
Cathleen terus terpukau dengan interior dan teknologi yang ada di dalam perusahaan suaminya. Tidak menyangka kalau pria yang dianggap seorang pengangguran, ternyata memiliki gedung semewah dan secanggih ini.
“Semua ini untuk karyawanku agar mereka nyaman saat bekerja, sehingga kinerja pun lebih optimal. Sedangkan aku menyukai bekerja dalam suasana sunyi, jadi memilih untuk di apartemen saja, mengontrol semua dari sana,” jelas Gerald. Dia membawa sang istri untuk tour ke seluruh ruangan yang ada di gedung tersebut.
Kehadiran Gerald di sana tidak membuat para karyawan heboh atau berbondong-bondong untuk menyelesaikan pekerjaan mereka atau sekedar ingin mencari muka agar terlihat rajin. Semua tetap melakukan seperti biasa walaupun tahu CEO datang dan melihat pekerjaan mereka secara langsung. Bahkan tidak ada sapaan yang terlalu berlebihan, hanya sebuah senyum setiap berpapasan.
Tentu saja karyawan Gerald tidak perlu takut ditinjau secara langsung. Mereka semua bekerja sesuai passion, jadi tidak ada yang melakukan pekerjaan karena terpaksa. Apa lagi jam kerja yang diterapkan oleh Gerald fleksibel, asalkan selesai sesuai batas waktu yang ditentukan. Sistem di sana tidak kaku karena membuat game butuh pikiran yang relax, apa lagi mencari ide-ide baru juga butuh otak yang jernih tanpa tekanan. Jadi bisa dikatakan mulai dari CEO sampai bagian struktural paling bawah di perusahaan itu, semua melakukan pekerjaan karena mereka menyukai game dan memang ahli dibidang masing-masing.
“Apa kau juga memiliki ruangan khusus di sini?” tanya Cathleen. Hampir semua tempat sudah diperkenalkan oleh Gerald, tapi ruang CEO belum.
“Ada, hanya saja jarang dipakai,” jawab Gerald seraya menekan tombol lift.
“Aku ingin melihat ruanganmu.”
“Akan ku bawa kau ke sana.” Gerald melingkarkan tangan di pinggul Cathleen. Menunjukkan kedekatan tersebut pada seluruh orang yang melihat mereka.
Gerald dan Cathleen masuk ke dalam lift saat pintu sudah terbuka. Keduanya bergabung dengan karyawan lain. Tidak ada lift khusus CEO, semua sama di sana, tak ada status atau pembeda antara atasan dan bawahan, agar bekerja tanpa rasa canggung.
“Wanita baru, Tuan?” tanya tangan kanan Gerald yang bertugas di perusahaan. Mendengar kabar kalau CEO datang, dia segera mencari keberadaan Gerald karena tidak dihubungi oleh orang yang bersangkutan. Memang atasannya sulit sekali ditebak. Untung saja bertemu saat di dalam lift.
“Istriku,” jawab Gerald dengan lantang agar semua yang ada di dalam lift dengar. Dan sudah pasti berita itu akan menyebar di seluruh karyawannya. Ia semakin merapatkan pinggul dengan Cathleen.
“Memang pernikahanku tertutup,” jawab Gerald dengan pandangannya terus lurus ke depan.
“Selamat atas pernikahannya.” Berbagai ucapan selamat yang terlambat diucapkan pun terlontar dari sepuluh orang yang ada di dalam lift.
Gerald tidak merespon, hanya diam saja. Memang pria itu jika di tempat ramai mulai berubah menjadi orang yang dingin. Untung saja Cathleen ramah, sehingga dia membalas dengan senyuman manis. “Terima kasih.”
Gerald, Cathleen, dan orang kepercayaan Gerald yang menjemput kedatangan CEO itu pun keluar dari lift. Mereka langsung menuju ruangan yang ingin dilihat oleh Cathleen.
“Felix, kau tidak perlu mengikutiku, aku datang ke sini bukan untuk bekerja. Lakukan saja apa pun yang kau mau.” Gerald merasa tak nyaman terus diekori oleh orang lain.
“Baik, Tuan.”
Jika Cathleen sedang diajak tour di perusahaan Gerald, melihat ruang CEO yang sangat luas, rapi, wangi, dan komputer edisi khusus sama persis dengan yang ada di ruang game dalam apartemen mereka. Berbeda dengan Edbert. Pria itu selama satu bulan penuh memantau perkembangan kesehatan Chloe.
“Kau yang menyelamatkan aku?” Untuk pertama kali Chloe mengeluarkan suara, bertanya pada pria yang belum pernah dia kenal.
...*****...
...Asekkk welcome back Closet, siap-siap jadi tempat berak si Gege wkwkwk nanti aku bilang ke dia biar rajin kasih Harpic supaya gak ada kuman...