
Satu bulan berlalu, selama itu Gerald dengan senang hati mengantarkan Cathleen kemanapun akan pergi. Tentu saja karena mobil mantan istrinya dia bawa sehingga mau tak mau harus menghubungi dirinya ketika ingin bepergian.
Namun, meskipun setiap hari bertemu, Gerald masih belum menyadari kalau Cathleen sedang hamil. Sebab, wanita itu terus menutupi menggunakan pakaian yang berukuran besar sehingga tak nampak buncit.
Selama itu pula Gerald sering bertemu Edbert karena perusahaan Cathleen memiliki kerjasama dengan pria yang dia anggap sebagai kuman karena terus ada di dekat mantan istrinya. Keduanyan pasti tak mau mengalah dan berebut mengambil hati si janda cantik.
Pagi ini Gerald memaksa ingin menjemput sampai masuk ke dalam mansion. Biasanya dia hanya sebatas di depan gerbang saja. Entah apa alasannya, tapi ia tetap menurut. Namun, kali ini tidak, karena ingin bertemu mantan mertuanya juga supaya jalan menuju kembali dengan Cathleen tidak terhalang restu.
Gerald sudah turun dari mobil Cathleen. Padahal belum waktunya untuk menjemput, masih ada waktu dua jam lagi sebelum mengantarkan pergi.
Papa Danzel baru saja ingin keluar untuk jogging. Ia sampai berhenti melangkah kala melihat Gerald yang berdiri tegap dengan tatapan mata terarah ke pintu masuk mansionnya.
“Ada perlu apa kau ke sini?” tanya Papa Danzel. Dia mengurungkan niat untuk olahraga pagi dan memilih untuk mendekati mantan menantunya.
Gerald masih saja sama, menunjukkan wajah cool. Tapi tak lupa keramahan ditunjukkan dengan mengulurkan tangan untuk mengajak berjabatan. “Maaf jika mengganggu waktunya, aku ingin menjemput Cathleen.”
Papa Danzel sampai menaikkan sebelah alis bingung dengan tingkah laku Gerald yang berubah. Tapi dia tetap membalas jabatan tangan tersebut. “Tidak masalah, tapi putriku sedang jalan-jalan sebentar keliling area mansion.”
“Aku akan menunggu dia kembali.”
“Masuklah, kita mengobrol di dalam.” Papa Danzel tidak membenci atau melarang Gerald untuk mendekati Cathleen. Justru dia menunjukkan kalau masih menerima pria itu dengan baik.
Karena dipersilahkan, maka Gerald pun masuk ke dalam. Dia duduk di ruang tamu ditemani oleh Tuan Pattinson yang baru saja datang dari dapur.
“Terima kasih.” Gerald tidak menyangka kalau mantan mertuanya masih menerima kehadirannya dengan baik. Padahal dia pikir akan sulit untuk masuk lagi ke dalam bagian keluarga Pattinson.
“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Papa Danzel seraya menyeruput minuman yang dia buat sendiri menggunakan coffee maker.
“Silahkan.”
“Apa kau sedang berusaha mendekati putriku?” Sebagai orang tua, Papa Danzel merasakan kalau Gerald memang menunjukkan gelagat aneh dan tak biasa. Hanya saja kali ini ia ingin lebih memastikan tingkat keseriusan pria itu supaya putrinya tidak gagal dua kali.
Kepala Gerald mengangguk membenarkan. “Itulah sebabnya aku datang ke sini lebih pagi karena ingin meminta izin padamu supaya memperbolehkan aku mengambil hati Cathleen lagi.”
“Aku tidak akan melarangmu. Tapi, sebagai orang tua, aku minta tolong tunjukkan keseriusanmu kalau memang mencintai putriku. Dia pernah terluka, namun semua juga karena Cathleen yang memaksakan diri ingin masuk ke dalam kehidupanmu. Aku tak ingin melihat anakku gagal lagi, kalau kau belum bisa menerima dan mencintainya sepenuh hati, jangan dekati, biarkan dia hidup sendiri tanpa bayang-bayangmu. Datanglah lagi saat kau sudah yakin seratus persen akan menjadikan Cathleen sebagai prioritas utama.”
“Aku sudah yakin untuk menjadikan Cath—” Ucapan Gerald terjeda karena ada suara seseorang yang tiba-tiba memotong.
“Loh, ada Gerald? Pagi sekali kau menjemput Cathleen.” Itu suara Edbert yang baru saja datang bersama mantan kekasihnya.
Kepala Gerald otomatis menengok karena mendengar ada suara kuman mengajaknya berbicara. Namun, bukannya membalas pertanyaan Edbert, dia justru terfokus pada pakaian mantan istrinya yang ketat tidak seperti biasanya. “Kau hamil, Cath?”
...*****...
...Ngeles aja cing, bilang kalo kamu busung lapar bukan bunting wkwkwk...