Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 169


Sejak tadi alarm ponsel Cathleen dan juga jam weker yang ada di atas nakas terus berbunyi. Entah kenapa akhir-akhir ini Cathleen menjadi pemalas, tidak serajin dahulu yang selalu bangun pagi.


Bahkan wanita itu masih nyenyak meringkuk, memeluk tubuh suaminya yang terasa sangat hangat. Cathleen tidak terganggu sedikit pun dengan suara yang begitu membisingkan telinga.


Justru Gerald yang membuka mata karena ketenangannya terusik. Ia mematikan seluruh alarm, lalu membangunkan Cathleen dengan mengusap pipi wanitanya. “Sayang, bangun, sudah pagi.”


“Hm? Nanti, aku masih ingin tidur.” Cathleen menjawab dengan suara gumaman. Ia justru semakin membenamkan kepala di ketiak Gerald. Harum dari deodoran suaminya selalu membuatnya berhasil tertidur pulas.


“Kau tidak berangkat kerja? Ini sudah jam setengah delapan.” Justru Gerald yang menjadi tak enak kalau kebiasaannya bangun siang menular ke istrinya.


“Nanti siang saja ke kantornya, aku masih malas,” jawab Cathleen.


Gerald menghela napas, sepertinya kebiasan buruknya sudah menjalar ke Cathleen. “Kau jangan mengikuti aku yang pemalas, Sayang. Tetaplah rajin, yang buruk jangan kau tiru, cukup ambil sisi baiknya saja.” Meskipun memberikan nasihat seperti itu, tapi ia tetap saja memberikan kenyamanan dengan mengusap kepala sang istri agar semakin lelap.


“Kau tidak memberi pengaruh buruk denganku, hanya saja akhir-akhir ini memang aku sangat malas dan ingin rebahan.”


“Baiklah, asalkan kau senang.” Gerald jadi ikut tidur juga.


Sampai siang hari, Cathleen baru bangun lagi. Ternyata sudah tak ada Gerald di sampingnya. Ia langsung mencari keberadaan suaminya yang sudah berkutat di depan komputer, tentu saja bermain game.


“Kenapa meninggalkan aku sendirian?” tanya Cathleen seraya memeluk Gerald dari belakang.


“Maaf, aku sedang uji coba game baru, jadi tak menunggumu sampai bangun,” jelas Gerald. Ia menarik tangan sang istri agar duduk di pangkuannya.


Cathleen pun duduk di atas paha Gerald, melingkarkan tangan di leher prianya. Sekarang mereka menjadi lengket, dan wanita itu lebih manja dari biasanya. Tapi keduanya tak menyadari perubahan itu, hanya menganggap kalau semua yang terjadi saat ini adalah bagian dari mendekatkan dan membangun perasaan satu sama lain.


“Antarkan aku ke kantor,” pinta Cathleen. Tangannya bermain bulu ketiak Gerald yang sengaja tak dipangkas habis.


“Memangnya kau sudah mandi? Wajahmu saja masih seperti orang baru bangun tidur,” ucap Gerald. Tapi tetap saja ia melabuhkan kecupan di pipi istrinya.


“Maksudku setelah aku bersiap, antarkan berangkat kerja.”


“Iya, kau mandi saja dulu. Aku tunggu sembari menyelesaikan pekerjaan.” Gerald menepuk pantat Cathleen agar wanitanya segera beranjak dan tak bermalas-malasan lagi seperti dirinya yang belum mandi di pagi hari.


Gerald hanya menggelengkan kepala seraya mengulas senyum saat istrinya mulai pergi meninggalkan ruang game.


Setelah menanti Cathleen bersiap, akhirnya Gerald mengantarkan wanita yang sekarang sudah lima puluh persen dia cintai. Tidak mudah untuk menaruh rasa sepenuhnya pada seseorang, semua butuh proses.


Gerald tidak mandi, cukup berganti pakaian, cuci muka, gosok gigi, dan tentu saja tak lupa parfum. Dia mengantarkan Cathleen sampai ke dalam ruang CEO. Sepanjang perjalanan, tangannya terus merangkul pinggul istrinya.


“Sekarang kita seperti sepasang suami istri sungguhan,” tutur Gerald.


“Memang kita suami istri, hanya kurang anak saja, keluarga kecil kita pasti lebih lengkap kalau aku melahirkan keturunanmu.”


...*****...


...Coba anaknya di download lewat app store apa play store aja Cath...


...*****...


...Ingat Deavenny? Si bungsunya Dominique. Season 2 cerita Deavenny udah bisa dibaca di NovelToon ya, judulnya Deavenny’s Choice. Yuk baca cerita baru aku...


Blurb:


Deavenny akhirnya menikah dengan pria pujaan hati yang tak lain adalah Marvel. Namun, hingga usia pernikahan tiga tahun, mereka belum memiliki anak. Bukan karena Deavenny atau Marvel mandul, tapi Marvel tidak pernah membuahi sel telur milik sang istri.


Deavenny sering mengatakan pada Marvel untuk berhenti menggunakan pengaman ketika bercinta. Dia ingin hamil dan memiliki keturunan meskipun dengan kondisi yang tidak normal. Tapi, Marvel tidak pernah mau membuat sang istri hamil karena mempertimbangkan kesehatan dan berusaha menepati janji pada orang tua Deavenny.


Melihat saudara yang lain sudah memiliki anak semua, Deavenny pun berniat untuk melakukan sebuah rencana supaya bisa memiliki anak. Tanpa sepengetahuan Marvel, dia melakukan sebuah program kehamilan.


Apakah pilihan yang diambil oleh Deavenny akan membawa kehidupannya lebih bahagia? Atau justru sebaliknya?