Mengandung Benih CEO Kejam

Mengandung Benih CEO Kejam
Over Dosis


"Hoh...Tidak! Raga! hiks hiks" tangis Adelia sambil menepuk-nepuk pipi Raga.


Mereka semua menangis, takut, panik dan tak tahu apa yang harus di lakukan.


Di dalam kamar tersebut ada sebuah pom yang di gunakan sebagai alat hisab sabu, korek api, dan beberapa puntung rokok, serta ceceran seperti bubuk putih.


Pak Satpam langsung meriksa denyut nadi Raga.


Saat itu detak jantung Raga terdengar cepat. dengan bola mata hitam yang naik ke atas.


"Raga! "Hiks semua menangis melihat Raga yang kejang seperti dalam keadaan sakratul maut.


"Dia masih bisa di selamatkan, seperti kejadian ini baru saja terjadi. Karena Raga telah mengenakan pakaian seragamnya. " Satpam.


Mendengar penuturan satpam tersebut mereka sedikit senang.


Adelia menghapus titik air matanya ia sedikit lebih tenang tak sepanik sebelumnya.


"Hiks hiks, ayo kita bawa dia ke rumah sakit hiks.l! " titah Adiaksa pada satpam.


Adiaksa dan pak Satpam langsung mengangkat tubuh Raga dengan hati-hati dan menopang nya, kemudian membawanya keluar kamar, menuruni tangga, dan menuju mobil, mereka pun langsung menuju rumah sakit.


Sementara Adelia sudah merasa lemas, tubuhnya bersandar pada tubuh Resti yang memeluknya.


"Raga hiks, hiks. " sesekali terdengar tangis Adelia karena tak percaya jika anak kesayangan bisa terjerumus dengan barang-barang haram tersebut. Selama ini ia selalu percaya sepenuhnya pada putra-putrinya.


***


Adelia masih menangis di dalam mobil sambil memeluk putranya tercinta.


"Raga hiks, kenapa kamu seperti ini Nak?" tangis Adelia sambil mengusap kepala Raga yang berada dalam pangkuannya.


Mendengar pertanyaan Adelia, Adiaksa kembali tersulut emosi.


"Ini semua karena Mami juga sih! Mami Ngak pernah perhatian sama anak-anak, Mami selalu sibuk dengan geng sosialita mami yang ngak berfaedah tersebut! Anak pakai obat-obatan terlarang saja ngak sadar! "Omel Adiaksa.


Adelia tak Terima karena merasa di salahkan oleh suaminya.


"Hiks, Papi kenapa sih selalu menyalahkan mami! Papi sendiri ngak pernah peduli! sibuk kerja. Sekarang Raga seperti ini malah menyalahkan Mami! Hiks. " Adelia.


"Raga bangun dong Raga! jangan tinggalkan mami Nak. " Adelia kembali menangis seraya mencium kening Raga.


"Setelah anak over dosis baru menyesal! " Imbuh Adiaksa kembali dengan penuh emosi.


"Udah dong Mami, Papi! jangan saling menyalahkan, Raga saat ini butuh pertolongan. " Resti coba menengahi, akhirnya keadaan di dalam mobil tersebut lebih tenang.


Adiaksa semakin laju membawa mobil mereka. Sepuluh menit mereka pun tiba di rumah sakit langsung menuju ruang UGD dan Raga langsung mendapatkan penanganan.


Adelia menangis memeluk Resti." Mami takut terjadi sesuatu pada Raga Resti, Hiks hiks hiks."


"Tenang saja Mami, Raga pasti baik-baik saja," tutur Resti yang coba menenangkan Adelia. Sementara Adiaksa mondar-mandir di depan ruangan dimana Raga mendapatkan pertolongan.


Setelah setengah jam, seorang suster datang menghampiri Adiaksa.


"Pak, saat ini keadaan pasien dalam keadaan kritis. Beruntung pasien bisa di selamatkan. Terlambat sedikit saja kemungkinan pasien bisa meninggal. Karena tekanan darah dan denyut jantung mengalami peningkatan, di duga pasien mengalami pendarahan otak saat terjadi over dosis."


Adiaksa mengusap dadanya." Raga, Hiks. "


Mendengar hal tersebut Adelia kembali menangis.


"Lalu apa yang akan terjadi suster pada anak saya? " tanya Adelia.


"Banyak kemungkinan terjadi nyonya, kita tunggu saat pasien sudah sadar, dan ketika sadar pun pasien harus menjalani rehabilitasi "


Tanpa sadar bulir bening menetes di pipi Adiaksa.


"Raga hiks. "


Bersambung.


Reader maaf ya hari ini author up dikit, plus kasih visual aja ya.Karena senin author harus crazy up, ganti crazy up kemaren yang gagal 😍😘😘🙏


Mayang



Andre



Sean



Resti



Ferdi