
Gerald langsung berbalik badan saat mendengar suara Cathleen yang memekik seperti kesakitan. Kedua bola mata itu menajam ke arah seorang wanita yang memegang trolley. Kaki seraya terayun mendekati Cathleen.
“Maaf, aku tidak sengaja. Kalian berdua berdiri saling membelakangi, jalannya jadi sempit dan aku tidak tahu kalau menyenggol orang.” Seorang pengunjung itu menundukkan sedikit kepala karena merasa bersalah.
“It’s ok, salah kami yang berdiri memakan banyak jalan. Justru aku yang seharusnya minta maaf denganmu.” Cathleen juga merasa bersalah setelah mendengar penjelasan orang yang tak sengaja menyenggol pinggulnya.
“Sekali lagi aku minta maaf.”
“Sudah, jangan katakan maaf terus, kau tidak bersalah. Silahkan lanjutkan belanjamu, maaf sudah membuang waktu beberapa menit.” Cathleen sedikit mundur dan memberikan isyarat tangan supaya pengunjung supermarket itu bisa berjalan kembali.
Sejak tadi, Gerald tidak mengeluarkan suara, sekedar memarahi orang yang sudah membuat istrinya memekik pun tidak. Pria itu hanya diam dan menatap tajam saja, bahkan ketika pengunjung tadi berjalan pun masih dia ikuti menggunakan pandangan mata.
“Ge?” panggil Cathleen seraya mengelus lengan sang suami. Dia menangkap jelas kalau Gerald sedang memasang wajah tak suka, ia tahu karena dahulu juga sering ditatap seperti itu oleh pria yang tengah berdiri di sampingnya.
“Hm?” Setelah dipanggil, Gerald baru mengedipkan mata dan memenuhi dua kornea dengan wanita berparas manis yang tak lain adalah sang istri.
“Apa kau baik-baik saja?” Gerald bertanya seraya memegang salah satu pinggul Cathleen yang tadi sempat terkena trolley.
“I’m ok, Ge,” jawab Cathleen dengan suara lembut dan tangan mengusap lengan Gerald. Tak lupa ulasan senyum untuk menunjukkan bahwa kondisinya baik-baik saja.
“Lalu, kenapa tadi kau memekik?”
“Tadi hanya terkejut saja, tidak perlu khawatir.”
Jika tadi mereka fokus mencari sesuatu yang ingin dibeli sendiri-sendiri, kini Gerald memilih untuk tetap di samping Cathleen. Pria itu mengikuti kemanapun sang istri berhenti dan mengambil kebutuhan untuk satu minggu.
Mulai dari sabun cuci, shampoo, sabun mandi, camilan, bahan-bahan untuk memasak, susu, sayur, kebutuhan untuk isi kulkas, dan terakhir Cathleen berhenti di bagian khusus alat masak.
“Kau mau membeli itu?” tanya Gerald saat sang istri seperti tertarik pada sebuah teflon anti lengket berwarna hijau tosca.
Cathleen mengangguk seraya menunjukkan benda yang kini ada di tangan. “Warnanya bagus, lucu.”
“Warnanya memang menarik, tapi tidak perlu membeli ini.” Gerald mengambil alih teflon tersebut dan diletakkan kembali ke tempat semula.
“Kenapa tidak boleh beli? Aku akan membayar sendiri menggunakan uangku.” Cathleen nampak memasang wajah muram karena gagal meminang alat masak yang menggemaskan itu.
“Di apartemenku sudah ada barang yang persis seperti yang kau pegang tadi, hanya berbeda warna.” Tangan kiri Gerald merangkul pundak Cathleen, sedangkan kanan untuk mendorong trolley, dia menuntun sang istri untuk berjalan meninggalkan area alat masak. “Jangan membeli barang yang kegunaannya sama, selain menghamburkan uang, itu juga membuat apartemenku semakin banyak barang.” Dia menjelaskan alasan kenapa tak mengizinkan membeli barang yang dianggap tidak penting.
Cathleen hanya mampu mengulas senyum, tak berani membantah. Namun dalam hati sedang mengeluh. ‘Nasib memiliki suami pengangguran dan pelit, belanja pakai uang sendiri pun dilarang membeli yang aku mau.’
...*****...
...Eh Kucing, kamu tuh gatau aja kerjaan Gege, kalo tau pasti terkejoddd. Dia itu kalo malem suka keliling, aku yang jaga lilin wkwkwk. Selain ngepet, dia tuh kayanya jadi calo game apa ngebandar, makanya tajir melintir tanpa kerja kantoran hahahaha...