Mengandung Benih CEO Kejam

Mengandung Benih CEO Kejam
Kembalinya Sean


k ingin itu terjadi lagi, karena sekarang aku memiliki tanggung jawab yang lebih besar, yaitu menjaga keluarga ku, mereka lebih membutuhkan ku saat ini, " Sean. 


"Kau punya anak dan  istri? " Leon seolah-olah tak percaya. 


"Iya. "


"Aku ikut bahagia mendengarnya. " timpalnya dengan seulas senyum tulus. 


"Sebenarnya, aku pun merasakan hal yang sama Sean, Ada kekosongan yang ku rasakan ketika hidup sendiri seperti ini. Aku memang bisa membeli wanita untuk melayani ku. Namun, hidup terasa hampa. Tak ada sesuatu yang membuat ku terlalu bahagia."


"Belum terlambat Leon, kau juga bisa memilih hidup normal sebagai mana mestinya. Seorang mafia, ataupun orang biasa, tetap saja kita diciptakan memiliki hati, iya kan? " Sean. 


"Ha ha kau benar Sean." Leon menepuk pudak Leon. 


"Semoga suatu saat, aku menemukan seorang wanita yang membuatku berani untuk melepaskan diri Red Eyes, jujur saja, aku belum punya nyali untuk melepaskan diri dari Red Eyes. Mungkin suatu saat aku akan memiliki keberanian tersebut. "


"Ha h ha, Sebelumnya kau berdoa saja, semoga Steve, di pertemuan dengan seorang wanita yang membuatnya jatuh cinta, hingga ia tak memberlakukan aturan yang kaku terhadap anggotanya. " Sean. 


"Iya semoga saja begitu. " Leon. 


Ha ha, mereka tertawa membayangkan seorang Steve jatuh cinta. 


Leon, Steve dan Sean sendiri sebenarnya mereka satu angkatan saat perekrutan pelatihan anggota baru Red Eyes. 


Setelah mengobrol panjang mereka pun beristirahat, perjalanan tersebut memang memakan waktu hampir sehari semalam. 


Sean tersenyum membayangkan jika sebentar lagi ia akan dipertemukan dengan anak dan istrinya yang begitu ia rindukan. Mimpinya untuk membangun keluarga kecil yang bahagia segera terwujud tanpa ada bayang- bayang Red Eyes lagi.


Setelah mendarat di Sarawak, Malaysia, Sean dibawa kembali dengan menggunakan helikopter untuk sampai ke tanah air. 


Helikopter mendarat di Helipad markas Black Eyes. Saat itu Andre sudah menunggu kedatangan saudaranya. 


"Selamat datang kembali Sean, " ucap Andre sambil merentangkan tangannya. 


"Terima kasih, saudara ku. Kau memang hebat, aku bangga pada mu. " Sean


Mereka pun saling mengurai pelukannya. 


"Karena kau baru tiba, setelah ini aku akan menjamu mu makan di restoran mewah, "pancing Andre untuk menggoda Sean. 


"Sebaiknya kita langsung pulang Karena aku sudah sangat rindu anak istri ku. " Sean. 


"Ha ha, aku juga rindu anak istri ku! Ayo kita pulang ke rumah! " Andre merentangkan tangannya merangkul saudaranya. 


Setelah menandatangani surat perjanjian damai antara Red Eyes dan Black Eyes, Sean dan Andre segera pulang ke rumah, karena mereka masing-masing merindukan pasangannya. 


***


Mayang mendorong stroller bayinya menuju kamar Hesti. 


Kebetulan saat itu pintu kamar Hesti terbuka, Hesti sedang merapikan tempat tidurnya. 


Setelah tiga hari ia tak tidur di kamarnya. 


Dengan bersenandung Hesti merentangkan sprey barunya. Mayang masuk ke kamar sambil mendorong stroller bayinya. 


"Assalamu'alaikum, duh Hesti, kamu seneng banget keliatannya, " tegur Mayang. 


"Seneng dong Kak, sebentar lagi suamiku pulang, " sahutnya dengan wajah cerahnya yang bersinar. 


"Iya, seneng sih seneng, tapi jangan sampai kebablasan ya. Ingat loh kamu masih dalam masa nifas. "


"Enggak lah kak, aku tahu. Ini saja aku belum lupa bagaimana rasa sakitnya melahirkan. " Hesti. 


"Ha ha ha, Syukurlah kalau begitu. " Mayang tertawa kecil, maklum saja ia tahu betapa polosnya Hesti. 


"Assalamualaikum! " 


Terdengar suara orang yang memberi salam. 


"Kak, itu sepertinya suara suami ku! Ayo kita keluar! " Hesti. 


Hesti meraih anaknya, kemudian menggendongnya. Ia berjalan cepat hendak menghampiri suaminya. 


Baru saja Mayang mengatakan hal tersebut, Sean sudah ada di depan pintu kamarnya. 


"Beib! " sapa Hesti dengan bola mata yang berembun. 


"Iye Beb," Sean langsung menghampiri Hesti dan memeluknya. 


Tangis haru pun pecah seketika. Rasa rindu dan khawatir yang dirasakan oleh Hesti,kini terlarut sudah, berganti dengan perasaan bahagia yang tiada tara, ketika melihat seseorang yang begitu ia khawatirkan, begitu ia  cinta kini ada di depan mata. 


"Hiks, Beib, aku kangen Beib. " Hesti menangis memeluk Sean. 


"Aku juga kangen Beib. " 


Sean mencium pucuk kepala sangat istri dengan bertubi-tubi. 


"Jangan pergi lagi ya Beib. " Hesti. 


"Iya Beb, aku tak akan kemana-mana lagi, aku akan selalu ada bersama kamu menjaga anak kita. "


Keduanya memeluk semakin erat. 


Eak, eak.  Bayi mereka menangis, mungkin karena terdesak oleh tubuh kedua orang tuanya. 


Setelah cukup lama saling memeluk dan mengungkapkan rasa, Sean mengurai Pelukannya. 


Dilihatnya putra kecilnya yang tampan yang sedang menangis, seolah-olah ikut merasakan bahagia atas pertemuan mereka. 


Sean hampir menangis ketika melihat putranya tersebut, Langsung saja ia menggendong dan mencium bayi yang baru berusia beberapa hari tersebut. 


Sean tak membayangkan, bagaimana jika ia tak selamat waktu itu. Pasti putranya akan kehilangan sosok sang ayah. 


Seperti mengerti bayi tersebut terdiam saat Sean menimangnya. 


"Sayang, maaf Daddy baru bisa menggendongmu, tapi mulai saat ini Daddy janji akan menggendongmu setiap hari, kita akan bermain bersama setiap hari, kamu mau ya. " 


Eak eak


"Terima kasih karena sudah  menjaga mommy." Sean tak henti-hentinya mendaratkan kecupan pada bayi munggilnya itu. Ia begitu bersyukur dapat kembali ke keluarga kecilnya yang bahagia. 


Hesti kembali mendekati Sean kemudian kembali memeluknya, Tangan Sean pun merangkul istri dan anaknya, setelah perpisahan, keluarga kecil tersebut akhirnya kembali berbahagia karena bisa berkumpul bersama lagi. 


Andre dan Mayang ikut merasakan kebahagiaan yang mereka rasakan, bahkan Mayang sampai meneteskan air matanya. 


"Ayo Sayang, kita keluar dari ruangan ini, jangan ganggu mereka. " Andre menarik tangan Mayang, sambil menarik trolli bayinya. 


"Iya Mas, aku ikut bahagia melihat mereka.Setelah berhari-hari melihat Hesti menangis. "


"Aku juga sudah berhari-hari tak dapat jatah, " cetus Andre seraya menatap Mayang dengan tatapan mesum. 


"Ehm dasar mesum!" ucap Mayang seraya mendelik. 


"Alah kamu pasti juga kangen kan sama aku? " Andre. 


"Hi, Iya Mas, aku juga kangen sama kamu. Tapi nanti saja ya. Sekarang bantu aku menyuapi anak mu. "


"Setelah itu kita kangen-kangenan?! " tanya Andre seraya menaik turunkan alisnya. 


"Gak, tetap jatah kamu nanti malam! " Mayang. 


"Ya, nasib-nasib, harus nunggu beberapa jam lagi. " Andre. 


"Sabar ya daddy! " Mayang. 


"Iya, daddy siap ngalah kok untuk kalian semua. " Andre. 


"Gitu dong, itu baru suami dan ayah siaga. " Mayang. 


Andre merangkul sang istri menuju kamar mereka. Rasa penat dan lelah Andre hilang seketika ketika ikut membantu sang istri mengurus buah hati mereka. 


Bersambung dulu ya guys. 


Minta saran dong gengs, Rencananya author mau bikin cerita cinta anak-anak mereka di buku berbeda,kalau di sambung di buku ini terlalu panjang, takutnya akan membosankan,bagaimana menurut para reader semua he he ? 🙏🙂