Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 210


“Mengundurkan diri, Gerald yang menghasut karena dia ingin lebih dekat denganku menggunakan cara menggantikan supirku,” jelas Cathleen seraya mendekati Edbert yang tengah memegang sebuah cetak biru.


Edbert menatap Gerald dengan senyum mengejek. “Ketika masih menjadi istri saja didiamkan demi merawat mantan, sekarang sudah berpisah kau kejar-kejar.”


Tapi Gerald tetap biasa saja, dia tidak peduli diejek oleh rivalnya. Toh memang yang diucapkan adalah fakta bukan fitnah. “Memangnya kenapa? Cathleen single, aku berhak mendekatinya.”


“Oh, ya? Apa kau single, Cath?” Edbert sengaja bertanya seperti itu pada Cathleen supaya Gerald kebakaran jenggot alias cemburu. Ia merangkul wanita yang sampai detik ini masih memenuhi perasaannya. “Hatiku sakit, Sayang, kenapa kau mengatakan single pada bedebah satu ini.” Semakin menambah bumbu-bumbu drama, asyik juga mengerjai Gerald. Apa lagi melihat wajah duda satu itu memasang mimik kesal.


“Ed, sudah, jangan mengerjai Gerald.” Cathleen berbisik diikuti tangan mencubit perut Edbert.


“Aw ... sakit, Sayang, kalau mau pegang-pegang perutku jangan di sini, nanti saja di mansion. Kau bisa menghajarku di atas ranjang sampai puas.” Edbert mengeraskan suaranya hingga Gerald yang sedang berdiri di belakang punggung mereka pun bisa mendengar.


Tangan Cathleen langsung membekap mulut Edbert yang tidak ada filternya itu. Benar sih mantan kekasihnya sudah berubah tidak tempramen lagi, tapi sekarang menjadi jahil kalau ada Gerald. Dia tahu tujuannya hanya ingin membuat duda baru itu cemburu, tapi tidak dengan berteriak juga di saat banyak karyawan di lokasi proyek. “Pelankan suaramu, Ed.”


Kedua tangan Gerald mengepal kuat, rahanganya mengeras, bahkan mata pun terasa sangat panas. Apa lagi hati, berasa butuh pemadam kebakaran untuk mematikan kobaran api. Kedekatan Edbert dan Cathleen terlihat sangat tak wajar.


Tapi, namanya juga Gerald, bisa mengontrol emosinya. Menghela napas pelan terlebih dahulu, barulah ia berjalan mendekati Cathleen.


Kalau Edbert merangkul mantan istrinya, berbeda dengan Gerald yang memilih untuk tiba-tiba menggandeng tangan Cathleen. “Mari bersaing secara sehat,” tantangnya seraya melemparkan tatapan permusuhan.


“Siapa takut.” Edbert menaikkan kedua alis, menunjukkan kalau dia bersedia. Walaupun di dalam hatinya menggumamkan kalimat yang tak akan pernah bisa didengar oleh Gerald. ‘Tentu saja kau yang akan menjadi pemenangnya, karena ada anakmu di dalam perut Cathleen.’


Cathleen menggoyangkan tangannya supaya Gerald berhenti menggenggam. “Tolong lepaskan, aku tidak ingin membuang waktu dengan meladeni kalian berdua yang seperti anak-anak tengah merebutkan mainan.”


“Kau bukan mainan, tapi mantan istri yang sedang ku perjuangkan untuk kembali.” Gerald langsung menyanggah, dia berhenti menggenggam kalau Cathleen tidak suka.


Cathleen segera mengayunkan kaki menjauh dari kedua mantannya. Edbert dan Gerald kalau bertemu tidak pernah akur, membuatnya nyut-nyutan mendengarkan perdebatan tersebut.


“Jangan mau kembali dengan dia, Cath, kau hanya mendapatkan sisa rasa. Berbeda dengan aku yang memberikan sepenuhnya.” Edbert melemparkan senyum penuh sindiran yang menohok. Ia segera menyusul Cathleen yang sudah berjarak lima meter.


“Dasar kuman, kau itu selalu saja mengganggu dan menempel pada Cathleen,” gerutu Gerald. Tidak berdiam diri saja, dia segera mengikuti mantan dan rivalnya.


Ketiga orang itu berdiri bersamaan di depan gedung yang belum jadi. Cathleen berada di tengah.


“Kau ke sini untuk apa? Bukankah menjadi supir? Silahkan tunggu di mobil,” ucap Edbert mengusir.


“Aku bukan sembarang supir, tapi sekaligus bodyguard Cathleen yang akan menjaganya dari kuman sepertimu!” Gerald menarik sebelah sudut bibirnya.


...*****...


...Duo mantan ni lama-lama ku sediain ring tinju sekalian loh biar duel jotos-jotosan...