebut akan berlangsung. Dan Kedua laki-laki tersebut adalah orang suruhan pria tua itu, mereka terus mengejar-ngejar saya agar bisa membawa saya kembali . Hiks, saya takut! saya ngak mau nikah sama aki-aki hiks. " Hesti menangis.


Mayang dan Andre jadi pendengar setia.


"Memangnya berapa sih orang tua kamu berhutang, sampai tega memaksa kamu menikah? " tanya Sean


"Ngak tahu Om, hiks. Pokoknya saya harus berhenti sekolah dan harus mau menikah dengan kakek tersebut. Kalau tidak kami sekeluarga harus menyerahkan rumah beserta semua harta yang kami miliki kepada kakek Tino, hiks hiks.Saya binggung harus bagaimana, jika tak bisa melunasi hutang beliau, kami harus segera pindah.Kasihan adik-adik saya masih kecil Om, mau tinggal di mana mereka, jika kami di usir hiks hiks " Hesti terlihat begitu sedih, ia pun menangis sejadi-jadinya. Antara, sedih, kecewa dan putus asa bercampur jadi satu.


Mayang merasa miris mendengar penuturan dari Hesti, ternyata banyak sekali orang tua yang rela menjual anaknya sebagai penebus nota hutang keluarga mereka.


Melihat hal itu Sean pun merasa iba.


" Sudah jangan sedih. Jika benar apa yang kamu katakan, saya akan bantu melunaskan semua hutang keluarga kamu. Biar mereka tak lagi memaksa kamu untuk menikahi pria tua tersebut. " Sean.


Mendengar hal itu, seketika Hesti menghapus air matanya.


"Benarkah Om? " tanya Hesti.


"Iya benar! kamu ngak percaya saya punya uang banyak? " tanya Sean.


Hesti langsung meraih tangan Sean kemudian menciumnya.


"Terima kasih Om, "ucapnya dengan mata yang berbinar.


Sementara Mayang dan Andre saling melempar senyum.


"Ya sudah. Hari ini kamu ikut kami, besok aku antar kamu pulang ke rumah kamu, sekalian bayar hutang keluarga mu itu. " Sean.


Hesti semakin bahagia ia pun tersenyum dengan lebar. Seolah-olah beban di pundaknya terasa hilang seketika.


Bersambung!!!Selamat pagi para reader, pagi-pagi author sudah menyapa kalian semua nih. Terima kasih atas dukungan kalian semuanya sampai hari ini, semoga hari ini kita di beri kelancaran rejeki dan di anugrahkan kesehatan pada hari ini dan seterusnya. Aamin.


Assalamu'alaikum wr. wb. besok lagi ya upnya 🙏😍😍


Author punya rekomendasi novel keren untuk kalian, sambil nunggu author up.


Dengan judul: Bangkitnya pria terhina.


karya: Ilham Risa