
Seorang laki-laki berperawakan tinggi sekitar 180 cm keluar dari ruang tersebut.
"Sialan bisa-bisanya Mr Franklin bekerja sama dengan orang itu. Dia belum tahu siapa aku. "
Pria bernama Jacky tersebut meraih gawai yang terselit di balik saku toksedo-nya.
" Black, aku ingin kau menghabisi seseorang, " ujarnya seraya berjalan melewati koridor hotel tempat pertemuan tersebut.
" Siapa Tuan? " tanya suara berat dari sambungan teleponnya.
" Nanti akan ku kirim profilenya. Siapkan saja persenjataan mu. " Jacky keluar dari hotel diikuti dua orang pria yang bertubuh kekar, dengan bibir tebal dan hidung mancung dan serta kulit hitam.
Jacky segera mencari tahu tentang Andre, melalui perusahaannya.
Dalam sekejap saja, ia bisa menemukan profil Andre.
" Andre Mahesa, " gumamnya.
Jacky mencari data lengkap perusahaan tersebut. Senyumnya menyeringai ketika mendapatkan apa yang ia inginkan.
***
Andre dan Mayang sudah bersiap untuk check out di hotel.
Selama di Las Vegas, Andre hanya di kawal oleh dua orang bodyguard saja.
Setelah melewati lobby mereka segera menuju mobil jemputan.
Keduanya masuk ke dalam mobil.
Mobil meluncur menuju bandara.
" Sayang, kamu mau beli sesuatu lagi, sebelum kita ke bandara? " tanya Andre sambil merentang tangannya ke bahu Mayang.
" Ehm boleh Mas, aku lupa beli sesuatu untuk ayah. "
" Kamu mau beli apa, untuk ayah ? "
" Jam tangan saja, untuk ayah dan ibu."
" Okey sayang. Pak kita ke toko jam tangan sekarang. "
Mobil memutar arah, menuju sebuah pusat penjualan jam terkemuka di kota tersebut.
Setelah berjalan selama sepuluh menit, mereka pun tiba di sebuah toko arloji.
Mayang dan Andre turun. Mereka mulai memilih-milih sepasang jam tangan untuk kedua orang tuanya.
Sekitar setengah jam berada di toko, mereka pun keluar dari toko.
Seperti biasa, mereka dikawal oleh dua orang bodyguard.
Salah seorang bodyguard kembali membuka pintu untuk Mayang.
Tiba-tiba saja terdengar sebuah tembakan
Dor..
Andre yang kaget langsung menoleh ke arah sumber tembakan.
" Kejar orang ! "Perintah Andre.
Tembakan tersebut memang tak mengenai dirinya, tapi itu adalah sebuah ancaman untuk keselamatan mereka.
Langsung saja dua bodyguard tersebut mengejar seseorang yang baru saja menembakkan pistol ke arah dirinya.
Orang tersebut terlihat lihai sekali, ia berlari melewati lalu lalang mobil-mobil yang yang tengah melintas.
Begitupun bodyguard Andre yang mengejarnya.
Penembak tersebut sempat tertabrak mobil yang melintas, ia pun terpelanting beberapa meter, seperti memang memiliki keterampilan tersendiri.
Setelah berada di ujung jalan, sebuah mobil sudah menunggu penembak tersebut.
Mobil itu langsung melaju membawa Si penembak.
***
Saat hampir bersamaan.
Dor...satu tembakan tercetus lagi.
Tiba-tiba Andre merasakan tubuh Mayang terkulai. Dengan dada yang mengeluarkan darah karena tak tertembus peluru.
" Sayang! " seru Andre dengan sedih. Andre langsung menyambar tubuh istrinya.
"Sayang!" Andre gemetaran ketika melihat istrinya menutup matanya.
" Sayang, bangun Sayang?!" teriak Andre dengan panik, tubuhnya terguncang ketika melihat Mayang tak sadarkan diri.
Tubuh Andre gemetar, memeluk tubuh istrinya, dengan bola mata yang memerah dan dengan perlahan bulir bening pun menetes di pipinya.
" Sayang! Siapa yang telah melakukan ini? " Andre merangkul memeluk istrinya.
Ia tak lagi peduli,seketika ia menangis tergugu.
Mobil langsung meluncur menuju rumah sakit terdekat.
" Yangk sadar, Yank," ucap Andre sambil menepuk-nepuk pipi Andre.
Mobil Andre melaju melewati jalan raya.
Setibanya di rumah sakit,Mayang langsung ditangani. Ia harus di operasi untuk mengangkat selongsong peluru yang menembus dada bagian kanan.
***
Andre mondar-mandir di depan ruang operasi. Perasaannya begitu gelisah, karena begitu mengkhawatirkan keadaan Mayang.
Setelah satu jam, operasi pun selesai.
Suster dan beberapa tenaga medis keluar dari ruang operasi dengan mendorong tempat tidur Mayang.
" Bagaimana keadaan istri saya? " tanya Andre dalam bahasa Inggris.
" Pasien masih dalam keadaan kritis, ia masih mengalami pendarahan pada luka bekas operasi tersebut. Peluru yang menembus dada pasien adalah peluru tajam yang bisa berakibat fatal."
Mendengar hal itu Andre langsung lemas. Tangannya mengepal dengan erat dengan tubuh yang masih gemetaran.
Mayang kembali dibawa keruangan intensif untuk dirawat.
***
Sementara itu, dua bodyguard langsung menelpon Andre.
" Hallo, tuan. "
" Bagaimana dengan penembak itu?! " tanya Andre dengan geram.
" Kami tak bisa menangkapnya tuan, tapi kami menemukan petunjuk, siapa yang telah melakukan penembakan tersebut."
"Siapa?! " tanya Andre dengan rahang yang mengeras.
" Kami menemukan pin milik anggota Red Eyes tuan. Pin tersebut tak sengaja jatuh , ketika sebuah mobil menabraknya. Kami juga sempat mencatat nomor plat mobil yang membawanya lari penembak tersebut. "
" Telusuri segera! Akan ku buat perhitungan yang tak main-main! "
Tatapan mata Andre nanar melihat kearah depannya.
Kemudian ia kembali menoleh ke arah istrinya yang terbaring.
Wajahnya seketika berubah sedih, melihat wajah pucat Mayang dengan beberapa alat bantu kesehatan menempel pada bagian tubuhnya.
" Sayang, bangun Sayang. Kasihan anak-anak kita sayang, " ucap Andre memelas seraya memeluk tubuh istrinya.
Mayang adalah kekuatan dan kelemahan nya, ketika Mayang tak berdaya, ia juga ikut tak berdaya.
Andre memeluk Mayang sambil menangis, " Sayang, bangunlah sayang. Aku tak bisa hidup tanpa kamu, " ucap Andre seraya mencium seluruh bagian wajah istrinya.
Andre benar-benar merasa tak berdaya, ia seolah kehilangan semagat dan keperkasaanya. Tak sedetik pun ia meninggalkan Mayang pada saat itu.
***
Sebelum kejadian Jacky mendatangi markas Red Eyes, yang berada di kota Las Vegas.
Markas tersebut dipimpin oleh Black, ketika mengirim profil Andre, Black sendiri tak mengetahui jika Andre Mahesa sebenarnya Adalah Andre William Adam.
Nama Andre diubah dari Andre William Adam menjadi Andre Mahesa, sejak Andreas menghilang. Agar di dunia hitam Andre dikenali.
Beberapa perusahaan Andre pun ditelusuri oleh orang suruhan Jacky, dan memang tak ada hubungan antara perusahaan Andre dengan perusahaan peninggalan Adam Williams. Mereka mengira jika Andreas William Adam itu adalah Andre yang begitu di takuti di oleh Red Eyes dan Black Eyes.
Karena itulah, Jacky dan Black berani mencelakai Andre.
Black mengatur strategi, ia menyuruh dua orang laki-laki untuk melakukan penembakan kepada Andre.
Satu penembak berada di sisi kiri mereka, tembakan tersebut hanya sebagai pengalihan perhatian dua bodyguard Andre. Dengan peluru hampa ia menembak pada bagian mobil Andre.
Sedangkan satu orang yang berada di lima puluh meter dari arah kiri lah yang melakukan eksekusi.
Ketika Andre menoleh ke arah penembak pertama, eksekusi pun dimulai.
Rencana semula, eksekusi menyasar pada Andre. Namun, Mayang sempat melihat seseorang yang hendak menembak ke arah mereka. Dengan cepat ia menghadang peluru yang melesat cepat tersebut.
Dor...satu tembakan menyasar tepat di dada bagian kanan Mayang.
Bersambung dulu ya reade. Konflik kali ini akan ada hubungan dengan sequel buku ke duanya, so nantikan terus bab selanjutnya. tengqu peri mat. 😍😘😘
assalamu'alaikum wr wb