
Setelah dipikir-pikir, Gerald akhirnya memutuskan untuk tak mencari pertanda lain lagi. Benar apa kata saudaranya, bisa jadi Chloe sudah habis dimakan banyak ikan buas di dasar laut atau sisa tulang sudah menyatu dengan karang dan sulit ditemukan.
Gerald pun mengayunkan kaki mendekati sepupunya yang sudah memilih menjauh. “Ayo ke permukaan, pencarian kita sudah cukup sampai di sini. Aku sudah yakin kalau Chloe tiada.”
Perkataan Gerald membuat semua bernapas lega karena tidak perlu menghadapi kegilaan pria itu lagi.
“Oke, kita naik sekarang juga.” Danesh langsung memberikan perintah pada awak kapal yang mengemudikan transportasi bawah laut itu.
Gerald pun mendapatkan rangkulan dari satu persatu sepupunya yang tampan dan menawan.
“Duniamu tak akan berakhir karena kehilangan kekasihmu. Jadi, mulailah hargai orang-orang yang ada di sekitarmu sebelum semua jenuh,” nasihat Danesh.
Gerald hanya mengangguk sebagai pertanda kalau dia akan mengusahakan hal tersebut.
Kapal selam itu pun mulai sedikit demi sedikit naik ke permukaan laut. Tepat di atasnya sudah ada helikopter yang menunggu dan menurunkan tali yang digunakan untuk alat naik ke atas transportasi udara tersebut.
“Aku naik dulu.” Gerald menyela para sepupunya yang hendak meraih tali. Dia tidak mau berada di dalam helikopter yang sama dengan Daddy Davis. Sebab, pamannya itu suka menyebalkan.
“Silahkan.” Danesh memberikan jalan supaya Gerald bisa meninggalkan kapal pesiar paling depan.
Gerald pun perlahan menaiki tali yang dibuat seperti tangga. Dia percaya diri sekali kalau helikopter yang datang pertama menjemput adalah milik para sepupunya.
Ternyata, saat Gerald sudah berhasil naik dan masuk ke dalam helikopter, rasanya ingin sekali turun lagi karena di sana sudah ada Daddy Davis dan Daddy George.
“Heh! Mau ke mana kau?” tanya Daddy Davis dengan suara berteriak karena bunyi dari helikopter itu sangat keras.
“Kau berani turun, ku potong talinya agar kau jatuh ke laut, mau?” tantang Daddy Davis.
“Kau hanya bisa menggertak saja.” Gerald menjawab dengan berteriak. Ia tetap ingin turun ke bawah daripada mendengarkan ceramahan dari dua pria yang bersahabat sejak muda.
“George, relakan anakmu yang satu ini mati, hidup pun hanya menyusahkan saja,” ucap Daddy Davis pada sahabatnya.
“Jika itu yang terbaik untuk semuanya, maka akan ku lakukan.” Daddy George pun siap mengambil pisau lipat. Sembari mencengkeram pada pegangan besi yang ada di dekat pintu, dia menyentuhkan benda tajam tersebut ke tali.
“Kau yakin ingin turun?” Sebelum benar-benar memutuskan tali, Daddy George ingin menanyakan kesungguhan anaknya terlebih dahulu.
Gerald tidak langsung menjawab, dia menatap kedua mata orang tuanya terlebih dahulu. Tidak ada sorot main-main yang terpancar dari pria paruh baya itu. “Tidak, aku ikut dengan kalian.” Masih ada sisi takut kehilangan nyawa juga dia. Apa lagi orang tua serta pamannya ternyata bukan sekedar menggertak.
Daddy George pun mengulurkan tangan untuk membantu Gerald naik ke atas. Dan pintu segera ditutup agar helikopter melaju menuju kapal pesiar keluarga Dominique.
Daddy George segera memberikan headphone pada Gerald untuk menutupi telinga pria itu dan sebagai alat pemudah komunikasi.
“Kau jangan sok keras dengan Daddy dan unclemu, hidup kami jauh lebih menderita daripada kau. Jadi, bersyukurlah karena memiliki keluarga utuh yang selalu ada di sampingmu. Tidak semua orang seberuntung kau.” Tuan Giorgio langsung memberikan nasihat pada anaknya agar Gerald tidak berlaku seenaknya lagi.
...*****...
...HAHAHA Ge, kamu itu bukan apa-apanya kalo ngelawan duo maut itu. Yang atu licik, atunya lagi eksekutor ulung....