Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 136


“Kau sedang memiliki masalah?” tanya Mommy Gabby. Ia merasa ada sesuatu yang janggal dari tingkah Gerald. Tangannya terus mengusap punggung sang putra yang mendadak seperti melow.


“Aku hanya bingung saja, Mom,” balas Gerald. Ia masih mendekap sang Mommy karena terlalu nyaman.


“Apa yang kau bingungkan?”


“Cathleen marah padaku karena aku merubah penampilannya seperti Chloe. Aku tahu kalau salah, tapi semua yang ku lakukan untuk membuatnya tak marah lagi padaku ternyata tak membuahkan hasil. Dia sepertinya masih kecewa denganku.” Akhirnya, Gerald mengeluarkan segala keluh kesah pada Mommy tercintanya.


“Memangnya apa saja yang sudah kau kau lakukan untuk membuat istrimu memaafkanmu?”


“Memberikan perhatian lebih dari biasanya.”


“Hanya itu saja?” tanya Mommy Gabby seraya melepas pelukan dan beralih menatap Gerald dengan sedikit mendongak.


“Ya, memangnya apa lagi yang bisa ku lakukan kalau bukan sebuah tindakan?”


“Kau sudah mengucapkan maaf padanya?”


Kepala Gerald menggeleng pelan. “Apa sepenting itu kata maaf dibandingkan sebuah tindakan nyata?”


Mendengar jawaban sang anak, membuat Mommy Gabby terkekeh. Ia seperti melihat suaminya di masa muda. “Kau persis seperti Daddymu,” tuturnya seraya menoel hidung mancung Gerald.


Mommy Gabby menggandeng tangan Gerald, mengajak putranya untuk duduk di sofa terdekat.


Mata Mommy Gabby saling bertemu pandang dengan sang putra. Tangannya menumpuk dengan tangan Gerald dan memberikan elusan pada permukaan kulit yang ditumbuhi bulu-bulu halus. “Ge, tidak semua orang bisa melupakan masalah begitu saja. Banyak dari mereka yang membutuhkan sebuah kata maaf atas kesalahan yang sudah diperbuat. Mungkin menurutmu, apa yang kau lakukan saat ini benar, tapi belum tentu bagi orang yang sudah kau lukai hatinya.” Ia mencoba memberikan nasihat karena pernah mengalami hal yang sama seperti menantunya.


Mommy Gabby mengangguk sebagai jawaban spontan. “Selain tindakan, sebuah ucapan juga perlu. Tidak sulit mengatakan satu kata itu, mulailah belajar untuk mengakui kesalahan, Ge. Derajatmu tak akan turun juga kalau kau bersedia meruntuhkan egomu.”


Gerald tidak menjawab lagi. Bibir sudah terbungkam karena setiap kalimat yang diucapkan oleh Mommy Gabby telah dicerna ke dalam otak.


Entah dia akan melakukan sesuai nasihat yang disampaikan atau tidak. Yang penting Mommy Gabby telah memberikan saran sesuai kata hati dan juga memikirkan dari sudut pandang wanita terutama dirinya sendiri.


Gerald memilih tidak pulang ke apartemen. Dia tetap di mansion Giorgio sampai sore.


“Mom, aku pergi dulu, mau menjemput Cathleen.” Tiga puluh menit sebelum waktu pulang kantor, Gerald berpamitan pada Mommy Gabby.


“Tak mau makan dulu? Mommy sedang siapkan.” Mommy Gabby menunjuk beberapa hidangan yang tengah disajikan ke atas meja.


“Masukan ke dalam wadah saja, Mom. Nanti aku makan di apartemen bersama Cathleen,” pinta Gerald. Dia berinisiatif mengambilkan tempat untuk membawakan hidangan yang lumayan banyak macamnya.


Mommy Gabby pun memasukkan masakannya sesuai permintaan Gerald. Ia menyodorkan lima wadah yang sudah ditata rapi. “Jangan lupa, katakan maaf pada istrimu. Kalau Cathleen masih marah, maka bawa dia ke mari, aku yang akan menasehatinya.”


“Iya, Mom, akan ku pertimbangkan. Terima kasih sudah menampung keluh kesahku.” Gerald mengulas senyum manis sebelum akhirnya meninggalkan mansion Giorgio.


Gerald langsung menuju perusahaan Cathleen. Ternyata wanita yang hendak dijemput sudah berdiri di depan pintu lobby. Buru-buru ia turun dan menghampiri sang istri. “Maaf, aku terlambat, ya?” tuturnya dengan alunan suara maskulin yang terdengar lembut.


...*****...


...Nih aku kasih tau Ge, kalo Kucingmu merajuk terus, yaudah tinggalin, ganti sama aku aja. Gitu aja kok diambil pusing, nanti cepet tua lu, yang ada aku gak berselera lagi kalo kamu umur muda tapi wajah opa-opa...