
“Pergilah kalau kau memang ingin mengantarkan Chloe ke tempat istirahatnya yang terakhir,” ucap Cathleen memberikan izin pada Gerald yang sejak tadi hanya diam dan berusaha menunjukkan kalau pria itu abai dengan berita yang baru saja di dengar. Namun, ia tahu kalau dalam hati pria itu pasti ada keinginan untuk pergi, maka dirinya tak boleh egois.
Gerald menggelengkan kepala. “Aku akan tetap di sini menjagamu dan anak-anak. Kecuali kalau kau mau menemaniku.”
Gerald ingin menunjukkan pada semuanya terutama Cathleen kalau dia sudah tidak terlalu memperdulikan Chloe lagi. Tapi, mengantarkan kepergian masa lalu untuk pergi selamanya juga sangat ingin. Hanya saja dia tak mau merusak kepercayaan baik yang sudah terjalin bersama keluarga Pattinson. Sehingga wajahnya nampak biasa dan datar ketika mendengar mantan kekasihnya dinyatakan meninggal.
“Aku masih kurang nyaman ketika berjalan, dan juga belum istirahat setelah melahirkan. Tapi, kalau kau ingin ditemani, maka aku akan pergi bersamamu.” Cathleen menyudahi anaknya yang sedang mengambil asupan nutrisi, memberikan Galtero pada Geraldine yang langsung ingin menggendong bocah mungil itu.
“Tidak, kau istirahat saja dulu, baru kita pergi ke pemakaman,” tolak Gerald. Lebih penting kesehatan Cathleen dibandingkan orang yang sudah tidak bisa tertolong lagi nyawanya.
“Tak apa, daripada hidupmu penuh dengan penyesalan nantinya.” Cathleen berhenti bersandar dan duduk lebih tegak.
Bukan Gerald yang menunjukkan keinginan untuk pergi ke pemakaman. Tapi justru Cathleen yang begitu mendesak. Wanita itu tak mau egois, menahan pria itu terus bahkan untuk terakhir kali bertemu Chloe.
Cathleen menurunkan kaki hingga menyentuh lantai. “Ayo, kita harus pulang dulu untuk ganti pakaian.”
“Apa tak bisa kau di sini saja dan biarkan Gerald yang pergi?” Mama Gwen melihat putrinya yang berjalan dengan kaki sedikit melebar saja bisa tahu kalau wanita itu belum nyaman di bagian jalan lahir.
“Kalau Gerald mau pergi sendiri, aku persilahkan, tapi dia ingin ditemani aku. Jadi, tak masalah, toh hanya sebentar.”
Tidak ada yang bisa menghentikan Cathleen. Lagi pula mereka ingin menunjukkan rasa duka pada keluarga yang ditinggalkan.
“Pakai kursu roda saja.” Gerald segera mengambilkan alat tersebut yang tersedia di sudut ruangan. Mendudukkan Cathleen di sana supaya tak perlu berjalan.
...........
Pakaian serba hitam sudah membalut tubuh Cathleen dan Gerald. Mereka datang ke rumah duka ketika peti jenazah akan diberangkatkan ke pemakaman. Sehingga keduanya tak bisa melihat wajah mendiang Chloe.
Satu persatu pelayat sudah pergi dari area pemakaman. Tersisa Tuan Eleanor beserta istri yang masih menangis di pusara sang anak.
Gerald mendorong kursi roda Cathleen untuk mendekat.
“Aku turut berduka cita atas kepergian Chloe,” ucap Cathleen begitu tulus seraya mengusap tangan Gerald yang tengah menyentuh pundaknya.
Mendengar suara orang, Tuan dan Nyonya Eleanor mendongakkan kepala. Keduanya hanya tersenyum seolah mengatakan terima kasih.
“Maaf, aku baru bisa datang ke sini,” imbuh Gerald.
Tuan Eleanor beranjak berdiri, membiarkan istrinya tetap menangis. “Tak apa, mungkin ada yang lebih penting harus kau lakukan daripada melihat putriku untuk terakhir kali.”
“Wanitaku berjuang melahirkan anak-anakku, jadi aku tak bisa meninggalkannya.”
Tentu Tuan Eleanor paham dengan alasan yang diberikan oleh Gerald. “Saat kritis, Chloe sangat ingin bertemu dengamu karena mau memberi tahu sesuatu. Tapi, dia menitipkan pesan padaku untuk menyampaikan padamu.”
“Apa?”
Tuan Eleanor mengambil sebuah kertas yang ada di saku, mengulurkan itu pada Gerald. “Dia yang menulis di sisa waktunya, mungkin goresan itu nampak jelek karena Chloe memang memiliki keterbatasan dalam menggerakkan anggota tubuh.”
Gerald menerima kertas tersebut. “Kau mau membacanya juga?” tawarnya pada Cathleen.
“Boleh.”
Sedikit berjongkok supaya kepala sejajar dengan Cathleen, Gerald membuka kertas berisi pesan dari mendiang mantan kekasihnya.