
Gerald kesulitan menerjang kelembutan Cathleen. Bagaikan celah yang begitu rapat, begitulah kiranya sang pria yang tak kunjung bisa memasukkan pusakanya.
“Kenapa sempit sekali?” tanya Gerald dengan posisi kepala didekatkan pada telinga sang istri.
Jantung Cathleen berdegup begitu cepat seperti orang yang baru saja lari marathon. Namun, ia berusaha tak menunjukkan kegelisahan. “Mungkin kembali rapat. Setelah kejadian malam itu, aku tak melakukan hubungan dengan siapapun, jadi ototnya bisa saja kembali kencang,” kilahnya sesuai saran yang diberikan oleh Alceena.
“Oh ... pantas saja.” Gerald menerima alasan yang diberikan oleh Cathleen. Memang hal seperti itu wajar, apa lagi ada jeda enam bulan setelah malam pertama kejadian yang menimpa dirinya.
“Mungkin ini akan sedikit sakit, apa kau tak masalah jika ku lanjutkan?” Gerald meminta izin karena pasti akan menyakiti Cathleen. Pria itu berbicara dengan jarak wajah yang sangat dekat, diiringi tangan mengusap bibir sang istri.
Cathleen mengangguk. “Lakukan saja.” Sesuai masukan dari Alceena lagi, dia tidak menolak.
Gerald menyatukan bibir dengan Cathleen lagi. Memulai pemanasan dari awal, membangkitkan gairah sampai sang istri benar-benar relax. Barulah ia lebih menekan bagian di pangkal paha saat berusaha memasuki penjinaknya.
Cathleen menggigit bibir bawah kala rasa sakit menjalar di area bawah sana. Ia sampai bergeleng kepala menahan perih yang baru pertama kali menjalar di tubuhnya.
“Jangan dilawan, relax. Jika sakit, kau boleh mencakarku,” bisik Gerald seraya mulai menggerakkan pinggul.
Kedua tangan Cathleen langsung bersemanyam di punggung suami, menancapkan kuku yang tak seberapa panjang itu tapi mampu melukai kulit Gerald.
“Semakin lama pasti kau akan terbiasa, Sayang, sakit itu hanya sementara.” Gerald sengaja berbisik di telinga Cathleen, ditambah suara erotis keluar dari bibirnya.
Sekian lama Edbert menjaga mahkota Cathleen untuk dinikmati sebagai hadiah ketika mereka menikah, ternyata Gerald adalah pemenangnya walaupun tanpa pria itu sadari.
Udara dingin tak mampu menusuk tubuh polos sepasang suami istri itu. Selain panas dari perapian yang ada pada jarak satu setengah meter dari tempat Gerald dan Cathleen bercinta, juga gairah dalam tubuh terus membakar hawa dingin. Sampai tak terasa tiga puluh menit berlalu, keduanya mencapai titik puncak.
Gerald sedikit menaikkan pinggul sang istri kala cairan hangatnya menyembur ke dalam rahim. Tak langsung memisahkan penyatuan, ia memastikan kalau tak ada setetes pun yang keluar atau terbuang sia-sia.
Barulah Gerald ambruk di samping Cathleen, menarik sebuah selimut tebal yang berada tak jauh dari tempat mereka bercinta. Tentu saja Gerald yang menyiapkan untuk berjaga-jaga jika merasakan dingin.
Gerald menyelimuti tubuh polosnya dan juga Cathleen. Memeluk wanita itu hingga rasa hangat dari kulit keduanya saling menghalau suhu dingin.
“Aku melepaskan di dalam sini. Kau tak ada rencana menunda hamil, ‘kan?” Gerald memberi tahu sekaligus mengajukan pertanyaan, seraya mengusap perut Cathleen. Dia harus meminta persetujuan walaupun itu sudah terlambat. Sebab, yang akan mengandung adalah istrinya, bukan dirinya, jadi harus ada kesepakatan terlebih dahulu daripada belum siap namun dipaksakan.
“Tak ada, kalau hamil pun berarti itu anugerah dari Tuhan yang perlu aku jaga,” balas Cathleen seraya mengusap rahang tegas Gerald.
...*****...
...Bener kan ada aja yang bilang kurang panas, kurang hot, ada novel yang lebih panas tapi lolos. Eh eh, sini deh kita ngopi, aku kirimin link skidipapap film purno biar kalian puas wkwkwkwk. Kabur ah, nanti ditagih link beneran lagi, saya kan polos gatau apa-apa...