Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 123


Edbert terkekeh pelan saat mendengar pertanyaan dari wanita yang sangat dia cintai. “Tidak ada hubungannya dengan sakitku, Cath.”


Cathleen menaikkan sebelah alis, masih dengan wajahnya yang terlihat bingung. “Lalu, kenapa sekarang kau jadi seperti ini? Apakah kepalamu baru saja terbentur sesuatu?”


“Tidak, semenjak kau memilih meninggalkanku, aku mulai mencoba instropeksi diri,” jelas Edbert.


“Apakah harus ditinggalkan terlebih dahulu baru kau mau berubah? Kenapa tak dari awal saat aku mengatakan padamu kalau aku tak suka sifatmu yang pengekang, kasar, emosi tak terkontrol?” Cathleen bukan tak pernah meminta Edbert merubah sifat buruk. Sebelum memutuskan untuk pergi dari kehidupan pria itu, dia sudah berkali-kali mengajukan protes, tapi tetap saja Edbert tak berubah sedikit pun. Sehingga, dengan berat hati pun Cathleen memilih untuk pergi dengan cara yang tak bagus dan memaksakan diri masuk ke dalam kehidupan Gerald.


Edbert mengulas senyum. “Nanti aku jawab, kita duduk di tepi danau saja, ya? Suasana di sana lebih tenang dan nyaman untuk mengobrol,” ajaknya seraya menunjuk ke arah hamparan air yang dikelilingi oleh pepohonan tinggi.


Cathleen mengangguk pertanda setuju, mereka berdua pun turun sendiri-sendiri, berjalan tanpa bergandengan walaupun sesungguhnya Edbert sangat ingin meraih tangan wanita itu.


“Aku tak membawa tikar.” Edbert memberi tahu seraya meletakkan jaket ke atas rumput. “Kau duduk di sini saja.” Dia menunjuk ke arah kain miliknya tersebut.


“Lalu kau?”


“Aku tak masalah di atas rumput.” Edbert duduk terlebih dahulu, ia menarik pelan tangan Cathleen yang masih berdiri agar segera duduk juga.


Kedua orang itu pun menatap ke arah air jernih yang nampak tenang. Membuat hati dan jiwa pun ikut lebih tentram.


Sebelum menjawab, Edbert menatap Cathleen terlebih dahulu, masih tetap sama, ada pancaran cinta yang tak pernah pudar. Lalu beralih meluruskan sorot mata ke depan lagi. “Mungkin dahulu caraku mencintaimu salah, Cath. Aku terlalu takut kehilanganmu. Kau tahu aku yatim piatu karena orang tuaku kecelakaan dan kakekku sakit. Semua bentuk kekanganku karena aku terlalu mencintaimu. Maaf jika baru sekarang aku mulai berubah, ku pikir kau akan bisa mengerti kondisiku yang seperti itu.” Kepalanya menunduk, menunjukkan penyesalan karena terlambat berubah.


Cathleen sejak tadi mengamati saat Edbert menjelaskan. “Perubahanmu sudah terlambat, Ed, aku telah memiliki suami.” Dia menunjukkan jari manis bagian kiri yang terdapat cincin.


Kepala Edbert mengangguk pelan, melemparkan batu kecil yang ada di dekat tempat dia duduk ke arah danau. “Aku tahu kalau kemungkinan kita bisa kembali sangatlah kecil. Harapanku padamu tak terlalu tinggi, bisakah mulai sekarang kita berteman baik atau bersahabat?” pintanya seraya mengulurkan tangan ke hadapan Cathleen.


Cathleen menatap ke arah tangan Edbert, lalu beralih menyorot wajah pria berwajah sangar tersebut yang nampak mulai melunak. “Sepertinya berteman baik tidaklah buruk.” Dia baru membalas jabatan tangan.


Dan Edbert semakin lebar mengulas senyum. “Terima kasih kau tidak membenciku dan masih mau berteman.”


Perlahan Edbert merubah posisi menjadi tidur di atas rumput. Dia menyilangkan kedua tangan di belakang kepala sebagai bantalan. Kedua mata kini menghadap ke hamparan langit yang tidak menunjukkan biru. “Cath, boleh aku bertanya sesuatu?”


...*****...


...Kacau ... kacau ... bisa oleng nih aku kalo kelakuan si Ee pake D mulai manis. Oh ayang Dariush, bebeb Iaz, maafkan daku kalo mau menambah koleksi target baru lagi ya. Iminku tak cukup kuat...