
“Cath, bisa tidak jika kau tak perlu banyak bertanya? Ikuti saja, aku tak akan mencelakaimu juga,” ucap Gerald. Meskipun kalimat itu berupa permintaan yang tergolong dalam harus dituruti, tapi Gerald tetap mengucapkan menggunakan intonasi yang lebih lembut, sehingga tidak memperlihatkan kemarahan sedikit pun.
“Maaf.” Cathleen ikut turun saat Gerald telah keluar dan menutup pintu.
“Pokoknya malam ini kau akan menjadi wanita cantik,” tutur Gerald seraya merangkul sang istri. Dia menuntun Cathleen agar berjalan masuk ke dalam salon.
“Apa sekarang aku tidak cantik?” tanya Cathleen setelah kaki menginjak di dalam area salon.
“Cantik. Tapi maksudku, auramu akan semakin terpancar malam ini.”
Kedatangan Gerald dan Cathleen langsung disambut ramah oleh pegawai salon tersebut.
“Selamat sore, ada yang bisa dibantu?”
“Aku ingin kau merubah penampilan istriku,” pinta Gerald.
“Baik, adakah referensi yang diinginkan?”
“Seperti ini.” Gerald mengeluarkan ponsel dari dalam saku. Ia mendekat ke arah pegawai salon tersebut dan memperlihatkan sebuah foto. Cathleen tak tahu apa yang disaksikan oleh kedua orang itu.
“Baik.” Pegawai salon pun langsung paham dan ingat dengan style yang diinginkan oleh pelangan sebelum jam tutup toko. “Mari duduk di sana, Nona.” Dia menunjuk sebuah kursi agar Cathleen mengikuti.
Mata Cathleen melihat ke arah Gerald, rasanya dia ingin mengambil setelah otak sang suami untuk dibarter dengan miliknya supaya bisa memahami, dan tahu apa yang tengah dipikirkan oleh pria itu. Tapi dia hanya bisa pasrah tanpa menolak sedikit pun.
“Cath, aku tinggal keluar sebentar, ya? Kau di sini saja,” izin Gerald.
“Ha? Kau mau ke mana?” Cathleen memutar tubuh agar bisa menatap suami yang masih berdiri di dekat meja resepsionis sekaligus kasir.
“Hanya mengambil sesuatu, tak akan lama.”
“Tidak.” Sudahlah, menunggu mendapatkan izin terlalu lama, Gerald langsung keluar saja. Dia tidak pergi terlalu jauh, hanya berjalan kaki menuju sebuah butik.
“Selamat datangan di Rhy’s boutique.”
Gerald langsung saja menghampiri orang yang baru saja mengucapkan sebuah sapaan tersebut. Dia tak mau basa basi. “Aku ingin mengambil pesanan gaunku.” Dia menunjukkan sebuah notifikasi pembayaran atas pesanannya satu minggu lalu.
“Baik, Tunggu sebentar.” Dia terlihat menelepon seseorang. Tak berselang lama, ada pegawai lain yang muncul dari balik pintu dan memberikan sebuah papperbag.
“Ini pesanan Anda, Tuan. Bisa dicek terlebih dahulu apakah ada yang kurang atau tidak.” Papperbag berisi sebuah gaun itu pun disodorkan pada Gerald.
Tangan Gerald mengeluarkan kain berwarna merah, menelisik model dan setiap detail apakah sudah persis seperti gambar yang dia kirimkan atau tidak. “Oke.” Tidak ada keluhan dari hasil yang tergolong kilat tersebut.
Gerald langsung keluar setelah mendapatkan apa yang dia mau. Tentu pria itu kembali ke salon.
“Nanti kau pakai ini, ya?” Gerald meletakkan gaun yang baru saja diambil ke depan Cathleen.
Cathleen mengangguk setelah melihat isi di dalam papperbag tersebut. Tapi dia terasa tak nyaman dengan sesuatu. “Ge, apakah rambutku harus dirubah menjadi pirang?” tanyanya. Sebab, saat ini pegawai salon itu sedang membalurkan cat rambut setelah melakukan extension supaya lebih panjang lagi.
“Kenapa? Apa kau tak suka dengan rambut pirang dan panjang seperti itu?” Gerald duduk dengan manis di sebuah kursi yang bisa memandangi Cathleen. “Tolak saja kalau kau tak ingin mengikuti gaya yang aku mau, tak masalah juga kalau kua tak sepakat, aku tak pernah memaksa orang harus menurutiku.”
Cathleen menggelengkan kepala. “Aku mau.”
...*****...
...Terlalu bucin bisa membuatmu sakit hati Cing! Sama aja tu si Gege juga tukang ngatur. Terus apa bedanya sama si Ee pake d bukan k? Mereka sama-sama tukang ngatur, cuma bedanya kalo Eed keliatan maksa, si Gege kesannya emang bodo amat mau ditolak juga. Tapi intinya mereka berdua sama. Cuma mata si Kucing udah ketetesan insto cap bucin sampe gak bisa liat kesamaan mereka! *mode sirik bin iri binti dengki bin gak suka bin kompor*...