Mengandung Benih CEO Kejam

Mengandung Benih CEO Kejam
Cerai?


Dengan perasaan yang bercampur baur Ferdi menggendong anaknya yang sudah tak bernyawa tersebut. Sesekali ia menitikan air mata melihat wajah mungil dari bayi berjenis kelamin perempuan tersebut.


Tubuh Ferdi bergetar menahan sedihnya, seperti ada sesuatu yang berharga telah hilang selamanya dalam hidupnya.


Sesekali pula Ferdi terlihat mencium bayi mungil tersebut..


Tangan Ferdi menggendong sementara yang lainya merogoh saku celana untuk meraih ponsel pintarnya.


Siapa pun tak akan tega melihat bayi mungil tersebut yang kini tak lagi bernyawa.


"Maafkan papa sayang, hiks. " Ferdi kembali mencium bayi perempuan tersebut.


Rasa sesak menghampirinya ketika kembali melihat bayi munggilnya,seolah ia tak rela jika bayi tersebut meninggal sebelum melihat kedua orang tuanya, Bayi tersebut seperti malaikat yang bisa menyentuh nurani terdalam Ferdi sebagai seorang ayah.


Di peluknya kembali bayi tersebut. Dalam kebingungan Ferdi mencari cara bagaimana ia membawa bayi itu dan menguburkannya.Ferdi duduk di sebuah kursi tunggu, Kemudian merogoh saku celananya untuk menghubungi Mona.


Beberapa saat menunggu, Sambungan telepon tersambung.


"Ada apa Ferdi? " tanya Mona di seberang telpon.


"Hallo Mi, saat ini Ferdi di rumah sakit Mi. "


"Rumah sakit?! kamu kenapa Ferdi?! " tanya Mona yang terdengar begitu khawatir karena mendengar suara Ferdi yang parau seperti habis menangis.


"Resti keguguran Mi, Bayi kami tak bisa selamatkan hiks . " terdengar suara Ferdi yang kembali menangis.


"Hah?! Tapi bagaimana bisa Ferdi?! Cucu Mami sayang hiks. " Mona juga ikut terpukul mendengar berita tersebut.


Meski ia tak menyukai Resti dan keluarga. Namun, anak yang di kandung Resti tetaplah cucunya.


"Mi, Mami kesini jemput Ferdi Mi, kita harus makamkan bayi ini hari ini juga Mi, hiks. " Ferdi.


"Iya Nak. Biar mami suruh Pak Rt mengurusi pemakaman anak kamu. Kamu tunggu di sana, Mami dan papi yang akan menjemput mu. "


"Iya Mi. Ferdi juga menunggu Resti keluar dari ruang operasi. Resti pasti ingin melihat putri kami untuk yang terakhir kalinya. "


"Ferdi, kamu sabar ya Nak. " Mona.


Mayang dan Andre masih berada di sana, keduanya turut berduka cita atas kejadian naas tersebut.


Mayang menghampiri Ferdi.


"Fer, boleh aku lihat anak kalian? " tanya Mayang.


Ferdi mengangguk lirih.


"Iya, "ucapnya sambil menyodorkan bayi tersebut.


Mayang meraih bayi mungil tersebut dan menggedongnya.


Air matanya menetes ketika melihat wajah bayi tersebut yang terlihat cantik dengan bulu mata yang lentik.


"Mas cantik ya? " tanya Mayang dengan suara parau menahan tangis.


"Iya Sayang. Bayi perempuan yang cantik." Andre.


Air mata Mayang berderai, membayangkan persaan Resti ketika mengetahui kehilangan bayi cantiknya.


"Ya Allah, Kasihan Resti. Bagaimana perasaannya jika melihat bayinya sudah tiada," guman Mayang.


Tak hanya Mayang, Andre ikut sedih melihat bayi tersebut kehilangan nyawa karena kelalaian orang tuanya.


"Ferdi! kamu ngak ada niat menuntut orang yang telah mencelakai istri dan anak kamu? " tanya Andre.


Ferdi menggeleng kepalanya.


"Ini semua bukan salah Mia, Resti yang mencakar Mia, Mia saat itu hanya membela diri. " Ferdi.


"Mia? siapa Mia Ferdi? Pacar kamu?! " tanya Mayang sedikit emosi.


Ferdi tertunduk, seolah-olah membenarkan. Dan itu membuat Mayang semakin emosi.


"Kamu bagaimana sih Ferdi?! sudah punya istri, masih saja selingkuh. Andai kamu tahu betapa beratnya beban yang di tanggung seorang wanita yang sedang hamil, pasti kamu ngak akan tega menyakiti istri mu! " Mayang.


"Resti rela mengandung anak kamu! bahkan sampai ia putus sekolah. Air susu kamu balas dengan air tuba Ferdi. Dan sekarang anak kalian yang jadi korbanya. Hiks," tutur Mayang dengan berapi-api sambil menggendong bayi tersebut.


Tak ingin istrinya terbawa emosi.


"Sudah Sayang, semua sudah terjadi. " Andre.


"Aku kesal Mas, Biar bagaimana pun Resti itu saudara ku. Aku ngak tega melihatnya kehilangan bayinya. mengandung sampai usia tujuh bulan itu ngak mudah loh Mas, apalagi di usia remaja seperti kami ini. Apalagi di masa awal ngidam yang bikin tersiksa." Mayang.


"Sudah Sayang. Kita diskusikan sama ayah nanti. Bagaimana selanjutnya. Apakah ingin mengambil tindakan jalur hukum. Hanya pihak korban yang berhak menuntut perkara ini. " Bujuk Andre.


Mayang menghempas napas kasarnya.


***


Setelah selesai melakukan tes darah. Adiaksa kembali ke ruang operasi. Adiaksa langsung menghampiri mereka.


Netra Adiaksa langsung tertuju pada bungkusan kain jarik yang di gendong Mayang.


Dengan perasaan sedih ia meraih bungkusan tersebut kemudian meletakannya di lengannya.


Adiaksa mencium bayi mungil tersebut dengan perasaan sedih.


Kasihan sekali kamu Cu, belum sempat melihat dunia ini," tutur Adiaksa dengan sedih.


Tak berapa lama terdengar suara tempat tidur yang di dorong dari lorong ruang operasi.


Mereka semua melihat dan menghampiri beberapa suster yang mendorong tempat tidur Resti, hingga masuk ke sebuah ruang perawatan.


Saat itu Resti masih terbaring belum sadarkan diri. Dengan infus dan selang transfusi darahnya.


"Ferdi apa kamu sudah urus pemakaman anak kalian? " tanya Adiaksa.


"Sudah Pi. Mami yang sedang mengurus semuanya. "


Adiaksa meraih handphone, kemudian mengambil beberapa foto bayi tersebut.


"Jika Resti tak sempat melihat putrinya, setidaknya ada kenangan-kenangan yang bisa ia lihat, " ucap Adiaksa seraya menghapus air matanya.


Adiaksa sedikit menjauh untuk memberitahu keadaan Resti dan bayinya.


"Hallo Pi, "Sapa Adelia di sambungan telepon.


"Mi,bagaimana keadaan Raga?! "


"Masih belum sadar Pi,"ucap Adelia dengan vibra yang begitu sedih.


Adiaksa menelan salivanya.


"Lalu bagaimana keadaan Resti Pi, apa Resti sudah selesai operasi? bagaimana keadaan bayinya? " tanya Adelia dengan bertubi-tubi.


"Resti baru saja keluar dari ruang operasi Mi, Saat ini ia belum sadar, mungkin karena pengaruh obat biusnya. Sementara bayinya tidak selamat. "


"Apa?! cucu ku meninggal Pi?! "


"Iya Mi. Resti mengalami pendarahan hebat! "


"Tapi kenapa Pi?! "


"Ferdi bilang Resti sempat bertengkar dengan seorang gadis di cafe. Gadis itu terdesak karena di serang Resti, gadis tersebut pun mendorong tubuh Resti hingga Resti terjerembab. "


"Apa?! Kurang ajar! ini pasti karena Ferdi! kurang ajar Ferdi! mana Ferdinya Pi? ! " suara Adelia terdengar begitu emosi hingga terdengar di telinga mereka yang berada di ruangan tersebut


"Ferdi! " seru Adelia di telpon.


"Ferdi Mami mu ingin bicara! " Adiaksa.


Ferdi pun melangkah dengan gontai menghampiri Adiaksa sambil. menggedong bayinya.


"Hallo..." Kata-kata Ferdi langsung di potong oleh Adelia.


"Ferdi! Puas kamu Hah?! sudah bikin Resti dan anak kamu celaka?! Sekarang kamu pergi dari hidup Resti! Saya tak sudi melihat kamu dekat-dekat Resti lagi. Hubungan kalian putus! Kamu juga ngak pernah tanggung jawab sama Resti kan?! "


"Sudah kamu pergi saat ini juga! Dan jangan pernah kamu tunjukkan batang hidung kamu lagi? " cecar Adelia tanpa jeda.


"Tapi Mi,Aku.. "


"Tak ada tapi-tapi! Detik ini juga kamu dan Resti sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi . Kalian bercerai ! cerai! cerai saat ini juga! "teriak Adelia dengan suara tinggi penuh emosi. Sementara Ferdi hanya bisa terdiam dan memaku, karena Adelia tak memberinya kesempatan untuk bicara.


Bersambung dulu gengs.