Mengandung Benih CEO Kejam

Mengandung Benih CEO Kejam
Berangkat


Kehamilan Resti ini menginjak usia 3 bulan.


Resti dan Ferdi saat ini bersiap membereskan barang-barang mereka yang akan mereka bawa ke Amsterdam.


Mereka benar-benar akan mulai membangun rumah tangga dari nol kembali. Bahkan rencana Ferdi akan membuka restoran di negara tersebut. Menetap di sana, sampai mereka berhasil membuktikan kepada orang tua mereka, jika mereka yang sebelumnya Anak-anak manja bisa, berdikari di negri orang.


"Sudah selesai Sayang? " tanya Ferdi.


"Sudah semuanya Fer, sampai jam segini kok, orang tua kita ngak ada yang datang ya? " Resti.


"Mungkin mereka masih tak menginginkan kita untuk pindah "


"Lah bukannya orang tua mu yang menginginkan kau untuk kuliah di Amsterdam?" Resti.


"Entah, aku tak tahu juga, sebenarnya apa yang mereka inginkan. Ya sudahlah kita hampiri saja mereka di rumah . Masih ada waktu sebelum kita ke Bandara."


***


Setelah mengemaskan barang-barangnya, Mereka langsung menghampiri rumah orang tua Resti, karena hari sebelumnya mereka sudah ijin pada kedua orang tua Ferdi.


Resti mendatangi rumah orang tuanya, Kebetulan saat itu Adelia hendak keluar dari pintu.


"Resti, kamu mau kemana kamu? " tanya Adelia ketika melihat Resti menggunakan outfitnya.


"Aku mau pamit Mi, bukankah aku sudah bilang pada Mami, jika aku dan Ferdi hari ini akan berangkat ke Amsterdam. "


"Ha, Apa? Jadi juga kamu pergi?! " tanya Adelia dengan ketus.


"Ya jadilah Mi, kami sudah merencanakannya jauh-jauh hari kok. " Resti.


" Iya, tapi apa kamu yakin akan mengikuti Ferdi? kamu kan sedang hamil.siapa yang akan mengurus kamu nanti di sana. Bisa-bisa kamu nanti di sia-siakan oleh Ferdi. "


"Tapi kami sudah mutuskan membangun rumah tangga Kami di sana.Kami akan memulai hidup baru disana." Resti.


"Alah Paling juga satu bulan kamu juga sudah balik ke sini ,Mami tahulah seperti apa dan bagaimana Ferdi. " Adelia menatap sinis kearah Ferdi, kemudian membuang wajahnya.


Ferdi dan Resti jadi insecure karena terus-terus di pojokan, Adelia selalu mengungkit kesalahan yang pernah ia lakukan.


Sementara Adelia menatap kearah Resti, mencoba untuk menggoyahkan pendirian Putrinya tersebut.


"Dengar ya Rest,i kamu itu lagi hamil, bisa bisa kamu keguguran lagi seperti yang kemarin.Si Ferdi mah ngak merasa, kamu jangan dengarkan dia, mending kamu tinggal saja sama mami disini,Biarkan saja suami kamu pergi sendiri. Kamu pasti lebih aman klo jika tinnggal bersama kami di sini. "


"Mi, kami kedatangan kami kemari untuk meminta ijin pada Mami, harusnya Mami mendoakan untuk kebaikan kami, keselamatan kami, bukan menghasut Resti. " Ferdi angkat bicara


"Hm, kalian masih remaja saja sudah percaya diri sekali, Kita lihat saja paling dua bulan Hesti udah balik lagi kemari. " Adelia


"Terserahlah Mi, apa yang Mami katakan. Kami tidak punya banyak waktu, sekarang juga aku dan Ferdi akan berangkat ."


Ferdi dan Resti masuk ke dalam rumah untuk menemui Adiaksa.


"Resti, Ferdi? katanya kalian mau berangkat, kenapa ada di sini? " tanya Adiaksa.


"Kami berdua mau pamit, Pi. Kami mohon doa restu untuk keselamatan kami selama di perjalanan. " Ferdi.


"Tentu saja Ferdi, Sebagai orang tua kami akan mendoakan yang terbaik untuk kalian. Dan juga selalu ingin melihat kalian berdua bahagia .Ingat kalian sekarang punya tanggung jawab yang besar.Papi percayakan Resti pada kamu. Papi menyadari memang tidak mudah menikah di usia remaja, karena papi sendiri mengalaminya, tapi melihat kesungguhan kalian berdua, Papi hanya bisa mendukung dari belakang. " Adiaksa.


Keduanya tersenyum, Akhirnya ada juga yang percaya terhadap komitmen mereka.


"Terimakasih Pi. "Resti dan Ferdi memeluk Adiaksa secara bergantian.


"Ferdi, pesan Papi, Jaga istrimu, jaga anakmu, keluargamu karena mereka tak punya siapa-siapa kecuali dirimu disana."


"Iya kalau gitu silakan kaian pergi, Doa Papi akan selalu mengiringi langkah kalian, semoga tidak ada halangan yang bearti, semoga perjalanan kalian lancar hingga tiba di tempat tujuan dengan selamat.Kabari Papi setelah sampai di sana, sering-seringlah menelpon Papi. "


"Iya Pi. Kami pamit dulu. "


Mereka pun kembali menghampiri Adelia.


"Kami pamit Mi,mohon doa restunya," ucap keduanya secara bergantian sembari mencium punggung tangan Adelia.


Setelah bersalaman keduanya langsung menghampiri mobil yang menunggu mereka.


Adelia menatap sedih kepergian Resti, secara perlahan bola mata memerah dengan bulir bening meluncur di pipi keriputnya.


Wajah Adelia yang awalnya terlihat jutek perlahan berubah jadi sendu.


"Resti, jangan tinggalkan Mami Resti," ucapnya lirih.


Adiaksa menepuk pundak Adelia.


"Sudahlah, Mi. Mereka sudah dewasa, tak baik menghalangi niat baik, apalagi mereka sudah resmi jadi suami istri, kita berdoa saja untuk kebahagiaan mereka. "


"Hiks, tapi jika tak ada Resti, Mami pasti merasakan kesepian Pi" tutur Adelia sedih.


"Ngak usah sedih Mi, kan teman-teman sosialita Mami banyak. Mami jadi punya banyak waktu untuk mereka,harusnya Mami senang dong dan Mami ngak perlu pusing lagi mengurusi mereka. Si Resti ikut suaminya, Si Raga sekarang menjalani terapi di pesantren. Mungkin saja jika tinggal bersama orang lain, Anak-anak kita jadi bener. Karena kalau di rumah ngak ada yang sempat mengajari mereka, " sindir Adiaksa.


"Hikss hiks, Papi gimana sih, bukannya kasihan sama Mami, tapi malah terus-terus saja menyudutkan Mami. "


"Ya kalau sedih hibur diri sendiri saja Mi, dulu juga Papi gitu, waktu sedih dan susah hibur diri sendiri, karena anak dan istri sibuk dengan urusan masing-masing. " Adiaksa.


Adelia seperti di tampar dengan keras melalui penuturan suaminya yang terkesan lembut tapi menusuk itu.


"Papi, pergi ya Mi. " Adiaksa menuju mobilnya untuk berangkat kerja.


Sementara Adelia menatap sedih kearah depan, satu persatu orang meninggalkannya.


***


Resti dan Ferdi berada di dalam pesawat, saat itu pesawat mereka baru saja take-off.


Mereka berdua saling menggenggam tangan merasakan atmofir yang berbeda karena kini mereka akan menjalani suka dan duka secara bersama-sama.


"Semoga kita bisa menunjukkan kepada mereka Resti, jika kita bahagia hidup bersama, meski harus hidup di belahan dunia yang berbeda dari kedua orang tua kita. "


"Iya Ferdi, Sekarang aku letakan kepala ku hanya di pundak mu, "ucap Resti sambil meletakkan kepalanya di bahu Ferdi.


"Tenang saja, pundak ku ini sudah cukup kuat, aku sekarang sudah siap jadi kepala rumah tangga. Aku juga siap jadi suami dan ayah yang siaga," ucap Ferdi sambil mengangkat sikunya.


Resti tersenyum kemudian mendaratkan kecupan pada bibir Ferdi.


"I trust you. "


"You believe in me, or no one else you can trust. "


"Maybe. "


Keduanya pun tersenyum kemudian saling mendaratkan kecupan penuh cinta.


So sweet ngak sih mereka? He he atau author yang terlalu baperan karena kelaparan 😅😅😅🙏


Bersambung dulu ya. Sambil menunggu author up boleh mampir ke karya otor atau karya yang otor rekomendasi kan.