Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 100


Agen rahasia itu semakin memotong jarak dengan Edbert. Dan kini ia berada tepat di samping ranjang pasien.


“Dekatkan wajahmu padaku!” titah Edbert.


Agen rahasia itu tak menanggapi dengan ucapan, cukup membungkukkan tubuh sampai telinganya berada di depan wajah Edbert. Tapi, mendadak pria berwajah garang dengan tato di sekujur tubuh itu menarik kerah baju yang dia pakai.


“Wanita itu sungguh sudah tiada atau tidak?” tanya Edbert tepat di indera pendengaran agen rahasia sewaannya.


“Kemungkinan belum, itu hanya spekulasiku saja. Jika meninggal di dalam laut, pasti tak lama setelah insiden itu akan ditemukan jasad atau setidaknya tanda-tanda kematian. Tapi, selama tiga tahun, tidak ada apa pun yang di dapatkan,” jelas agen rahasia itu seraya menatap berani ke wajah Edbert.


“Jadi, sekarang di mana wanita itu?”


“Kemungkinan dia diculik oleh seseorang. Tapi penculiknya pasti cerdas karena tidak meninggalkan pertanda sedikit pun yang mencurigakan.”


Edbert melepas cengkeraman tangan di kemeja agen rahasia tersebut dengan mendorong supaya pria yang dia bayar mahal demi sebuah informasi itu menjauh dari sisinya. “Cari wanita itu sampai dapat! Aku tak mau tahu! Kalau perlu, kau cari orang yang mau dioperasi wajahnya agar persis seperti orang yang dicari oleh Gerald!”


Agen rahasia itu langsung menegakkan tubuh. Dia tidak menunjukkan sedikit pun kelemahan. “Selama ini tak segera memberimu hasil pencarian karena aku sedang mencoba mencari orang itu.”


“Good, lanjutkan pencarianmu, atau kau lakukan ideku yang tadi.” Edbert mengibaskan tangan mengusir agen rahasia agar segera pergi dari pandangannya.


Pria yang bekerja secara ilegal itu menundukkan kepala dan meninggalkan ruang rawat Edbert.


Bibir Edbert langsung mengulas senyum karena merasa ada sedikit harapan untuk menghancurkan rumah tangga Cathleen dengan Gerald. “Jangan sebut aku si pemilik segalanya jika tak berhasil mendapatkan kembali wanitaku,” gumamnya. Dia sangat yakin akan berhasil menjerat kekasihnya lagi. Sejauh ini belum pernah dia gagal mendapatkan semua yang diinginkan, hanya Cathleen saja yang susah sekali dipenjara.


Meskipun hubungan dengan sang suami sudah sedikit menunjukkan kemajuan, tapi Cathleen tetap menghabiskan waktu di saat weekdays di perusahaan. Hanya saja suasana hatinya kini lebih bagus.


Cathleen tidak takut ditarik paksa atau dijerat oleh Edbert lagi. Sebab, Gerald sudah mengatakan akan menjaganya walaupun tidak bisa dua puluh empat jam karena kegiatan mereka berbeda.


Tapi setidaknya, selalu ada waktu yang sengaja disisihkan untuk berdua. Entah hanya untuk makan bersama, mengobrol sebentar, atau pendekatan lain yang masih berada di tahap awal perkenalan.


Ponsel Cathleen tiba-tiba berbunyi, menandakan ada yang menghubungi. Ia segera menghentikan pekerjaan yang harus fokus ke monitor. Dia mengalihkan pandangan ke layar yang lebih kecil dan membaca ada nama suaminya di sana. Otomatis tangan pun mengangkat panggilan tersebut.


“Ya, Ge?” sapa Cathleen dengan suara yang terdengar gembira. Bisa dikatakan ini adalah pertama kalinya Gerald menelepon terlebih dahulu.


“Kau jadi belanja setelah kerja?” tanya Gerald. Sebelum tadi pagi Cathleen berpamitan, istrinya itu mengatakan akan pulang terlambat karena hendak membeli keperluan di apartemen mereka.


“Jadi, kau ingin titip sesuatu?” tawar Cathleen.


“Tidak, aku hanya ingin bertanya saja,” balas Gerald. “Kau berangkat mengendarai mobil sendiri?” Dia justru mengalihkan dengan pertanyaan baru.


“Iya, memangnya ada apa? Tumben sekali kau bertanya seperti itu.”


...*****...


...Mau modus si Gege, lagaknya mau jemput kamu tuh cing kalo ga bawa mobil. Tapi kamunya naek mobil sendiri wkwkwk kacian deh Gege, gagal modus. Udah bener lu kaga usah cairin itu Es. Biar dingin lebih seger, hemat gak perlu beli kulkas...