Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 102


Untuk pertama kali Cathleen dijemput oleh suami. Padahal dia tidak meminta. Dan gaya menjemput sungguhlah aneh, biasanya pria datang membawa kendaraan sendiri, tapi Gerald hanya datang dengan badan berpakaian santai saja.


Mobil milik Cathleen yang sudah diperbaiki setelah menabrak halte beberapa bulan lalu itu mulai berjalan di atas aspal Kota Helsinki.


Bibir Cathleen tidak pernah memudarkan senyum dan mata juga terus menatap ke arah Gerald yang nampak fokus ke jalan dengan wajah datar.


“Kenapa menatapku terus?” tanya Gerald yang sadar jika diperhatikan. Tapi dia tidak melirik ke arah wanita manis di sampingnya.


Cathleen menggelengkan kepala pelan. “Aku tak menyangka saja kau tiba-tiba datang ke perusahaanku hanya untuk menjemput. Padahal biasanya pun aku pulang ke apartemen sendiri.”


“Karena aku ingin mencoba mendekatkan diri denganmu. Mungkin dengan kita belanja bersama, bisa lebih membantu menimbulkan rasa di hatiku,” jelas Gerald. Masih sedikit kaku saat dia berbicara panjang. Mungkin karena sedang masa peralihan dari sosok dingin yang pelit mengeluarkan suara, menjadi orang yang sedikit lebih hangat.


“Aku senang kalau kita bisa keluar berdua seperti ini,” balas Cathleen. Setelah lama tak merasa bahagia, akhirnya hati pun mulai ditumbuhi bunga yang perlahan bermekaran.


Kendaraan roda empat itu pun berhenti di lampu merah. Barulah Gerald menengok ke arah sang istri. “Kita belum pernah berkencan. Apa suatu hari nanti kau mau berkencan denganku?”


Tentu saja Cathleen langsung menganggukkan kepala. “Boleh, kapan kita bisa melakukan kencan?” Suara yang keluar dari bibir manis itu menunjukkan antusias. Bagaimana bisa menolak kalau pergi berdua dengan suami, apa lagi sifat Gerald yang sekarang hampir memenuhi semua tipe pria idamanannya yaitu tidak suka tebar pesona dengan wanita, perhatian, misterius, emosi lebih stabil walaupun kalau marah pasti diam, jarang membentak, tidak kasar, dan yang pasti tidak pernah mengekang.


“Nanti kita cari hari yang pas. Mungkin saat libur agar kau tidak terlalu lelah setelah seharian kerja.”


“Kapanpun aku bisa.”


Gerald tidak menanggapi lagi. Dia melajukan mobil setelah lampu berubah menjadi hijau.


“Kau mau belanja di mana?” tanya Gerald yang tak tahu arah tujuan sang istri tapi sejak tadi sudah menjalankan mobil saja.


“Terserah, di supermarket terdekat juga boleh,” jawab Cathleen.


“Oke.” Gerald pun akhirnya memberhentikan kendaraan di depan supermarket yang paling dekat dengan arah jalan yang dilewati.


“Mau aku gandeng?” tawar Gerald seraya mengulurkan tangan ke depan sang istri yang sedang berusaha untuk dicintai.


“Boleh, jika kau tak malu dilihat banyak orang.” Cathleen pun menyatukan telapak tangan dengan Gerald.


“Aku tak malu, hanya kurang terbiasa saja seperti ini. Mungkin pelan-pelan bisa ku nikmati kehidupan yang sekarang.”


Untuk pertama kali, Gerald dan Cathleen bergandengan di tempat umum. Serta suasana hati mereka juga berbeda dari sebelumnya.


Tidak ada yang peduli juga kalau mereka berjalan bergandengan. Toh bukan Gerald dan Cathleen saja yang menunjukkan kontak fisik seperti itu di tempat umum.


Keduanya pun masuk ke dalam supermarket, Cathleen hendak mengambil trolley karena ia sudah terbiasa seperti itu. Tapi tangan Gerald mencegah.


“Biar aku saja.” Gerald secara pelan menyingkirkan tangan Cathleen dari pegangan trolley. Dan dia yang mendorong benda tersebut.


Cathleen merasa seperti memiliki pernikahan yang sempurna jika begini. Bibirnya sampai tak bisa melunturkan senyum senang. “Kita ke sana dulu, aku ingin membeli camilan,” ajaknya seraya menunjuk sebuah lorong tempat snack.


Gerald hanya merespon dengan anggukan. Tapi kaki terayun ke arah yang dimaksud. Keduanya pun berjalan beriringan tanpa bergandengan lagi.


Sampai di rak tempat snack berjajar banyak dan beragam, Cathleen sibuk memilih, Gerald pun demikian. Mereka saling membelakangi karena yang dicari berbeda.


Jalan di lorong itu jadi sedikit berkurang karena ada tubuh pengantin baru yang saling membelakangi. Karena mereka fokus memilih snack, sampai tak sadar kalau ada orang yang lewat dan tidak sengaja menyenggol sedikit pinggang Cathleen.


“Aw ...,” pekik Cathleen.


...*****...


...Caperrrrr caperrrr kesenggol dikit aja langsung aw aw aw, udah kaya ditabrak mobil aje lu Cing! Dasar aleman...