
Gerald sengaja menghentikan mobil di depan Cathleen saat dari jauh melihat mantan istrinya sedang berjalan di basement apartemennya. Ia menurunkan kaca jendela hingga orang yang ada di luar bisa melihat wajah tampannya.
“Cath, mau ke mana?” Padahal di sana ada Edbert juga, namun Gerald hanya mengajukan pertanyaan pada Cathleen.
Cathleen diam, tidak mau mengatakan kalau ke sana ingin bertemu dengan Gerald. Gengsi dan malu, ya kedua alasan itu tak jauh berbeda. Dia tidak mau terkesan membutuhkan mantan suaminya, meskipun sesungguhnya memang butuh. Dan hanya bisa menanggapi dengan senyuman.
Disitulah Edbert mengeluarkan suara karena tahu kalau Cathleen tak akan mau mengatakan alasan datang ke sana. “Aku ingin menitipkan dia padamu untuk malam ini.”
“Wait, aku parkirkan mobil terlebih dahulu.” Gerald melajukan kendaraan tersebut untuk ditempatkan pada blok VIP. Ia segera keluar untuk menemui Cathleen dan Edbert lagi.
Kini Gerald telah berdiri di depan dua orang yang sepertinya berniat menemui dirinya. “Jadi, Cathleen mau menginap di apartemenku?”
“Tidak,” ucap Cathleen.
“Ya,” tutur Edbert.
Kedua orang itu menjawab berbeda. Cathleen tidak mau terkesan sangat menginginkan di samping Gerald. Dia belum tahu bagaimana perasaan mantan suaminya, apakah benar-benar sudah melepaskan Chloe atau belum, karena ia tidak mau menjadi orang ketiga lagi.
Mata Cathleen melotot ke arah Edbert, menarik lengan pria itu supaya kembali ke mansion saja. Sepertinya ide mendatangi apartemen Gerald bukanlah sesuatu yang tepat.
Sedangkan Gerald, dia menatap keduanya secara bergantian. Bingung, mana yang harus dipercaya. “Jadi?”
“Oh, titip lama juga boleh.” Gerald langsung merangkul pundak Cathleen, menengadahkan tangan untuk meminta barang yang masih melingkar di leher Edbert. “Tasnya.”
Edbert hampir lupa dengan tas Cathleen. Dia menyerahkan benda tersebut pada rival yang tak mungkin bisa kalahkan.
“Aku pergi dulu, Cath, telepon aku kalau terjadi sesuatu padamu,” pamit Edbert.
“Tenang, aku akan menjaganya.” Gerald menepuk lengan Edbert, lalu mengajak wanitanya untuk berjalan menuju lift yang sudah terlihat dekat.
Melihat kepergian Cathleen yang dirangkul Gerald, Edbert hanya bisa tersenyum getir dengan nasib cintanya. “Mungkin takdirku memang untuk hidup sendiri, setidaknya kau masih bisa ku pandang meskipun dalam kejauhan,” gumamnya.
Karena sudah tak bisa melihat Cathleen lagi, Edbert pun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan area gedung apartemen.
Sedangkan Cathleen, sejak tadi ia terus diam. Bahkan di dalam lift menuju lantai teratas juga tak mengeluarkan suara sedikit pun. Dalam hatinya sangat penasaran ingin bertanya pada Gerald. Dari mana pria itu pergi? Dini hari baru pulang. Tapi, lebih baik diam daripada mendengarkan jawaban yang menyakitkan. Sebab, Gerald tidak pernah bisa berbohong, lebih baik jujur meskipun menyakitkan bagi orang lain. Hatinya belum cukup kokoh untuk tahu kenyataannya.
“Aku baru saja dari perusahaan, ada masalah yang tak bisa ku atasi dengan komputer di apartemen. Jadi, mau tak mau harus datang ke sana.” Tidak perlu ditanya, Gerald justru sudah memberi tahu sendiri. Ia merasakan kalau sejak tadi Cathleen selalu menatap ke arahnya dengan sorot penuh tanya.
...*****...
...Hei kalian, minta maap noh sama Gege, dah pada suujon aja sama si bocah Antartika. Kasian dia kena fitnes banyak orang wkwkwk...