
Sean membuka matanya ketika mendengar suara tangisan bayi.Ia langsung menoleh kearah bayi mereka yang sedang menangis.
Sean tersenyum sambil merangkul bayinya tersebut.
" Oh Baby, Why are you crying? "tanya Sean.
Eak eak, ini adalah hari pertama Sean menjadi seorang ayah. Sean bangkit kemudian menggendong bayi tersebut.
Sean menggendong coba untuk membuatnya agar berhenti menangis. . Tapi bayi tetap menangis.
"Kenapa menangis? Kamu mau susu? " Sean meraih botol susu di sampingnya yang masih hangat.
Ia coba mengasuh sendiri anaknya tanpa membangunkan Hesti, padahal Hesti sudah sadar dan tersebut di balik guling.
Sean coba menyodorkan botol susu ke mulut bayinya tersebut, tapi bayi itu semakin menangis kencang.
Oek… oek.
Sean semakin bingung, ia masih mencari cari apa yang membuat bayi tersebut menangis.
Sean meraba bagian bawah bayi yang ternyata sudah penuh.
Ehm, ternyata ini yang membuat kamu menangis.
Ia kembali meletakkan bayi tersebut di atas tempat tidur. Sean menggaruk kepalanya yang tak gatal karena bingung ia sendiri tak tahu cara menggantikan popok bayinya.
Oek oek, bayi tersebut semakin menangis kencang. Membuat Sean harus bergerak dengan cepat.
"Cup, cup, diam ya, nanti mommy bangun. " Sean.
Pelan-pelan ia membuka kain yang membungkus bayinya tersebut, kemudian ia membuka celana bayinya, Sean sedikit jijik ketika melihat ada kotoran di dalam popok sekali pakai tersebut.
"Ehm, kamu poop ternyata. "
Hesti masih tersenyum di balik bantal guling, ia ingin melihat bagaimana suaminya tersebut menggantikan popok bayi mereka.
Dengan hati-hati ia melepaskan popok sekali pakai tersebut agar tak mengenai tangannya. di raih nya tisu basah untuk membersihkan kotoran yang menempel.
Meski lambat, akhirnya ia bisa juga membersihkan popok tersebut dan menggantikannya dengan popok yang baru.
Setelah di ganti bayi tersebut sedikit tenang. Sean menggendong bayinya sampai bayinya tersebut kembali terlelap.
Setelah itu, barulah ia meletakkan kembali bayinya di samping Hesti. Sean coba untuk kembali tertidur. Namun, ia kembali terbangun ketika merasa ada yang mengecup pipinya.
"Terima kasih Daddy, " ucap Hesti seraya tersenyum.
Sean membalas senyum Hesti, kemudian menariknya dalam pelukannya. " Tidur di sampingku,Aku masih kangen" ucap sambil mencium pipi Hesti lekat.
Hesti tersenyum seraya menarik tangan Sean agar semakin erat memeluknya dari belakang, sementara ia sendiri memeluk putranya.
Ketiganya kembali tidur dengan nyenyak.
Seperti halnya Andre, Sean juga ikut membantu mengurusi bayi mereka, meski tak serepot Andre.
"Sayang,Karena saat ini aku pengangguran,bagaimana menurutmu, jika aku membuka usaha, warung kecil-kecilan mungkin, seperti mini market? "tanya Sean pada Hesti.
"Boleh juga, aku sih terserah padamu saja." Hesti.
"Ya tapi, penghasilan ku, tak akan sama ketika bekerja sebagai kata-kata Red Eyes. "
"Gak masalah, yang penting aku merasa tenang, karena pekerjaanmu lebih halal dan lebih baik, jadi ingat nasehat kakek. " Hesti.
"Baiklah jika kau setuju, setelah anak kita aqiqah, aku akan cari ruko yang bisa dijadikan tempat usaha sekaligus tempat tinggal, kita akan mulai semua dari awal. "
"Okey ,setuju. " Hesti.
"Sudah siap, duh gantengnya anak mommy," ucap Hesti seraya mencium pipi bayi mungilnya.
"Yuk, kita jalan-jalan pagi! " seru Sean sambil meraih bayinya.
Karena baru beberapa hari, bayi mereka pun masih dibedong. Hesti memang lebih terampil mengurus bayi, karena pengalamannya ketika mengurus adik-adiknya dulu.
Ketika keluar dari kamar, mereka bertemu Andre dan Mayang yang juga dengan berada di luar untuk mencari angin segar untuk anak-anak mereka.
"Selamat pagi, kakak kakak ku yang cantik dan ganteng ini, " ucap Hesti sambil mencubit pelan tangan Raya pelan.
"Pagi juga dedek. Pagi-pagi udah ganteng aja. "
Raya langsung menyambar kain bedongan anak Hesti.
Anak Hesti yang tengah tertidur itu jadi kaget. Namun ia kembali tidur. Sementara Raya tangannya coba menggapai bayi tersebut.
"Eh Kak Raya, Kak Raya mau cium dedek kah? " tanya Hesti, Ia pun mendendekatkan bayinya pada Raya. Raya mengusap- ngusap bayi tersebut dengan tangan mungilnya.
"Tuh kan Kak Raya sayang sepertinya dengan dedek ya. " Hesti.
"Kalau abang Ray, sayang gak sama adek? " tanya Hesti sambil menyodorkan bayinya ke arah Rayyan yang di gendong Andre. Tapi tak ada reaksi sedikit pun dari Rayyan, bahkan menoleh pun tidak.
"Ih abang Ray, sok cool, " cetus Hesti.
"Sok cool, seperti daddy nya," sahut Mayang.
Mereka pun tertawa kecil melihat reaksi Rayyan yang memang seperti so cool tersebut.
Setelah berbincang-bincang sebentar, mereka menuju taman kemudian duduk di kursi dan meja yang terbuat dari sementara tersebut.
"Kalian sudah mempersiapkan aqiqah untuk anak kalian? " tanya Andre.
"Belum, tapi rencananya kami Gak mau bikin acara. Aqiqah cukup di pesantren kakek." Sean.
"Terus apa rencana kamu setelah ini Sean?" tanya Andre.
"Aku mau buka toko kecil-kecilan, seperti mini market gitu. " Sean.
"Menurutku sih kau harus belajar bisnis Sean. Kita punya banyak perusahaan dan jujur aku sendiri sudah kewalahan meng-handle semuanya. Lagi pula setengah dari aset ku adalah milik daddy. Jadi kau juga punya hak atas itu. " Andre.
"Sebenarnya aku kurang tertarik dengan bisnis sepertimu. Aku tak mengerti apa-apa soal bisnis. " Sean.
"Nanti juga kau pasti mengerti dengan sendirinya Sean, aku berharap hidup mu dan anakmu bisa terjamin di masa mendatang.Karena itu sudah tugasku sebagai saudara tertua. Kita hanya berdua saudara Sean. Kita tak punya orang tua lagi, jika bukan kau dan aku, siapa lagi yang akan meneruskan perusahaan peninggalan daddy ini. "
Sean sebenarnya tak tertarik, hanya saja ia menghargai niat baik Andre.
Sean melirik ke arah Hesti. Hesti pun mengangguk.
"Baiklah, kalau begitu besok kamu ikut aku ke kantor. " Andre.
"Besok?! " tanya Sean.
" Iya, kenapa?! belum siap?! " Andre.
Sean tersenyum melirik istrinya.
"Harus siap! " Sean.
"Nah gitu baru Andreas. Lihat saja apa pendapat karyawan ku jika mereka tahu ada dua Andre di kantor.Kita kerjai karyawan kita Sean. " Andre
"Jadi apa karena itu, kau menyuruhku untuk ikut dengan mu?! " tanya Sean dengan melotot.
"Hehe,tidak juga. Hanya saja, biar aku tak terlalu sibuk dengan pekerjaan ku saja, jadi aku punya banyak waktu untuk keluarga ku. " Andre.
Mayang mengerucutkan bibirnya. "Ternyata cuma modus . "
"Iya aku kasihan saja lihat Reza, Alex dan Reyfan. Mereka mengeluhkan kurangnya waktu luang bagi mereka, sampai-sampai hingga saat ini mereka masih jomblo semuanya. Ha ha ha. "
Andre tertawa, begitupun ketiga oray tersebut.
Sementara di waktu yang sama di lokasi yang berbeda, Alex, Reyfan dan Reza, mereka tengah menikmati sarapan pagi bersama, Tiba-tiba saja ketiga tersedak di waktu yang bersamaan.
"Uhuk uhuk .. sialan pasti si bos yang nyebut nyebut nama kita nih. " Reza.
" Siapa lagi orangnya kalau bukan bos yang nyebut kita dalam waktu yang bersamaan " Alex.
"Dah Yuk! cepat habiskan sarapannya, pasti bos lagi cari kita nih. " Reyfan.
Mereka pun mempercepat kunyahan mereka, apalagi Reza langsung menelan bulat-bulat telur puyuh hingga nyangkut di tenggorokanya.
Reza menggapai-gapai tangan meminta bantuan temannya untuk memberi minum.
"Lo kenapa Za?! muka lu sampai biru gitu? " tanya Alex sambil menatap wajah Reza.
Pak satu tamparan di pundak Reza, berhasil membuatnya memuntahkan telur puyuh tersebut, hingga meluncur ke wajah Alex.
Uhuk uhuk Reza terbatuk, Reyfan segera memberikan minum dengan segera Reza meneguknya sampai habis segelas. Sementara Alex cuma bisa mendongkol sambil mengelap cipratan yang keluar dari mulut Reza.
"Anjir! Gue kira lu sedang sakaratulmaut tadi muka lu udah biru, ternyata cuma keselek telur puyuh, " dengus Alex.
"Emang apes ya, kalau nuduh bos pagi-pagi, " ucap Reza terbata bata mencari nafas.
"Mungkin karena kita gak punya orang tua ya, jadi kalau kualat sama bos, langsung kontan dapat karma! "Reza.
"Iya berdoa saja luh, biar si bos ngak nyumpahin lu jadi batu.Kan gawat klau beneran terjadi, kasihan. " Alex.
"Kasihan sama siapa, Sama Reza apa sama si bos? " tanya Reyfan lagi.
"Kasihan makin kundang, kalah famour sama Reza! " cetus Alex, mereka pun kembali mentertawakan Reza.
Bersambung, seperti janji otor up dua episode. Mohon tetap dukung otor ya, like, komen, vote atau hadiah, Seikhlasnya saja 🙏😊😊