Mengandung Benih CEO Kejam

Mengandung Benih CEO Kejam
Sean Di culik


Sean keluar dari ruangan itu, mengikuti suster dari arah belakang.Ketika menutup pintu ruangan tersebut ia di hampiri seorang Bodyguard.


"Tuan anda mau kemana, perkenankan saya untuk mengawal anda. " Bodyguard 2.


"Tidak apa, Saya hanya akan menemui dokter saja. Tak perlu di kawal. " Sean.


"Tapi Tuan, Tuan Andre menyuruh saya untuk mengikuti Anda ke mana saja anda pergi. "


Suster tersebut tersenyum mengejek mereka.


"Tuan-tuan, ini rumah sakit, kenapa pakai dikawal segala, Seperti tawanan saja," ujar suster tersebut dengan nada mengejek.


"Iya, nggak usah dikawal, saya bisa pergi sendiri. " Sean.


"Tapi Tuan. "


"Sudah saya bisa pergi sendiri. "


"Baiklah Tuan "Bodyguard tersebut pun setuju.


Sean berjalan membelakangi suster tersebut , mereka berjalan melewati koridor yang tak begitu ramai di lewati orang, hanya beberapa orang yang melintas,itu pun perawat yang berpakaian serba putih.


Sean masih membuntuti suster tersebut tanpa curiga sedikit pun.Tiba-tiba Suster tersandung pada bagian porselen yang pecah, Suster tersebut sempoyongan karena hak sepatu yang ia gunakan patah.Secara reflek ,Sean menyambar tubuh suster itu, memegang lengan nya agar tak jatuh.


"Hati-hati Suster. "Sean.


Suster yang sudah mempersiapkan rencananya. langsung menancap suntikkan pada bagian paha kiri Sean.


"Apa ini? "


Seketika Sean merasakan kebas pada bagian yang di suntikan.


Sean sempat melihat suster tersebut tersenyum menyeringai kearahnya.


Tanpa sempat berkata-kata, tubuh Sean langsung ambruk. Suster menahan tubuh Sean aga tak jatuh di lantai.


Dua orang lelaki yang telah menunggu langsung menghampiri suster tersebut. mereka juga berpakaian seperti perawat membawa brankar lengkap dengan kain putih penutup mayat.


Lepaskan Pakaiannya tambahkan jambang putih dan kumis putih putih, poles bagian wajah dengan krim ini, agar bisa ia terlihat seperti mayat.


***


Bagian gedung utama di rumah saktersebut terbakar, akibat sabotase oleh pihak Red Eyes.


Di lorong tersebut ada siapa-siapa kecuali mereka. Gedung utama yang terbakar tak jauh dari tempat di mana Hesti di rawat. Keadaan begitu lengang.


Para penunggu pasien berlari berhamburan melihat kebakaran yang terjadi akibat korsleting listrik tersebut.


Ada yang berlari menuju tempat di mana gedung tersebut terbakar, ada pula yang segera masuk kembali ke ruang perawatan.


Kebakaran tersebut berhasil menyita perhatian banyak orang, hingga suster dan perawat gadungan itu bisa dengan leluasa membawa Sean.


Mereka mendorong tempat tidur Sean menuju pintu belakang rumah sakit yang biasa di gunakan untuk membawa mayat.


Dengan mudah mereka melewati para penjaga yang saat itu tengah lengah.


Semua sudah di persiapkan dengan matang. Mereka membawa surat keterangan jika mayat yang mereka bawa tersebut sudah di serahkan oleh pihak keluarga.


Sang suster gadungan pun kini berganti profesi ia mengganti pakaiannya kemudian berpura-pura menjadi keluarga si mayat yang ternyata adalah Sean.


"Daddy secepat ini kau meninggal ku Daddy hiks. " tangis perawat gadungan tersebut.


Karena penjaga tak merasakan kejanggalan, ia pun membuka kan pintu penjaga agar Sean yang mereka pikir jadi mayat tersebut bisa keluar.


Sirene mobil pemadam kebakaran yang membantu evakuasi penyelamatan kebakaran bersahut-sahutan dengan mobil ambulans yang tiba untuk menjemput Sean.


Perawat gadungan tersebut masih terus menangis ketika ambulans berhenti tepat di depan mereka, mereka pun memasukkan brankar yang di atasnya terdapat tubuh Sean yang masih bernafas.


Setelah pemindahan selesai, dua orang perawat Laki-laki menutup pintu belakang mobil. Sementara wanita yang menyamar sebagai perawat tersebut ikut duduk di dalam mobil ambulan. Kedua perawat yang lainya, kembali ke rumah sakit.


Kebakaran yang terjadi di gedung utama, memang tak begitu besar, hingga dalam hitungan beberapa puluh menit saja, petugas berhasil menjinakkan api.


Karena kebakaran tersebut ,ada beberapa sistem kelistrikan menjadi tak berfungsi. Salah satunya alarm emergency yang ada di dinding setiap ruangan di lantai dua tersebut.


Karena itulah, ketika menekankan tombol emergency, Hesti tak mendapati satu orang perawat pun menghampirinya.


Mobil ambulans tersebut menuju markas Red eyes.


Wanita yang menyamar sebagai suster tersebut langsung menghubungi pemimpinnya.


"Sudah ada helikopter yang menunggu mu di markas untuk membawa Sean.Obat itu hanya bekerja selama dua jam. Sebelum ia sadarkan diri, kalian harus kembali menyuntikkan obat bius kembali.Aku ingin ia tetap hidup saat bertemu dengan ku. " Steven.


"Baik, Stev. "


Sesampainya di markas Red Eyes, Sean kembali di bawa dengan menggunakan helikopter.


***


Dokter masih memeriksa keadaan Hesti yang tiba-tiba saja pingsan tak sadarkan diri.


Seorang bodyguard datang menghampiri mereka yang berada di ruang tersebut karena mendengar sesuatu yang mencurigakan.


"Ada apa ini dokter? " tanya bodyguard tersebut.


"Nyonya ini pingsan, sebelum ini ia menanyakan keberadaan suaminya. " suster.


"Suaminya? "


Bodyguard itu baru menyadari Sean yang sudah setengah jam keluar dari ruangan tersebut.


Bodyguard tersebut sedikit panik, ia segera berlari ke arah luar, untuk memberi tahu rekan-rekannya.


"Gawat! Tuan Sean belum kembali sejak setengah jam yang lalu. " Bodyguard 1


"Oh iya, aku baru menyadarinya. Tadi aku menyempatkan diri melihat kebakaran di gedung utama rumah sakit ini. "Bodyguard 2.


"Coba hubungi nomornya. "


Salah seorang dari mereka mencoba menghubungi nomor Sean,tapi sambungan selalu berada di luar jangkauan.


"Tak bisa di hubungi, Lalu apa yang akan kita lakukan?"


"Hubungi yang lain, suruh mereka mencari tuan Sean sampai ketemu! Sementara aku akan menghubungi tuan Andre.


***


Selama Hesti berada di rumah sakit, Andre memutuskan untuk bekerja dari rumah sambil membantu mengawasi anak-anak dan istrinya.


Saat sedang memeriksa beberapa berkas, Andre mendapat telpon dari bodyguardnya.


"Hallo! " Andre.


"Halo, Tuan. Tuan Sean menghilang lebih dari setengah jam yang lalu. "


Andre yang kala itu duduk, langsung segera berdiri.


"Apa?! Bagaimana bisa itu terjadi?! "


Bodyguard tersebut pun menceritakan apa yang terjadi saat itu.


Andre menatap sekelilingnya dengan nanar dengan rahang yang mengeras.


"Lalu bagaimana dengan keadaan saudara ipar ku?! "


"Nyonya kembali pingsan Tuan. Saat ini dokter dan suster sedang memeriksa keadaannya. "


"Baik, perketat penjaga saudara ku. Sekarang juga aku akan ke sana! Jangan biarkan siapa pun menemuinya sebelum aku tiba di ruangnya! "


"Baik Tuan. " Bodyguard.


Mayang sedang menggendong salah satu dari anak mereka, ia langsung menghampiri Andre ketika mendengar suara ke khawatir dari Andre.


Andre segera menutup laptopnya, kemudian bergegas keluar dari ruang kerjanya yang masih merupakan bagian dari kamarnya.


"Ada apa Mas? " tanya Mayang.


"Sean sepertinya di culik, Aku harus menjemput Hesti dari rumah sakit, aku khawatir pada-Nya " ucap Andre sambil mengecup kening Hesti.


"Iya Mas, Hati-hati. " Mayang.


Andre keluar dari kamarnya sambil melakukan pangggilan terhadap seseorang.


Hallo, Mr Chan. Siapkan pasukan Black "Eyes. Aku ingin kita menyerang markas Red Eyes."


Bersambung dulu ya. Berhubung hari ini author sibuk, up satu bab dulu ya 🙏🙏😊