
“Tidak perlu, aku sudah tahu siapa kau,” balas Gerald dengan suara ketus. Dia tidak suka melihat Cathleen dekat lagi dengan pria itu, apa pun alasannya. Bahkan hanya sebatas partner kerja juga rasanya tak rela. Tapi, kenyataan mulai menarik kesadarannya kembali bahwa sudah tidak ada lagi hak untuk melarang mantan istri memiliki hubungan dengan siapapun.
“Tapi ku rasa kita tetap perlu berkenalan. Awal pertemuan kurang baik, sepertinya sekarang ingin membuat kesan yang bagus.” Dia tidak langsung duduk, tapi mendekati Gerald terlebih dahulu untuk melakukan jabat tangan.
“Arthur Brylee Caldwell Delano Edbert Fergie Grisham, partner kerja Cathleen, sekaligus pria yang selalu memprioritaskan orang yang dicintai di atas segalanya.” Tangannya terulur seraya mengulas senyum menyindir Gerald karena sudah menomor duakan wanitanya hingga berakhir dengan sebuah perceraian.
Dengan wajah dingin Gerald, dia memutarkan kedua bola mata malas. “Panjang sekali namamu, bahkan aku pun malas mengingat.” Meskipun dia balas mengejek, tapi tetap membalas jabatan tangan. Secara sengaja mencengkeram sangat erat karena entah kenapa hati merasa kesal melihat pria di depannya itu. “Gerald Gabriel Giorgio, mantan suami Cathleen yang masih memiliki sisa rasa untuknya.” Kata mantan suami dengan jelas lebih dipertegas.
Edbert menarik tangannya, dia tersenyum dengan sudut bibir sebelah yang tertarik ke atas. “Cath, kau dengar pernyataannya? Pria ini ternyata masih mencintaimu.”
Cathleen hanya membalas dengan senyuman, tidak mau menanggapi sedikit pun. “Sudah, Ed, kita bertemu di sini ingin membicarakan urusan pekerjaan,” peringatnya supaya Edbert segera duduk.
Sebelum duduk, Edbert menepuk pundak Gerald sebentar, entah apa artinya itu karena tidak ada kalimat apa pun yang keluar dari bibirnya.
Edbert menatap ke arah Cathleen yang nampak tenang. “Tapi sayangnya hanya sisa rasa untukmu, Cath,” ujarnya seraya menghempaskan pantat di kursi dekat Cathleen.
“Tak masalah, setiap orang berhak menyukai siapa saja dengan kadar cinta masing-masing,” sahut Cathleen. Ah ... wanita itu memang sekarang lebih luar biasa tenang menghadapi situasi ketika sudah menjadi janda. Dia tidak membawa semuanya ke dalam hati karena tak mau patah untuk kedua kali.
Edbert mengusap puncak kepala Cathleen dengan lembut diiringi senyuman yang tidak terkesan kaku. “Maaf aku terlambat datang, perjalanan dari New York ke Helsinki lumayan memakan waktu.”
“Tak masalah, aku sudah makan ditemani Gerald, kau isilah perut dulu sebelum kita mulai bekerja,” balas Cathleen.
‘Tenangkan dirimu Gerald, Cathleen tidak suka pria emosional, nanti dia takut denganmu dan justru membuatmu tak ada celah untuk kembali dengannya.’ Sebisa mungkin ia mengontrol diri agar tak tersulut oleh percikan api kecemburuan yang memanas dalam hati.
“Terima kasih atas traktirannya.” Gerald memilih berdiri meninggalkan kursi yang terasa panas. “Aku pulang dulu,” pamitnya kemudian. Tidak kuat rasanya ada di dalam sana melihat Cathleen diusap bagian kepala oleh Edbert, dan juga perhatian wanita itu ternyata bukan untuk dirinya seorang.
“Kenapa pergi? Duduk saja di sana, tak masalah, siapa tahu kau masih sangat merindukan Cathleen. Bukankah sudah lama kalian tak saling berjumpa?” Edbert mencegah Gerald saat pria itu hendak meninggalkan ruang VIP. Entah apa maksud berbicara seperti itu, tapi wajahnya terlihat tulus memberikan ruang kalau memang masih ingin bertukar kerinduan.
“Ed, sudahlah, biarkan saja kalau Gerald ingin pergi, mungkin ada hal penting yang harus dia lakukan,” ucap Cathleen, kedua bola matanya beralih menatap teduh ke arah mantan suami. “Hati-hati di jalan, tetaplah sehat dan jaga pola makanmu.” Tidak lupa senyuman yang sangat manis ia tunjukkan setulus mungkin.
Gerald mengangguk. “Sampai jumpa lagi.” Dia benar-benar keluar dari sana. Rasa cemburunya membuat tidak tahan untuk tetap berada di dalam.
Sedangkan Cathleen dan Edbert menatap kepergian duda baru itu sampai menghilang dari pandangan.
“Kau belum memberi tahu dia, Cath?” tanya Edbert.
...*****...
...Hahaha bisa cemburu juga rupanya si bocah Antartika ni, kirain idupmu bakalan lurus-lurus aja kek rambut abis di ribonding...