Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 60


Gerald segera menengok ke arah sumber suara saat mendengar ada orang yang mengajak dirinya berbicara. “Kau? Kenapa masih di sini?” tanyanya. Wajah tampan itu tetap saja terkesan datar, meskipun sedang terkejut karena tidak menyangka ada wanita yang berstatus sebagai istrinya itu tengah berada di apartemen. Biasanya selalu sepi saat ia bangun.


Cathleen meletakkan MacBook ke atas meja. “Bekerja dari rumah.” Wanita itu lalu berdiri untuk mengayunkan kaki mendekati suaminya. “Apa kau setiap hari bangun sore?”


Tapi, orang yang hendak didekati justru tidak berdiam di tempat, melainkan sudah berjalan ke arah dapur untuk mengambil air minum. “Hm.” Gerald menjawab dengan membenarkan, meskipun yang keluar dari bibir adalah gumaman singkat.


Gerald hendak kembali ke kamar karena ingin melakukan aktivitasnya yang tak lain adalah bermain game. Tapi, tangannya sudah dicekal oleh Cathleen supaya pria itu tidak meninggalkan area dapur.


Pria keturunan Tuan Giorgio itu tidak berucap apa pun. Ia menundukkan kepala untuk melihat pergelangan tangan yang saat ini disentuh oleh Cathleen. Lalu mata tajamnya beralih menyorot wajah wanita yang menurutnya banyak bicara itu. Gerald menyentakkan dagu sedikit ke atas sebagai tanda memberikan izin untuk istri di atas kertasnya berbicara. “Apa?”


“Makan dulu, aku sudah menyiapkan untukmu,” ajak Cathleen seraya menunjuk meja makan.


Gerald melirik ke arah telunjuk Cathleen. Ia menghela napas. Kalau boleh jujur, masakan wanita itu sama sekali bukan seleranya. Tapi, karena perjanjian sialan, membuatnya mau tak mau harus menghargai apa yang sudah dibuat oleh istri di atas kertasnya.


“Kau beli atau memasak sendiri lagi?” tanya Gerald.


“Beli, lama-lama aku bosan makan masakanku sendiri, rasanya tidak terlalu enak,” jelas Cathleen.


“Syukurlah kau sadar diri,” celetuk Gerald dengan suara lirih seraya mengayunkan kaki untuk mengambil posisi duduk di tempat biasa dirinya makan.


Cathleen masih bisa mendengar gumaman suaminya. Ia juga ikut menghempaskan pantat di depan pria dingin itu. “Maaf kalau selama ini masakanku tak sesuai harapanmu. Aku sudah belajar semampuku, tapi ternyata sangat sulit.”


“Tak perlu mempersulit hidupmu. Restoran banyak, jika lapar, lebih baik beli saja. Setidaknya rasa terjamin dan perut pun pasti kenyang,” ucap Gerald seraya memasukkan hidangan yang akhirnya terasa enak di dalam mulut.


“Kau tak masalah jika aku sering beli makan dari luar?” Cathleen menemani Gerald di meja makan. Dia sudah menghabiskan makan siangnya, tapi tetap saja tidak ingin beranjak dari sana. Justru mengajak suaminya mengobrol supaya lebih terasa dekat dan sedikit seperti pasangan normal.


Cathleen menggelengkan kepala. “Tidak, tapi aku sendiri yang ingin.”


“Mulai sekarang, tak perlu kau mempersulit hidupmu. Kalau boleh jujur, aku tak terlalu menyukai masakanmu,” tutur Gerald.


“Kenapa?” Cathleen sejak tadi tak mengalihkan pandangan dari sosok pria berparas tampan di hadapannya. Rasanya jantung seperti melompat-lompat karena berdebar.


“Rasanya tak enak,” jawab Gerald sangat jujur.


“Tapi, kau selalu menghabiskan apa pun yang ku masak. Ku pikir kau suka dengan masakanku karena sesuai seleramu,” balas Cathleen dengan suara lembut.


“Itu hanya sebagai bentuk aku menepati janji kesepakatan kita untuk menghargaimu sebagai istriku.”


Cathleen sudah terlalu percaya diri sekali kalau menganggap masakannya adalah selera suaminya. “Apa kau orang yang selalu menepati janji?”


“Tentu saja.”


Tiba-tiba Cathleen teringat dengan salah satu isi kesepakatan yang dia ucapkan. “Jika Chloe ditemukan dalam kondisi hidup, mungkin suatu saat nanti kau sudah memiliki rasa denganku. Apakah kau tetap akan menceraikan aku?”


...*****...


...What? Si Gege ada rasa sama lu Cing? Jangan kepedean deh, gausah ngelunjak minta dicintai, udah syukur lu kagak diusir dari sono. Ni manusia atu bener-bener dah, udah dikasih hati masih minta jantung. Gak sekalian usus, empedu, dan jeroan lainnya? Jangan bikin emosi gue lu Cing! Lagi sensi nih...