
Cathleen dan Gerald saling bersitatap. Jika Cathleen menyorot dengan mata tak yakin untuk menceritakan penyebab dirinya menangis dalam diam, lain hal dengan Gerald. Pria itu tetap saja tidak mudah dibaca sorot pandangannya karena selalu datar.
“Kau ingin aku berkata jujur atau bohong?” tanya Cathleen.
“Jujur, aku tak senang dibohongi.” Gerald langsung menjawab. Dia hanya ingin tahu sesakit apa penyakit yang dirasakan oleh Cathleen sampai membuat wanita itu menangis tanpa suara.
“Aku menangis karena tadi kau bentak,” jawab Cathleen dengan suara lirih. Setelah mengutarakan isi hatinya, ia kembali menundukkan kepala karena tidak berani menyelami ketajaman mata Gerald yang selalu nyalang.
Gerald terdiam, dia belum menanggapi apa pun. Tapi pria itu sedang mengamati Cathleen yang tengah menarungkan dua jempol tangan. “Sorry.”
Cathleen sampai melongo mendengar satu kata yang terlontar dari bibir Gerald. Walaupun hanya sekilas, tapi jelas terdengar di telinga kalau suaminya meminta maaf. “Kau tidak salah posisi tidur, ‘kan?” Ia justru masih tak percaya kalau pria berhati dingin itu bisa merasa bersalah juga.
“Tidak. Aku minta maaf sudah membentakmu. Tapi, tolong lain kali jangan menggangguku ketika sedang bermain game. Kecuali hal darurat, baru kau boleh menyela.” Gerald menjawab sekaligus mengajukan permintaan. Dia tidak suka melihat wanita di sekitarnya meneteskan air mata, apa lagi karena dirinya.
Gerald selalu teringat Mommy dan kembarannya juga perempuan. Ia tidak mau kalau keluarganya sampai dibuat menangis oleh seorang pria. Karena Mommy Gabby saat muda dan Geraldine juga mirip seperti Cathleen, di luar terlihat kuat tapi sering diam-diam menangis.
“Aku hanya ingin mengajakmu mengobrol saja karena bosan, tidak bermaksud mengganggumu.” Cathleen menunduk karena merasa bersalah.
“Kalau bosan, kau bisa menonton televisi atau bermain ponsel. Ketika aku sedang bermain game, itu tandanya sedang serius dan tidak bisa diganggu gugat. Paham?”
“Tak masalah, istirahatlah supaya kau cepat pulih.” Suara Gerald yang biasa terdengar begitu dingin, kali ini keluar dengan sedikit perhatian yang mampu menghangatkan perasaan Cathleen. “Mau ku turunkan ranjang pasiennya?” tawarnya kemudian.
Cathleen segera bergeleng kepala. “Tidak, aku baru selesai makan.”
Gerald tidak menanggapi lagi. Pria itu menarik meja makan pasien supaya kembali ke tempat semula. Ia mendekatkan remot televisi dan tas kecil milik Cathleen ke atas nakas supaya mudah dijangkau oleh tangan pasien. Siapa tahu istri yang tak dicintai itu bosan dan membutuhkan hiburan. Tetap saja dia tak mengeluarkan suara.
Gerald pun kembali merebahkan tubuh di sofa. Apa lagi yang akan dia lakukan kalau bukan bermain game. Secinta itu anak Tuan Giorgio dengan permainan yang mampu mengalihkan semua pikiran dunia nyata yang memusingkan.
Jika Gerald sedang menjaga Cathleen di rumah sakit, lain hal dengan Edbert. Pria keturunan asli New York itu selama ditinggal menikah dengan sang kekasih, kini menjadi sosok yang semakin berambisi. Edbert tetap berniat untuk memisahkan Cathleen dan Gerald. Bagaimanapun caranya, dia akan berusaha.
Di perusahaan Grisham yang berlokasi New York, Amerika Serikat, Edbert tengah duduk memandangi monitor yang menunjukkan wajah manis Cathleen, wanita yang sampai detik ini masih dianggap sebagai kekasih. “Sebentar lagi pasti aku akan menjemputmu, Sayang. Di sini aku sakit, tapi kau di sana bersenang-senang. Sudah cukup liburannya selama tiga bulan ini,” gumamnya seraya mengusap wajah Cathleen di layar.
...*****...
...Pake pelet aja Ed biar cepet dapet si kucing. Noh tanya ke readers, cari kenalan dukun yang tokcer buat menggaet kucing. Kalo aku sih taunya cuma tempat jual pelet ikan, tapi kucing makan ikan juga, boleh tuh kamu alih profesi jadi ternak lele, siape tau si kucing manis jadi kepincut karena kamu punya banyak ikan buat dia makan. Ide yang bagus bukan?...