
Cathleen masih setia menunggu dan mengamati Gerald yang tengah mencoba mengoleskan salep ke memar yang ada di wajah. Tapi pria itu bukan mengobati tepat di luka, sehingga Cathleen gemas sekali dan tangannya gatal untuk mengarahkan.
“Bukan di situ yang seharusnya kau obati, tapi di sini.” Dengan penuh keberanian, Cathleen memegang tangan Gerald untuk menunjukkan di mana seharusnya salep itu dioleskan.
Seketika itu Cathleen mendapatkan pelototan karena lancang menyentuh suaminya. Walaupun Gerald tidak mengeluarkan suara, tapi ia tahu kalau pria itu tak suka.
“Aku hanya membantumu, tak perlu memandangku seperti itu,” tutur Cathleen seraya mengulas senyum manis yang tidak membuat Gerald luluh.
“Membantu tak harus menyentuh, kau bisa memberiku kaca atau menghidupkan kamera agar aku bisa melihat wajahku sendiri,” balas Gerald seraya menyodorkan salep yang ada di tangannya.
“Hanya ku pegang tangan saja kau sampai marah seperti ini. Aku tak memiliki penyakit kulit yang menular, setiap hari juga mandi, tidak perlu risih jika ku sentuh,” protes Cathleen. Ia sembari memasukkan obat-obatan ke dalam papperbag.
“Sudah, sana keluar, aku mau tidur.” Gerald mengibaskan tangan, mengusir Cathleen agar ia bisa melanjutkan terlelap karena baru beberapa jam dirinya istirahat. Bahkan mata pun masih merah.
“Iya, iya, aku keluar.” Cathleen pun mengalah, susah sekali mencairkan kedinginan Gerald. Biasanya orang-orang seperti itu karena merasa kesepian sehingga butuh perhatian untuk melunakkan hati. Tapi nyatanya, tidak berlaku untuk Gerald yang memang lebih senang menyendiri.
Kaki Cathleen pun terayun menuju pintu, sebelum meninggalkan suaminya sendirian, ia berbalik terlebih dahulu. Matanya bisa melihat kalau Gerald sedang membaringkan tubuh dan menyelimuti hingga ke batas leher.
“Ge?” panggil Cathleen dengan suara lembutnya.
“Hm?” Gerald sudah memejamkan mata, ia hanya menjawab berupa gumaman.
“Apa semalam kau yang memindahkanku saat tidur?” Cathleen mencoba bertanya untuk memastikan kenapa saat terbangun sudah berada di kamar suaminya.
“Hm.”
“Terima kasih sudah memberiku tumpangan tidur di kamarmu.”
“Hm.”
Cathleen membersihkan tubuhnya dan bersiap untuk bekerja. Kini ia telah rapi menggunakan dress.
Kebiasaan Cathleen sebelum berangkat, pasti sarapan terlebih dahulu. Ia main ke dapur saja tanpa izin si pemilik unit apartemen itu.
Cathleen membuka kulkas, mencari bahan atau makanan yang bisa digunakan untuk memasak. Jangan dikira ia tak bisa membuat hidangan. Tentu saja bisa, tapi hanya menggoreng telur, membuat sandwich, dan hal-hal simple lainnya. Kalau masakan yang membutuhkan keahlian dan bumbu yang aneh-aneh, dia juga bisa, tapi tak menjamin rasanya enak.
“Hanya ada telur dan roti, ku buat sandwich saja. Siapa tahu Gerald juga mau,” gumam Cathleen.
Wanita itu memasak dengan rambut yang terurai, memanggang roti terlebih dahulu, baru ia menggoreng telur. Setelah semua selesai, Cathleen menyatukan bahan-bahan tersebut, dan tak lupa ditambahkan mayonaise serta saus.
Wanita yang kini sudah menjadi seorang istri itu menyiapkan dua buah sarapan simple. Ia berniat untuk mengajak suaminya makan bersama di pagi hari.
Cathleen kembali membuka pintu ruangan di mana Gerald berada. “Ge, ayo sarapan,” ajaknya.
Tapi tidak ditanggapi, sepertinya Gerald sedang asyik tidur lelap.
Cathleen mengulangi sampai tiga kali, tapi tetap tak mendapatkan jawaban. Dengan mengulas senyum untuk menguatkan diri, ia menutup kembali pintu tersebut, dan duduk sendirian di meja makan.
“Memang nasibku untuk sarapan sendirian,” gumam Cathleen. Ia pun menggigit sandwich yang rasanya pas-pasan itu.
...*****...
...Gausah ngeluh mulu lu Cath, kan kamu yang pengen nikah sama si Gerald. Dah tau tu manusia hatinya beku, masih ngarepin cewenya balik idup-idup, nekat sih nikah sama dia cuma demi menghindari Edbert. Padahal Edbert cinta mati loh sama kamu, kasian banget dia kamu sia-siain...