
Seorang pengendara motor melihat kejadian tersebut, buru-buru menghampiri Ferdi untuk mengevakuasi tubuh Ferdi. Dibantu dengan beberapa pengendara lain yang juga berhenti ketika melihat kecelakaan tunggal tersebut terjadi.
Mereka membantu mengeluarkan tubuh Ferdi dari dalam mobil.
Saat itu Ferdi tak sadarkan diri dengan kening dan hidung yang mengeluarkan darah.
Mereka meletakkannya tubuh Ferdi untuk memeriksa keadaannya.
"Masih hidup! Ayo kita bawa kerumah sakit! " ucap seorang laki-laki yang melihat kecelakaan tersebut pertama kalinya, kepada beberapa pengendara lain.
"Tolong hentikan mobil lain untuk membawa korban! "
Satu orang meminta pertolongan dengan memberhentikan mobil lain.
Beberapa mobil lewat, tapi tak ada yang membantu.
Kerena bagian belakang mobil Ferdi berada di jalan raya. Beberapa orang pun membantu mengatur kendaraan di jalan yang mulai padat akibat pengendara lain yang coba untuk melihat.Jalan pun sempat macet.
Sebuah mobil berhenti dan bersedia membawa Ferdi ke rumah sakit terdekat.
Mobil tersebut kemudian parkir di tepi jalan. tak jauh dari tubuh Ferdi yang terbaring.
Kondisi jalan yang awalnya lenggang kini di penuhi kendaraan roda dua yang parkir sembarangan karena ingin melihat kondisi korban. Hingga terjadi kemacetan.
Saat itu mobil yang di kendarai oleh orang tua Ferdi juga berada diantara mobil yang terjebak kemacetan.
"Duh ada apa sih di depan Pi, kok macet sih?! kita bisa terlambat mengantar Ferdi nih! " dengus Mona sambil melihat-lihat ke arah depan.
"Sepertinya terjadi kecelakaan Mi, " sahut pak Bondan yang terus celingak celinguk ke arah depan.
"Pasti pengendara ngak bener nih! Ah bikin macet saja! mana buru-buru nih ke bandaranya. "
"Klakson aja Pak! " seru Mona pada sopir.
Sang sopir pun membunyikan klakson, agar mobil yang ada di depannya segera berjalan.
Mobil mereka pun berjalan lambat, secara perlahan mobil tersebut mendekati titik dimana terjadinya kecelakaan.
Mona melihat ke sisi kirinya seketika bola matanya membulat secara sempurna.Ia sempat syok.
"Pi! Itu mobil Ferdi Pi, hiks! " tunjuk Mona.
Pak Bondan pun melihat ke sisi kirinya.
"Apa yang terjadi pada Ferdi? "
"Iya Pi, itu Ferdi! " tangis Mona seketika, ketika melihat pakaian korban kecelakaan tersebut.
Sang sopir langsung menepikan mobil mereka, saat itu Ferdi masih tergeletak di atas rerumputan.
Kedua langsung turun dari mobil kemudian berlari kecil menghampirinya.
"Ferdi! " seru Mona sambil menerobos kerumunan tersebut.
Mereka dengan Hati-hati mengngakat tubuh Ferdi agar saat di evakuasi tak menambah cedera.
"Ferdi hiks. "Pak Bondan pun ikut meneteskan air mata ketika melihat keadaan Ferdi.
"Apakah dia putra anda Nyonya? "
"Iya Pak dia putra saya, hiks. Tolong pak, bantu bawa anak saya kedalam mobil. " Mona menunjuk mobilnya yang terparkir tak jauh dari mereka berdiri
Tubuh Mona gemetaran melihat putra semata wayangnya dalam keadaan kritis.
Ferdi di bawa ke dalam mobil orang tuanya kemudian segera di larikan di rumah sakit.
Di dalam mobil Mona terus saja menangis melihat keadaan Ferdi, karena takut akan di tinggal putra semata wayangnya.
"Ferdi sadar Nak, ini Mami Nak, " ucap Mona sambil mengusap kepala Ferdi.
"Cepat sedikit Pak! " Perintah Pak Bondan kepada sopirnya.
Mobil mereka segera melaju menuju rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, Ferdi langsung dilakukan pertolongan pertama. Setelah pemeriksaan lebih lanjut,
Tempurung kepala nya bagian depan retak akibat benturan keras. Ferdi pun harus menjalani operasi saat itu juga.
***
Mona dan Pak Bondan menunggu dengan gelisah di ruang operasi. Sesekali keduanya meneteskan airmata karena takut membayangkan jika putra mereka tak selamat.
Mona terus saja menangis seraya menyebut-nyebut nama putranya.
"Ferdi, semoga tak terjadi sesuatu padamu Nak, hiks. "
Beberapa lama mereka menunggu dengan ketegangan. Bahkan mona terus saja menangis
"Mi, sebaiknya kita hubungi Resti Mi, beritahu dia keadaan Ferdi saat ini, " usul Pak Bondan.
"Ngak Pi! Pasti gara-gara Resti, Ferdi jadi kepikiran hingga tak fokus berkendara. " Mona.
"Jangan seperti itu Mi, mereka itu suami istri, lagi pula sebelum berangkat Ferdi memang ingin menemui Resti kan? Mungkin memang benar Mi jika Ferdi mencintai istrinya. Sebagai orang tua kita harus mendukung anak kita, apalagi jika niat Ferdi baik. Ia ingin memperbaiki hubungan rumah tangganya. " Pak Bondan.
Mona langsung membuang wajahnya.
"Sudahlah jika kamu memang ngak mau menghubungi Resti, biar Papi saja yang memberi tahu keadaan Ferdi pada Resti, Semoga saja dengan hadirnya Resti, Ferdi bisa pulih dengan segera pulih. Jangan karena ego, kau mengabaikan kebahagiaan putra kita. "
Mona tetap kukuh pada pendiriannya. Ia tetap membuang mukanya. Meski begitu Pak Bondan tetap menghubungi Resti.
Bersambung, masih ada satu bab ya gengs, jangan lupa dukungan untuk author ya biar makin semangat🔛🔥
Author punya rekomendasi novel keren.
Dengan judul: Jangan salahkan takdir