
Gerald tidak menanggapi ucapan terima kasih yang dilontarkan oleh Cathleen. Dia merasa tidak perlu itu, sebab yang dilakukan tadi adalah untuk memenuhi kesepakatan yang sudah direkam sebelum menikah. Jadi, Gerald merasa memang perlu melakukan hal seperti yang baru saja terjadi pada mereka. Semua itu dilakukan bukan karena dorongan hati, melainkan sebuah tanggung jawab akan janji.
Cathleen melirik ke arah suaminya karena tidak berbicara sedikit pun. “Kau lupa caranya berbicara?”
“Tidak.” Gerald hanya menjawab singkat dan enggan menatap ke arah wanita tersebut.
“Lalu, kenapa kau diam saja sejak tadi?”
Gerald menghela napas kasar. Sepertinya ia kurang menambahkan saat kesepakatan, kalau seharusnya Cathleen jangan banyak bicara. “Kau bisa diam, tidak? Aku pusing mendengarmu mengoceh terus.”
“Baiklah, lain kali aku akan mencari cara berkomunikasi denganmu tanpa menggunakan suara supaya kau tak pusing mendengar suaraku.” Cathleen mengatupkan bibir supaya tidak kelepasan berbicara lagi dengan Gerald.
“Terserah.” Gerald kian menginjak pedal gas agar kendaraan roda empat tersebut melaju kencang dan sampai ke tujuan dengan cepat. Ia sangat ingin segera menurunkan Cathleen, supaya menjadi lebih tenang.
Mobil Gerald pun berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit. Tanpa berbicara, ia membuka lock door agar Cathleen bisa segera turun. Pandangan juga tetap lurus ke depan. Entahlah, pria itu aneh sekali, ada wanita cantik di sampingnya tapi tidak tertarik untuk dilirik apa lagi dilihat.
Cathleen menaikkan sebelah alis kala sadar jika perusahaan di depan bukanlah tempat tujuannya. “Kenapa kau membawaku ke sini?”
“Mengantarmu bekerja.”
“Tapi, ini perusahaan pusat Patt Group. Sedangkan aku bekerja di cabangnya,” protes Cathleen dengan memberi tahu dan menunjuk arah pintu masuk.
“Kau tidak memberi tahu padaku ke mana tujuanmu, maka jangan salahkan aku jika tak sesuai,” ucap Gerald yang tak mau disalahkan.
“Seharusnya kau yang berinisiatif sendiri memberi tahu, karena kau yang butuh tumpangan, bukan aku!” Gerald menginjak pendal gas lagi dan melaju di atas jalanan Kota Helsinki.
Cathleen sampai bergeleng kepala melihat sikap Gerald. Pria itu memang terlihat tak hangat padanya, tapi memiliki sisi unik juga karena tidak pernah menurunkan di pinggir jalan walaupun ia sudah membuat kesal setengah mati.
Cathleen pun memberitahukan di mana lokasi perusahaan berada. Dan Gerald tidak menanggapi, cukup melajukan kendaraan ke alamat tersebut.
“Jangan menatapku! Aku tidak suka!” tegur Gerald saat ia merasa jika sejak tadi Cathleen melihat ke arahnya. Walaupun tidak melirik, tapi bisa tahu kalau sedang diperhatikan.
“Percaya diri sekali, aku sedang melihat kaca mobilmu yang kejatuhan kotoran burung.” Cathleen menunjuk arah di mana matanya terfokus.
Gerald melihat ke jendela di sampingnya. “Ck! Baru kemarin ku cuci.” Ia menggerutu sebal. Tapi wajah tetap saja terlihat datar.
Cathleen mengalihkan kepala ke arah jendela di sampingnya. Ia terkikik pelan agar tak terdengar sampai ke telinga Gerald. “Biasanya wanita tidak pernah salah, kali ini tak berlaku pada Gerald yang tak pernah mau disalahkan,” gumamnya sangat lirih.
Gerald pun berhenti di perusahaan tempat Cathleen bekerja. Lagi-lagi tidak ada perintah untuk turun yang keluar dari bibir.
“Nah, ini baru benar perusahaanku.” Cathleen membuka seatbelt. Sebelum meninggalkan suaminya, ia bertanya terlebih dahulu pada Gerald. “Apa nanti sore kau juga mau menjemputku?”
...*****...
...Na ini nih, dikasih hati minta jeroan, dah dianterin masih aja minta jemput. Balik ngesot sono Cath...