
Cathleen hendak menyusul suaminya, dia ingin meminta maaf karena merasa bersalah sudah membuat Gerald menjadi bahan omelan semua orang di taman belakang mansion Dominique. Tapi, wanita berparas cantik dengan paduan manis yang tak bosan dipandang itu segera dicegah oleh Tuan pemilik tempat tinggal megah tersebut.
“Biarkan saja dia sendiri, percuma kau mendekati Gerald saat suasana hatinya buruk. Justru kau akan mendengar ucapan yang tidak enak didengar,” tutur Tuan Dominique saat Cathleen berpamitan ingin mencari salah satu keponakan yg sulit diatur tapi tidak pernah melakukan hubungan badan dengan berbagai wanita.
“Tapi—” Cathleen hendak menyanggah, namun tangannya sudah ditarik oleh Madhiaz hingga terduduk lagi di samping pria penuh perhatian itu.
“Dengarkan apa kata Tuan Dominique, Cath. Mereka lebih mengenal suamimu karena sudah hidup bersama sejak dia kecil. Kau baru menjadi istrinya selama beberapa bulan,” ucap Madhiaz seraya mengambilkan daging sapi yang sudah dipanggang.
“Bagaimana kalau Gerald marah padaku?” Wajah Cathleen yang cemas tidak bisa ditutupi.
“Marahnya dia hanya diam dan langsung pergi mencari ketenangan,” beri tahu Dariush yang sudah sering menghadapi salah satu sepupunya itu.
“Sudahlah, nanti Gerald balik lagi seperti biasa. Aku juga pernah didiamkan selama satu bulan oleh kembaranku itu saat ketahuan membawa paksa dia ke pesta,” imbuh Geraldine dengan memperlihatkan wajah santai seolah memberitahukan kalau Gerald sudah biasa seperti itu, dan bukan masalah yang sangat mengerikan.
“Setiap hari Gerald memang lebih banyak diam daripada berbicara. Apakah dia juga marah padaku kalau seperti itu?” tanya Cathleen.
“Orangnya memang seperti itu, daripada mengobrol, dia lebih baik bermain game.” Seluruh anggota keluarga Dominique dan Giorgio menjawab serentak seperti sedang paduan suara.
Cathleen menganggukkan kepala. Ternyata suaminya memang pria yang terlihat pemalas. Dia pikir karena tidak suka memiliki istri seperti dirinya, sehingga lebih baik diam.
Sampai waktu menunjukkan sore hari, barulah mereka mengakhiri acara berkumpul di taman belakang.
“Kita istirahat dulu, kalian bisa mandi dan jangan ada yang pulang. Kalian harus menginap di mansionku.” Tuan Dominique mengeluarkan sebuah perintah. Dia senang kalau tempat tinggalnya ramai. Sebab, semua anak-anaknya sudah menikah dan memilih tinggal terpisah. Membuat mansion sebesar itu jadi sepi kalau dihuni oleh istrinya saja. Jadi, setiap weekend, dia berinisiatif untuk mengajak berkumpul supaya lebih akrab dan membangun rasa kekeluargaan antar saudara, baik kandung, ipar, besan, sepupu, maupun menantunya.
“Termasuk kami?” tanya Mama Gwen seraya menunjuk anggota keluarganya.
“Ya, kalian sudah menjadi anggota keluargaku. Jadi, anggap saja mansion ini milik kalian juga,” jawab Tuan Dominique dengan santai.
“Nanti akan ada pelayan yang mengantar kalian untuk ke kamar. Di sini masih banyak yang kosong,” beri tahu Mommy Diora dengan suara lembutnya.
Mereka pun meninggalkan taman belakang dan bersamaan masuk ke dalam mansion. Jika keluarga Dominique dan Giorgio sudah tahu di mana kamar mereka masing-masing, lain hal dengan Papa Danzel, Mama Gwen, serta Madhiaz yang perlu diantarkan oleh pelayan. Namun tidak dengan Cathleen yang masih menengok ke kanan dan kiri mencari keberadaan suaminya.
Geraldine yang melihat saudari iparnya seperti sedang mencari keberadaan seseorang, langsung merangkul pundak Cathleen. “Kau tak akan menemukan dia di sini, kalau tidak pergi keluar, Gerald ada di kamarnya.”
...*****...
...Dih si Kucing masih aja usaha lu, udah tau sifat si Gege nyebelin begitu. Masih aja ngarep bisa dibales perasaan dan perhatiannya. Mimpi jangan ketinggian cing! Kalo jatoh ntar takutnya patah tulang apa gagar otak...