Mengandung Benih CEO Kejam

Mengandung Benih CEO Kejam
Keputusan Steven


Hesti  dan Mayang berada di kamar bayi mereka. Mereka memang tak memiliki pengasuh bayi. Kedua biras tersebut saling membantu menjaga anak-anak mereka. Sudah dua hari ini mereka tidur sekamar. 


Baru saja terlelap dari menggantikan popok salah satu dari bayinya. Mayang kembali tersadar karena mendengar suara tangisan bayi Hesti. 


Hesti yang masih begitu lemah tersebut, kembali sadar kemudian bangkit untuk menyusui bayinya. 


Mayang melirik ke arah Hesti, ia pun ikut bangun karena melihat Hrs yang meneteskan air mata sembari menyusui anak mereka. 


"Hesti, kamu kenapa? " tanya Mayang. 


Hesti hanya menggeleng lirih


"Hesti, kamu pasti masih memikirkan suami kamu ya? " tanya Mayang. 


Ia pun mengangguk kembali. 


"Aku masih khawatir terhadap suami ku kak, bagaimana nasib kami, sekiranya terjadi sesuatu pada suami ku, tutur nya dengan air mata yang berlinang. "


"Kamu tenang saja Hesti. Suami kamu Insha Allah selamat. Suami ku sedang berunding dengan pemimpin Red Eyes semoga ada kabar baiknya setelah ini. " Mayang. 


"Iya Kak, tapi kenapa kakak ipar belum juga kembali. Apa ada kabar terbaru darinya? " tanya Hesti. 


"Kita tunggu saja kabar baiknya. " Mayang. 


"Sekarang sudah larut malam, ayo kita beristirahat. " Mayang. 


"Tak baik terus bersedih, lihat lah anak mu jadi rewel kan. " Mayang. 


"Iya Kak. " setelah itu mereka pun kembali tidur. 


Hesti hanya menutup matanya, ia pura-pura tertidur, padahal saat itu ia tak bisa tidur, meski matanya begitu mengantuk. 


****


Sementara itu di markas Red Eyes dan Black Eyes


Andre menunggu jawaban Steve, satu menit telah berlalu. Namun, Steve masih diam menatap layar monitor raksasa yang ada di hadapannya. 


Duar..tiba-tiba saja, satu ledakan terdengar hingga membuat orang-orang yang berada di gedung tersebut kaget. Ledakan memang tak seberapa besar. 


Andre menatap Steve yang masih belum memberikan jawabannya. 


Menit kedua berlalu dengan cepat. 


Duar ledakan kedua.. Terjadi tepat di pergantian menit berikutnya. 


"Ayo Steve, apalagi yang kau tunggu, mereka tak main-main. " Leon. 


Duar.. Kali ini ledakan lebih besar terdengar di menit ketiga. Ledakan yang cukup besar tersebut bahkan sampai mengguncang markas Red Eyes. 


Anggota Red Eyes lainnya yang masih berada di gedung tersebut menjadi panik. Mereka pun berlarian menghampiri ruang dimana Steve berada. 


"Tuan Steve,ada apa ini?! " seru mereka. 


Steve menoleh kearah anggota Red Eyes yang berlari menghampirinya. 


Mereka bermaksud meminta perlindungan Steve, karena mereka juga takut untuk keluar dari gedung tersebut. 


Duar ledakan keempat, tepat di menit ke empat. 


Steve semakin resah, jika ia menyerahkan Sean, itu berarti Red Eyes mengaku kalah terhadap Black Eyes. 


Tinggal sepuh detik waktu tersisa.


"Ledakan yang terakhir, maka akan kupastikan markas Red Eyes akan rata dengan tanah! " ucap Andre sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. 


Empat.. Tiga.. Dua.. 


"Baiklah! Aku kembali kan Sean kepada mu! " Seru Steve. 


Leon dan beberapa anggota Red Eyes lainnya bisa bernafas lega. 


Ledakan terhenti. 


"Ok, Aku tunggu kau kembalikan Sean dalam waktu dua puluh empat jam dari sekarang! Jika Sean sudah ada bersama ku, Aku janji akan ku kembalikan semua anggota Red Eyes yang jadi tawanan ku, berikut surat perjanjian damai! Sean bukan lagi anggota Red Eyes. aku janji, tak akan menggunakan kemampuan Sean, untuk kepentingan Black Eyes! "


"Setuju! " Steve. 


"Jika begitu! Konferensi ini berakhir! Aku tunggu Sean di bandara Jakarta dalam keadaan selamat! " Andre. 


Beberapa detik kemudian, layar monitor dihadapan nya mati. 


Steve mengepal tangannya dengan kesal. 


"Baik! " Leon dan James bergegas meninggalkan tempat tersebut. Mereka tak boleh terlambat sedikitpun. Jika di total perjalanan udara memakan waktu dua puluh tiga jam dari tempat mereka saat ini. Itu berarti saat ini juga mereka harus membawa Sean pulang. 


Steve duduk dengan memeluk kedua lututnya. Saat ini ia merasa khawatir terhadap istrinya. Sean juga merasa rindu untuk memeluk putranya tersebut. 


Maklum saja, sejak lahir, baru sekali ia melihat putranya. 


'Kapan aku bisa keluar dari tahanan ini? 'Batin Sean. 


Saat sedang dilanda rindu, dua orang rekan Sean datang menghampiri nya dengan membawa kunci gembok yang berlapis-lapis tersebut. 


"Sean keluar lah. Saat ini juga, aku yang akan mengantarmu pulang. " Leon. 


Sean heran, belum dua puluh empat jam ditahan, ia sudah dibebaskan. Sementara Benert juga ikut heran, melihat Sean yang keluar dari ruang tahanan tersebut. 


"Hei! Mengapa kalian lepaskan dia?! Lepaskan juga aku! " teriak Benert. 


Sean tak bertanya apapun kepada mereka. Ia tahu, jika ini semua karena Andre. 


Sean langsung dibawa menuju bandara, dengan menggunakan pesawat jet milik Red Eyes. 


***


*****


Menjelang dini hari. 


Andre kembali ke rumahnya setelah melakukan pertemuan secara daring bersama Steve dan beberapa pemimpin Black Eyes. 


Ia mencari keberadaan sang istri yang tak berada di kamar. Selama hampir dua hari ini Andre memang tak tak berada di rumah, sejak mengantar Hesti dari rumah sakit, ia langsung ke markas Black Eyes untuk mengatur strategi. 


Andre menuju kamar bayi mereka, dan dilihat Hesti dan Mayang tidur di antara bayi-bayi mereka dengan dua tempat tidur mereka satukan agar lebih lebar dan cukup untuk mereka berlima. 


Hesti bangkit ketika melihat Andre. 


"Kakak ipar," sapa Hesti. 


"Hesti kau belum tidur? " tanya Andre. 


Mayang yang mendengar suara Andre pun ikut terbangun. 


"Kakak ipar, bagaimana dengan suami ku? "tanya Hesti. 


"Tenang saja. Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam suamimu akan kembali dalam pelukanmu. "


Hesti menatap Andre dengan tatapan mata yang berbinar. 


"Benarkah kakak ipar? " tanyanya haru sambil menghapus air matanya. 


"Benar Hesti, saat ini Sean mungkin sedang dalam perjalanan pulang. " Andre. 


Bagaimana tersiram air setelah dahaga, Betapa bahagianya Hesti mendengar berita itu. 


Ia pun meraih tangan Andre kemudian mencium telapak tangan saudara iparnya tersebut. 


"Terimakasih kakak ipar. Aku tak tahu harus bagaimana caranya berterima kasih pada mu, hiks. Hiks." 


"Apa yang kau katakan Hesti, kita keluarga. Keluarga harus saling membantu dan saling menjaga. "Andre.


Hesti tersenyum kearah Mayang, yang juga tersenyum ke arahnya. 


"Itu semua karena doa tulus mu sebagai seorang istri Hesti. Sekarang kamu sudah merasa tenang kan? "


"Iya kakak ipar, terima kasih. Tapi rasanya aku sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan suami ku. " Hesti. 


Andre tersenyum. "Aku mengerti, tapi sebaiknya kau cepat tidur. Karena aku juga sudah rindu pada istri ku, " ucap Andre seraya menghampiri istrinya. 


Hesti mengerucutkan bibirnya melihat Andre yang mencium mesra Mayang. 


Ia pun menarik selimut, kemudian kembali merebahkan diri, agar tak iri melihat kemesraan mereka berdua. 


Meski hanya pelukan dan kecupan kening yang diberikan Andre terhadap istrinya , bagi Hesti itu sudah membuat tersiksa. Karena ia sedang merasakan kerinduan pada hangatnya pelukan sang suami. 


Puas meluapkan rindu terhadap sang istri, Andre beralih mencium dua bayi mungilnya. 


'Tak ada yang lebih membahagiakan daripada kembali kerumah dan bertemu anak istri, batin Andre. 


Malam itu mereka beramai-ramai tidur dalam satu kamar. 


Bersambung dulu ya reader. Belakang ini cerita ini seperti mini seri ya, cuma bisa up satu bab. Tapi mau bagaimana lagi, otak otor udah terkuras karena kesibukan sehari-hari 🙏😅😅dari ada asal nulis, lebih baik dikit tapi berkualitas 😅😅😅semoga terhibur.


Assalamu'alaikum wr, wb