
Mayang membuka matanya karena merasa ada yang memeluknya dari belakang.
Ia pun menoleh ke arah belakang dan melihat Andre yang tengah tertidur lelap.
Wajah garang Andre tak lagi terlihat saat itu , justru Andre terlihat tampan ketika ia tertidur pulas.Mayang pun tersenyum.
Hembusan hangat napas Andre menyapu hangat leher Mayang, tarikan dan hembusan nafas Andre serta irama jantung Andre pun terdengar di telinga Mayang.
Mereka begitu dekat dan hangat, bahkan punggung Mayang menempel pada bagian depan tubuh Andre.
Mayang coba melepaskan rangkul tangan Andre yang memeluknya, ia pun mencoba mengeser sedikit tubuhnya untuk menjangkau botol minuman yang ada di nakas.
Tapi Andre justru semakin menarik nya dalam pelukannya, kemudian menciuminya dengan bertubi-tubi, "Lepaskan Tuan, aku mau ambil minum. " Mayang.
Andre membuka matanya.
"Biar saja aku yang ambil, Ingat kau jangan banyak bergerak. "
Andre langsung melepaskan pelukannya, kemudian bangkit untuk meraih botol air mineral yang berada di atas nakas.
Setelah menuangkan minuman, Andre membantu Mayang untuk bangkit,kemudian menyodorkan gelasnya ke Mayang.
Mayang meneguk habis gelas tersebut.
Setelah itu, ia membantu sang istri kembali berbaring.
Andre kembali berbaring di samping Mayang dan kembali memeluknya.
Pelukan Andre terasa begitu hangat, dengan nafas yang merenggangkan bulu romanya.
Andre memutar wajah Mayang agar menghadap ke arahnya.
"Kenapa sepertinya kau menghindari ku Mayang? " tanya Andre seraya menatap manik mata Mayang.
"Apa kau masih takut kepada ku? " tanya Andre lagi.
Mayang menundukkan pandangannya, tak kuasa menatap bola mata hitam Andre yang indah tersebut.
Andre mengangkat sedikit dagu Mayang, kemudian mendaratkan kecupan pada bibir mungil sang istri.
Mayang membelakakan matanya, karena serangan tiba-tiba sang suami.
Hembusan nafas Andre berhembus hangat menyapu kulit wajah Mayang, sementara tangan Andre menggenggam kedua telapak tangan Mayang.
Entah apa yang di rasakan Mayang saat itu, ia belum pernah bercumbu. Namun, kecupan dan desapan Andre berhasil membuat dada Mayang bergemuruh, jantungnya berdetak dengan desiran aneh yang menghampiri sekujur tubuhnya.
Mayang mengelinjang ketika Andre meremas salah satu bukit kembarnya, sementara lidahnya semakin dalam menyusuri rongga mulut Mayang.
Mayang awalnya sedikt memberontak mulai melemah, Andre begitu lihai memainkan peranannya hingga membuat Mayang tak mampu menolak serangannya.
Beberapa saat kemudian Andre melepaskan pangutannya karena melihat Mayang yang sepertinya kehabisan napas.
Hua hua, Mayang mencoba mengatur nafasnya.
Bibir Mayang memerah akibat serangan Andre, kedua netra mereka pun beradu, saling menatap dengan sendu
Ada desiran aneh, ketika Mayang menatap teduh mata Andre. Andre tak seperti Andre yang pernah ia kenal dulu.
Tiba-tiba saja Andre kembali mendaratkan kecupan hangat pada bibir dan keningnya. Hingga membuat Mayang semakin tak habis pikir.
"Tidurlah, "ucap Andre lembut seraya mengusap kepala Mayang dengan penuh perasaan.
Mayang kembali menatap Andre heran, ia binggung sendiri. Apa yang membuat pria kejam itu berubah drastis.
'Ya Tuhan apakah aku sedang bermimpi? 'batin Mayang.
Semua keanehan ini tiba-tiba saja terjadi.
Mayang pun membalikan tubuhnya berbaring miring. Hal yang sama Andre lakukan ia pun kembali berbaring sembari memeluk Mayang.
Pelukan Andre terasa hangat dan nyaman.
Maklum saja sejak ia bayi, Mayang tak pernah merasakan hangatnya pelukan dan kasih sayang.
Ia besar dan tumbuh dengan mandiri, tanpa pernah mencicipi hangatnya pelukan sang ayah ataupun bunda.
Andre terus mengusap kepala Mayang membelainya hingga Mayang kembali tertidur dengan pulas.
Waktu pun berlalu.
Mayang membuka matanya dan melihat sang suami sudah tak berada di sampingnya.
Mayang melirik petunjuk waktu yang ada di dinding kamarnya.
Waktu baru menunjukkan pukul enam pagi, tapi perutnya sudah terasa lapar.
Mayang pun melirik di atas nakas mencari sesuatu yang bisa ia makan.
Biasanya jam segini ia memang sudah sarapan.
Andre berada di balkon sedang melakukan olahraga ringan.
Andre memang rutin berolahraga, demi menjaga kebugarannya, ketika melihat sang istri sudah bangun Andre pun menghampiri Mayang.
"Kamu lapar? " tanya Andre.
Mayang menggangguk pelan.
Andre kembali menuju nakas dan membuka rantang yang berisikan bubur hangat ada juga susu ibu hamil.
Andre menghampiri Mayang dan duduk di sampingnya.
"Biar saya makan sendiri Tuan, " ucap Mayang.
Andre menatap ke arah Mayang.
"Aku suami kamu Mayang, kenapa masih memanggiku Tuan. "
Mayang menundukkan kepalanya takut melihat manik mata sang suami yang ternyata memiliki daya pikat luar biasa, Apalagi saat itu wajah Andre yang terlihat segar karena berkeringat.
Bahkan jantung Mayang berdebar kencang ketika kedua netra mereka bertemu.
"Aku harus panggil apa? "guman Mayang lirih.
"Panggil apa saja," ucap Andre seraya menyelitkan beberapa helai rambut yang teruntai pada daun telinga Mayang, ia pun merendahkan suaranya, melihat Mayang yang seperti ketakutan.
Mayang menggangguk.
"Sudah makan buburnya. Kau harus segera sehat dan pulih. " Andre mengambil alih sendok dari tangan Mayang.
Ia pun kembali menyuapi Mayang.
"Yang, apa perlu aku memberitahu keadaan mu kepada ayah mu? "tanya Andre sambil menyuapi Mayang.
Mayang menggangguk lirih."Terserah! "
"Biar aku telpon, ayahmu pasti mengkhawatirkan mu juga. "
Mayang kembali mengangguk.
"Kalau begitu habiskan makanan mu. setelah ini aku bantu kau mandi. " Andre.
Mayang pun menggangguk setuju. Keduanya pun saling melempar senyum.
Bersambung. moga bisa up satu bab lagi ya.