Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 155


Cathleen menyambut kedatangan Gerald dengan suka cita. Wanita itu menghambur ke dalam pelukan sang suami yang sudah merentangkan tangan sejak tadi. “I really miss you.” Ia mencium aroma tubuh yang begitu dirindukan, padahal hanya ditinggal pergi selama dua hari.


Tangan Gerald langsung mendekap hangat Cathleen, mengusap puncak kepala hingga punggung dengan gerakan yang sangat lembut. “Aku juga.”


Sementara itu, dari dalam bangunan utama, Papa Danzel melihat kalau Cathleen dan Gerald sedang berpelukan seolah tengah melepas rindu. “Bawa masuk, Cath! Jangan di depan pintu, kalian bisa menghalangi orang yang akan masuk ke dalam!” titahnya.


“Ya, Pa.” Cathleen melepaskan pelukan dari Gerald. Ia berpindah berdiri di samping sang pria dengan posisi tangan suaminya merengkuh pinggul. “Masuk dulu, yuk.”


“Sepertinya harus, Papamu seakan terlihat ingin menelan orang hidup-hidup saat melihatku,” kelakar Gerald seraya mulai mengayunkan kaki masuk ke dalam.


“Papaku tak makan orang. Mungkin karena kalian belum terlalu mengenal satu sama lain, maka kau merasa kalau orang tuaku sedikit terlihat kurang menyambutmu dengan baik,” jelas Cathleen. Dia mengelus lengan Gerald agar tak berburuk sangka terlebih dahulu pada orang tuanya.


“Ya, salahku juga karena jarang bertemu dengan orang tuamu.”


Memang tak pernah Gerald berkunjung untuk sekedar mengobrol atau menanyakan kabar pada mertuanya. Padahal tempat tinggal mereka dekat dan ada di kota yang sama. Sungguh berbeda dengan Edbert yang selalu rela datang jauh dari New York ke Helsinki, sekedar untuk berkunjung atau menginap, menjalin kedekatan dengan Tuan dan Nyonya Pattinson.


Cathleen mengulas senyum sepanjang langkah kaki menuju ke arah Papanya. Dia memperlihatkan kalau hidupnya bahagia bersama Gerald. Wanita itu seakan ingin memberi tahu kalau pria di sampingnya adalah orang yang tepat sebagai suami.


Sementara Papa Danzel, pria paruh baya itu terus mengamati bagaimana anak dan menantunya berinteraksi. Ada kelegaan kala melihat Cathleen menunjukkan senyum bahagia yang sudah jarang ia lihat. Sedikit ragu kalau yang membuat putri tercintanya seperti itu adalah pria yang saat ini berdiri di samping Cathleen. Sebab, terakhir kali pertemuannya dengan Gerald yaitu ketika pria itu membuat anaknya menangis.


Papa Danzel menaikkan sebelah alis karena merasa aneh. Tiga kali mereka bertemu, Gerald selalu terlihat angkuh. Kini menantunya mendadak ramah sehingga uluran tangan itu masih dipandangi saja.


“Pa, suamiku sudah berusaha untuk menghormatimu, bertanya kabar. Jangan dianggurkan seperti itu.” Cathleen memberikan teguran pada Papa Danzel karena Gerald masih tetap mengatungkan tangan di udara sebelum dibalas.


“Maaf.” Barulah Papa Danzel menjabat sang menantu. “Kabarku baik, bagaimana denganmu?” Sedikit canggung, mungkin karena selama enam bulan lebih Gerald bergabung dengan keluarganya, tapi belum pernah bertemu dalam suasana yang baik.


“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menjaga istriku selama aku pergi beberapa hari. Maaf karena tak menitipkan pesan apa pun, dan langsung meninggalkan Cathleen di sini tanpa bertemu denganmu terlebih dahulu.” Gerald berusaha mengulas senyum ramah.


“Ya, tak masalah, mungkin kemaren kau terburu-buru.” Gerald ramah, maka Papa Danzel pun melakukan hal yang sama. Ia menarik tangan dan menyudahi jabatan dengan sang menantu.


“Sepertinya kalian butuh mengobrol berdua, aku akan membuatkan minuman.” Cathleen ingin memberikan ruang agar orang tuanya dan sang suami bisa sedikit lebih akrab. Ia melepaskan diri dari Gerald, dan meninggalkan dua pria yang sama-sama penting dalam hidupnya.


...*****...


...Gak cocok euyyy mertua dan menantu akrab begitu. Lunak bener Papa Danzel, dirahamin sama Gege langsung berubah baek. Dih jangan percaya sama menantumu itu Pa, nanti anakmu dibikin nangis lagi loh sama dia. Tiati, aku gak nakut-nakutin, cuma ngingetin aja...