Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 56


Setelah diomeli oleh Gerald, Cathleen langsung membalikkan tubuh, memunggungi pria yang terus saja asyik tiduran di sofa sembari bermain game melalui ponsel.


Mata Cathleen sejak tadi memang terpejam. Tapi wanita itu diam-diam mengucurkan air mata yang meluncur tanpa izin. Namun, dia tidak mengeluarkan suara tangis karena ditahan.


Cathleen sedikit sakit hati karena tadi sempat dibentak oleh Gerald. Padahal niatnya hanya bertanya untuk menghilangkan kesunyian. Ternyata respon sang suami sangat di luar ekspektasi.


Hati Cathleen memang mudah sekali tersentuh. Dia cenderung mudah menangis tapi dalam diam. Seperti yang dikatakan oleh Madhiaz saat pernikahan sepasang pengantin yang tidak ada harmonisnya sampai saat ini.


Bahkan sampai jam makan malam pun Gerald tidak bergerak sama sekali. Pria itu kalau sudah menyatu bersama game, hanya bisa diganggu oleh sesuatu yang penting saja.


Ada perawat masuk membawakan makan siang dan obat pun Gerald tidak melirik sedikit pun.


“Nona, apakah Anda baik-baik saja?” tanya perawat yang melihat kalau pundak pasien VIP itu sedang naik turun.


Cathleen hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. Sebab, saat ini tenggorokannya terasa tercekat karena sejak tadi menahan suara tangis agar tak keluar dari bibir.


“Baiklah, kalau ada suatu hal yang terjadi pada Anda, tolong segera pencet tombol saja. Jangan lupa makan malam dan obatnya dihabiskan,” ucap perawat dengan sopan.


Setelah dijawab anggukan kepala oleh pasien, perawat pun meninggalkan ruang VIP itu.


Sedangkan Gerald, walaupun ia fokus bermain game, tapi telinga tidak tuli. Dia menyudahi permainan dan mematikan ponsel. Pria itu tidak mengeluarkan suara, ia memandang punggung Cathleen yang membelakangi dirinya.


Mata pria berhati dingin itu bisa menangkap secara jelas kalau pundak Cathleen seperti sedang naik turun. Mengingat pesan Madhiaz, ia yakin betul kalau wanita yang berstatus sebagai istrinya itu sedang menangis meskipun tanpa suara.


Untuk memastikan, Gerald pun meninggalkan sofa, berjalan mendekati ranjang pasien, dan secara tiba-tiba sudah duduk di kursi yang bisa melihat secara jelas kalau ada air yang keluar dari mata Cathleen.


“Kenapa kau menangis? Apa sakitmu semakin menyiksa? Jika iya, aku akan panggilkan dokter,” ucap Gerald. Pria itu tak sadar kalau penyebab Cathleen banjir air mata adalah dirinya.


Gerald hendak memencet tombol untuk memanggil dokter, tapi suara Cathleen yang menjawab membuatnya mengurungkan niat.


“Tidak perlu sok kuat, katakan saja kalau kau sakit.” Gerald berbicara seraya menarik meja yang biasa digunakan untuk pasien makan.


“Kau yakin aku boleh mengatakan apa yang ku rasakan?” tanya Cathleen memastikan.


“Hm.” Gerald memang tak banyak mengeluarkan ekspresi atau berbicara. Ia cenderung seperti Daddynya yang lebih baik langsung bergerak daripada banyak omong kosong.


Seperti saat ini, tanpa diminta, Gerald membantu Cathleen duduk, menegakkan ranjang supaya nyaman untuk posisi makan. Tidak ada yang meminta Gerald melakukan itu. Dia hanya menganggap kalau hal tersebut adalah bukti tanggung jawab akan janji.


“Tanganmu kuat memegang sendok sendiri atau tidak?” tanya Gerald.


Cathleen menganggukkan kepala. “Kuat.”


“Kalau begitu, kau makan sendiri.” Gerald menyodorkan sendok kepada istrinya.


Gerald memantau Cathleen saat memasukkan hidangan ke dalam mulut. “Habiskan, jangan sampai tersisa sedikit pun.”


“Iya.” Cathleen berusaha melakukan perintah suaminya. Meskipun makanan yang disajikan oleh pihak rumah sakit tidak terasa enak sedikit pun di lidah, tapi ia berhasil menandaskan.


“Kau sudah kenyang?” tanya Gerald setelah melihat tidak ada sisa makanan sedikit pun.


“Sudah,” jawab Cathleen setelah menelan obat.


“Bagus. Sekarang katakan padaku, kenapa kau menangis?”


...*****...


...Kalo si Keket bilang karena kamu, terus kamu mau apa Ge? Koprol di sana? Apa kayang? Apa malah ngomel-ngomel lagi nyalahin si kucing?...