
Cathleen menunjukkan toilet terdekat yang ada di sekitar perpustakaan karena ruang kerja Tuan Pattinson ada di dalam sana. Ia tidak melihat gelagat aneh sedikit pun yang ditunjukkan oleh Gerald. Entah pria itu kesakitan atau tidak setelah memanjat pohon. Sebab, mantan suaminya masih tetap sama, datar saja.
“Di sini, tapi tidak bisa untuk mandi,” ucap Cathleen saat berhenti di depan toilet.
“Aku tidak mau membersihkan tubuh, lagi pula kau justru senang dengan bau badanku saat tak mandi,” kelakar Gerald seraya mengacak-acak rambut Cathleen dengan gemas.
Pipi Cathleen sedikit menunjukkan rona merah karena pria itu ternyata tahu kalau dia sering diam-diam mengendus bau badan Gerald saat berkeringat. Entahlah, memang masa kehamilan ini sangat aneh.
“Sudah sana masuk.” Cathleen malu jika digoda terus. Membukakan pintu dan sedikit mendorong tubuh Gerald agar segera ke dalam toilet.
Tangan Gerald sempat-sempatnya mencubit pipi mantan istri sebelum masuk ke dalam. Dia tak tahan dengan wajah Cathleen yang nampak menggemaskan. “Tunggu aku di sini,” pintanya.
“Iya.” Tangan Cathleen dikibaskan supaya Gerald segera menutup pintu. Sementara dia mencari tempat duduk untuk menanti.
Gerald bukannya tak merasa sakit, gatal, atau perih setelah memanjat pohon selama berjam-jam. Dia hanya tidak mau terlihat lemah saja. Padahal, sejak tadi merasakan ada sesuatu yang terasa tak enak di balik celana.
Meloloskan pakaian yang ada di area pinggul ke bawah, Gerald duduk di atas closet supaya mudah mengamati alat vitalnya. Kedua bola mata tajam terus melihat secara seksama, mencari penyebab yang membuatnya sejak tadi tak nyaman.
“Sial! Pantas saja aku merasakan gatal, ternyata ada semut mengigit predatorku,” gerutu Gerald saat mendapatkan tiga serangga dengan ekor dan kepala berwarna hitam sedangkan bagian tubuh berwarna cokelat kemerahan, besarnya cukup lumayan tak terlalu kecil juga.
Gerald segera menyingkirkan penyebab alat vitalnya gatal. Sejak tadi rasanya ingin digaruk tapi berusaha tahan diri. Walaupun percuma juga, sudah terlanjur meninggalkan bentol merah yang rasanya masih tetap gatal.
Selagi berada di toilet, Gerald sekaligus membuang cairan yang sudah membuat kandung kemih terasa penuh. Barulah ia keluar dengan pakaian yang sudah kembali utuh.
Gerald sadar dengan arah pandangan mata mantan istrinya. Reflek langsung menjauhkan tangan dari area terlarang itu. “Bagian itu milikku digigit semut.” Ia mencoba menjelaskan supaya tidak salah paham.
“Ayo, ku olesi minyak.” Cathleen mengajak Gerald untuk keluar dari area perpustakaan. Dia mendahului dan tidak berniat menggandeng pria itu.
Tapi, justru Gerald yang berinisiatif untuk menyusul dan langsung melingkarkan tangan di pinggul Cathleen.
“Duduklah di sini,” titah Cathleen saat sampai di ruang keluarga. “Tunggu sebentar, aku ambilkan minyaknya.” Ia segera mengayunkan kaki ke arah almari penyimpanan obat-obatan.
Gerald mengernyitkan dahi saat wanita itu sudah kembali lagi menemuinya. “Kau yakin mau mengolesi di sini?”
Cathleen mengangguk. “Iya, daripada kau semakin gatal.”
Gerald membulatkan mata seakan tak percaya dengan jawaban wanita itu. “Memangnya kau pikir mana bagian tubuhku yang gatal?” Sepertinya Cathleen belum paham karena jawaban dari mulutnya tadi memang sedikit ambigu, tak melontarkan nama bagian secara jelas dan lantang.
“Selangkang,” jawab Cathleen dengan sangat polos.
...*****...
...Gataulah mau ngomong apa, ngakak aja aku buahahaha. Lu mau kasih tontonan gratis ke seisi rumah cing? Gapapa sih, aku bakalan pake kaca pembesar biar bisa ngeliat jelas, bintitan dikit tak apalah yang penting ku tengok itunya Gege...