
Hari ini rencananya Sean mulai bekerja di kantor.Segala persiapan pun dilakukan oleh Hesti dari mempersiapkan kebutuhan suaminya, mulai dari pakaian hingga menyiapkan sarapan untuk sang Suami. Hesti sudah sibuk di dapur . Sementara Sean berada di luar rumah membawa putranya untuk Jalan-jalan pagi. Ia langsung menghampiri Andre dan Mayang yang sedang mendorong kereta bayi mereka melewati taman bunga yang ada di pekarangan rumah mereka.
Mereka berdua tersenyum ketika melihat Sean yang sudah rapi dengan setelan kemeja berdasi pula.
"Cih mantap! " cetus Andre menilai penampilan Sean kalla itu,sambil mengacungkan jari jempol nya.
Sean memang terlebih lebih tampan hingga semakin mirip dengan Andre.
"Hesti dimana Sean? " tanya Mayang.
"Katanya lagi siapin sarapan. " Sean.
"Oh..kalau begitu, aku juga mau buat sarapan untuk kamu Mas. Kamu jaga dia anakmu ya " Mayang.
" Boleh juga. " Andre.
Baru saja hendak melangkah , Raya sudah menjerit menangis, melihat Mayang yang pergi menjauhinya
Oek! Raya menangis seperti berteriak.
"Ya ampun Raya, baru mommy tinggal saja sudah nangis menjerit seperti ini seperti dicubit saja, " keluh Mayang.
"Sudahlah kalau gak sempat nanti biar aku suruh bi Inah saja. Yuk kita sarapan." Andre
Mereka kembali ke meja makan.
Masing-masing duduk di kursi meja makan sambil memangku anaknya, terkecuali Sean yang harus menggendong putranya.
"Bi Inah!"panggil Andre.
Bi Inah yang dari dapur buru-buru menghampiri Andre.
"Ada apa Tuan? " tanya Bi Inah.
" Tolong siapkan sarapan untuk saya dan istri saya! Bi! Sandwich plus Yoghurtnya jangan lupa. " Andre
Hesti langsung keluar dari dapur dengan membawa beberapa roti lapis.
"Aku sudah buat sarapan untuk kakak ipar, "ujar Hesti sambil meletakkan roti panjang dengan isian sosis dan dengan saus dan mayones ke piring mereka masing-masing.
Hah, Andre melongo, begitupun Mayang dan Sean.
"Aku pesan sandwich Hesti, kenapa kamu kasih yang beginian. Ini seperti jajanan anak SD, " dengus Andre.
"Ih kakak ipar, sama saja, di kampung ku makanan seperti ini mahal loh, jarang ada yang jual," sahut Hesti dengan polos.
Andre menggelengkan kepalanya, karena tak suka dengan makan yang mengandung daging olahan.
"Sudahlah Mas, Hesti sudah bersusah payah membuatnya, dimakan sajalah, " ucap Mayang sambil menggigit hotdog tersebut.
Andre yang memang cerewet dalam segala hal, terutama soal makan akhirnya menakannya juga.
Sementara Hesti terlihat cuek melihat wajah Andre yang mengkerut tersebut.
Karena Sean sedang menggendong anak mereka, Hesti lah menyuapinya.
Setelah sarapan rencananya mereka akan langsung berangkat.
"Sean, Yuk berangkat. Meski kita bos ,kita tak boleh telat, beri contoh pada karyawan kita. " Andre.
"Ok. " Sean.
Andre bergerak menuju kereta bayi kemudian meletakkan Rayyan ke dalam kereta bayinya.
"Rayyan jangan cengeng ya. Jagain mommy dan kakak Raya," ucap Andre sambil mencium-ciumnya.
Rayyan tak bereaksi sibuk dengan mainan yang ada di kereta bayinya.
Andre kembali mendekati Raya
"Ray… " Kata-kata Andre terheo.
"Oek! " teriak Raya ketika Andre mendekatinya.
Mayang tersenyum ketika melihat reaksi Raya tersebut.
"Pasti Raya tahu tuh mas, kalau kamu mau cium dia, makanya sebelum disentuh, dia nangis duluan. " Mayang.
"Dasar kamu Ya, sepertinya kamu mau memaksa daddy untuk cukur brewokan daddy ya? Baru mau dicium, "tanyanya sambil mencubit pipi Raya yang chubby dan menggemaskan.
"Cukur saja daddy. " Mayang.
Andre mendekati Mayang, seperti biasa sebelum berangkat, Mayang selalu mencium punggung tangan suaminya dan di balas dengan kecupan di kening Mayang.
"Aku pergi dulu ya, Sayang. " Andre.
Begitupun Sean yang juga pamit pada anak istrinya.
"Ayo Sean! Kita berangkat sekarang! "Andre.
"Dada Daddy! " Mayang melambaikan tangan Raya.
"Dada Sayang! Jangan rewel ya, kasihan mommy. " Andre.
"Eh Tunggu! " seru Hesti
Sean dan Andre pun berhenti seraya menoleh ke arah Hesti.
"Ada apa? " tanya Sean.
"Ini, aku sudah siapkan bekal makan siang untuk kamu, " ucap Hesti sambil menyodorkan rantang susun tiga kepada Sean.
Sean dan Andre melongo melihat rantang yang berwarna warna warni dengan merek tutupWare tersebut.
"Ha ha, kamu pikir Sean anak TK apa yang di bekalkan makan siang pakai rantang segala, " ledek Andre.
"Eh, kakak ipar iri ya? tenang saja aku juga, sudah siapkan bekal makan siang untuk kakak ipar, " sahut Hesti.
Hesti meraih rantang yang di pegang oleh bi Inah, kemudian ia menarik tangan Andre agar menerima rantang makanannya.
Bola mata Andre seketika membulat sempurna. Ia semakin kesal saja dengan Hesti pagi itu.
'Untung saja kau adik ipar ku, kalau tidak sudah ku kerjai kau sampai kapok ' batin Andre, sambil menatap sinis ke arah Hesti.
Mayang hanya menyimpulkan senyum melihat Andre yang terlihat dongkol.
Sebelum kembali jalan, Andre menyenggol lengan Sean.
"Sean bilang pada istrimu kita ini seorang CEO, , tak pantas bawa bekal dengan rantang warna warni begini i Sean," bisik Andre.
"Gak Lah, biarkan saja,nanti dia ngambek. " ucap Sean seraya tersenyum.
Andre menggaruk rambutnya yang sudah disisir rapi. 'Satu lagi yang bikin wibawa ku turun. ' batinnya.
Keduanya berjalan menuju mobil seraya menenteng rantang tersebut.
Para bodyguard yang bisa mengawal Andre hanya bisa menahan senyumannya.
Bagaimana tidak, bos sombong dan arogan tersebut bukannya menenteng koper tapi malah menenteng rantang warna-warni, merah, pink dan ungu.
Meski merasa lucu melihat wajah sangar Andre yang begitu kontras dengan rantang yang di bawanya. Tapi mereka tak berani tertawa apa lagi menengurnya.
***
Sesampainya di kantor Andre meminta sang sopir untuk membawa kedua rantang tersebut langsung menuju ruangan mereka.
Karena mereka harus menghadiri rapat staf dan direksi pagi itu juga.
Andre dan Sean melangkah dengan gagah melewati koridor, dan hal itu memancing perhatian karyawan mereka.
Namun, mereka tak berani bertanya, hanya menyapa dengan sapaan.'Selamat pagi tuan saja. "
"Wah gawat, tuan Andre kenapa jadi dia, kupikir nagabonar saja jadi dia, tuan juga," ucap salah satu karyawannya.
"Hus, berdoa saja, semoga tuan Andre yang satu lagi gak ikut galak, kalau tidak habislah kita "
Mereka terus menatap ke arah punggung keduanya.
***
Alex berjalan memasuki ruangan Asisten CEO. Ia menghampiri Reza yang sedang sibuk memeriksa berkas laporannya.
"Za, lu sibuk gak? "
"Ngak lihat apa, gua lagi sibuk, " sahut Reza tanpa melihat ke arah Alex.
"Reyfan kemana ya Za? " tanya Alex lagi.
"Tau ke jonggol kali, " sahut Reza ketus.
"Lu kenapa sih Za? Sensitif banget, lagi datang bulan ya? Eh iya, gua lupa, lu kan udah manapose, mana bisa datang bulan lagi , He he," ucap Alex sambil tertawa terkekeh meledek Reza.
Reza tak menjawab hanya melirik sinis sekilas ke arah Alex. Ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Za, sarapan yuk . " Alex
"Lu pergi saja sendiri, gua sibuk nih. " Reza. Ia terlihat dongkol saat itu.
"Bentar saja yuk, ada yang ingin gua bicarakan sama kamu. " Alex
"Ngomong aja di sini kenapa sih. " Reza.
Yaudah, gua cuma minta pendapat lu.
Bagaimana menurut lu, kalau gua melamar Mirna? " tanya Alex dengan suara yang merendah.
"Gak boleh! " Reza.
Alex kaget mendengar jawaban Reza.
"Kok gak boleh Za? " tanya Alex bingung.
"Iya lu mau melamar, lamar saja Lex, emang gue ortulu mesti minta izin ke gua. " Reza.
"He he, kan gue cuma nanya, gitu aja sewot. " Alex
"Kebanyakan nanya lu, emang gue customer service," dengus Reza lagi sambil mengkutak katik laptopnya.
"Gua perhatikan dari tadi,seperti yang ada masalah ini luh Za.Kenapa sih? " tanya Alex.
Reza, menjauhkan tangannya dari keyboard, kemudian bersandar pada sandaran kursi.
"Gadis yang gua taksir direbut orang Lex.Padahal, baru saja gua mau menyatakan perasaan gua, " keluh Reza.
"Nah, gitu dong. Kalau ada apa-apa ya cerita, gak usah marah-marah. " Alex.
"Lu kelamaan kali nembaknya? Makanya keduluan orang. " Alex.
"Iya gua kan cari momen yang tepat, eh pas gua udah beli cincin, untuk nembak dia, eh dia malah menyodorkan gua undangan pernikahannya, apa ngak nyesek gua, " dengus Reza.
"Ha ha, ngak lengkuas ngak perempuan, suka bikin nyesek lu ya Za! " Alex.
"Diam lu! " Reza.
"Ya sudah Za, mungkin bukan jodohmu "
"Iya kali Lex," sahut Reza.
Hem,keduanya dikagetkan dengan kedatangan dua Andre.
Langsung saja mereka berdua berdiri.
"Selamat pagi Tuan! " Reza dan Alex.
"Selamat pagi Reza ,Alex, atur rapat direksi, Sebentar lagi saya akan perkenalkan salah seorang pemimpin baru kalian semua. " Andre.
"Siap Tuan! " Reza dan Alex pun keluar dari ruangan tersebut.
"Eh Za, gak salah denger, kembaran tuan Andre mau jadi pemimpin di sini? "Alex.
"Iya kali, lu ngak segar apa, tadi perintahnya. " Reza.
"Aduh semoga saja saudaranya gak aneh-aneh seperti tuan Andre ya, baru saja gua mau melamar Mirna. " Alex.
"Iya, baru saja cinta gua di tolak, kalau pemimpin baru kita diktator seperti tuan Andre, gak punya waktu untuk move on dong kita, " keluh Reza.
"habislah kita! Jadi bujang lapuk! "Seru Reza dan Alex serempak sambil menepuk jidatnya.
Bersambung, maaf upnya kemalaman ya reader. Tapi author bikin bab yang panjang nih biar puas bacanya meski satu bab. Thanks