
Gerald duduk mematung di tepi ranjang. Dia membiarkan Cathleen yang sedang berdiri di hadapannya itu mengeringkan rambut pendeknya. Tapi, sudah tiga puluh menit berlalu, istrinya itu tak segera menyudahi.
“Lama sekali kau mengeringkan rambutku,” protes Gerald seraya menarik tangan Cathleen supaya menyudahi memegang kepalanya.
Cathleen menyengir, senang sekali bisa menyentuh Gerald sampai berasa menjadi seperti seorang istri dan berakhir sengaja memperlama mengeringkan rambut pria berhati dingin itu.
“Maaf, aku terlalu menjiwai,” kilah Cathleen.
Gerald hanya menanggapi dengan gelengan kepala. Dia tidak marah dengan mengeluarkan kata-kata kasar. Pria itu justru kembali merebahkan tubuh, menyilangkan kedua tangan yang digunakan sebagai bantal, dan memejamkan mata.
Cathleen menghela napas, tersenyum getir karena lagi-lagi Gerald mengabaikannya. “Kau sudah mau tidur? Tak mau makan dulu? Aku akan ambilkan jika kau mau.”
Sembari melepas hairdryer dari colokan, Cathleen memberikan penawaran. Dia merasa senang bisa melayani Gerald seperti tadi, walaupun hanya menyiapkan pakaian ganti dan mengeringkan rambut. Setidaknya dengan seperti itu, dia merasa dianggap ada di sisi Gerald.
“Tidak, jika kau lapar, keluar dan makan saja. Jangan ganggu aku tidur, besok harus melanjutkan pencarian Chloe.” Tanpa basa-basi, Gerald langsung menolak.
Dan penolakan itu membuat Cathleen tersenyum miris. Rasanya seperti sulit menggantikan posisi Chloe di hati Gerald. Dia pun memilih untuk keluar kamar, meninggalkan suaminya seorang diri.
“Beruntung sekali Chloe bisa dicintai Gerald sampai membuat pria itu tak melirik wanita lain termasuk istrinya sendiri,” gumam Cathleen setelah menutup pintu kamar.
Cathleen tidak pernah berpikir kalau Edbert pun sama seperti Gerald yang mencintai seorang wanita sampai ketulang-tulangnya. Mungkin perlakuan Edbert yang seperti sipir penjara itu membuat logikanya tertutup dengan keinginan hidup bebas tanpa kekangan. Padahal, dibalik perjuangan Cathleen mengambil hati Gerald, ada Edbert yang terus mencintai seorang Evanthe Cathleen Pattinson, walaupun sudah dikhianati dengan tidur bersama pria lain.
Sampai detik ini, Edbert belum tahu dibalik kejadian Cathleen dan Gerald, sebab dia tak mendengar dan mengintai Cathleen setiap saat dari CCTV yang sengaja dipasang. Sehingga dirinya tak tahu kalau Cathleen pernah membocorkan trik licik menjebak Gerald pada Alceena. Andai saja Edbert sadar dan tahu kalau memiliki kunci itu, pasti akan dipakai untuk mengancam Cathleen. Tapi sayangnya, dia tak pernah melihat rekaman CCTV yang sudah berlalu.
“Argh ... lama sekali agen rahasia itu mendapatkan hasil!” teriak Edbert. Dia memang orang yang mudah marah jika keinginannya tidak segera tercapai.
“Ini baru satu minggu dari Anda memberikan perintah pada agen rahasia itu, Tuan,” ucap sekretaris Edbert yang setia berdiri di sudut ruangan. Dia sampai menyayangkan barang-barang berharga yang pecah karena dibanting oleh atasannya. Satu kali marah, kerugian bisa mencapai dua puluh ribu dollar Amerika Serikat.
Mendengar ada suara yang menyela saat dirinya marah, Edbert memasang mata yang nyalang ke arah sekretarisnya. Dia mengayunkan kaki ke arah pria yang sedang berdiri tegap. Matanya tidak berkedip sedikit pun, tetap melotot sampai kaki berhenti tepat satu langkah di depan sang sekretaris.
Plak!
Edbert melayangkan tamparan yang sangat keras di pipi sekretarisnya. “Siapa yang menyuruhmu berbicara, ha?! Lancang kau menyelaku.” Dia mencengkeram rahang pria yang sudah bekerja dengannya selama lima tahun.
“Maaf, Tuan, saya hanya mengingatkan Anda kalau waktu satu minggu itu belum tergolong lama.” Masih berani saja sekretaris itu menanggapi kemarahan Tuannya.
“Bagiku, satu minggu itu lama. Rasanya ingin ku culik Cathleen sekarang juga dan ku kurung sampai dia tak bisa ditemukan oleh siapapun.” Edbert melepaskan cengkeraman dengan kasar sampai kepala sekretarisnya tersentak ke kanan.
“Saran saya, jangan lakukan itu, Tuan. Nona Cathleen pasti akan membenci Anda. Lebih baik perbaiki diri, hilangkan sifat-sifat yang tidak disukai oleh mantan kekasih Anda.”
Lagi-lagi Edbert memelototi sekretarisnya. “Kekasih! Aku belum menganggap hubunganku dengan Cathleen berakhir!” Dia menekankan kata kekasih seolah menegaskan kalau Cathleen seharusnya tetap menjadi miliknya sampai kapanpun.
...*****...
...Oalah Cath, kamu itu harusnya dimusnahkan karna seperti narkoba. Noh bikin Edbert sakaw karna overdosis cinta...