
Edbert tidak meninggalkan Cathleen dan Tuan Pattinson seorang diri. Dia tetap berada di dalam ruangan tersebut untuk mengawasi secara dekat. Tak ingin lengah sedikit pun karena sudah pasti berita tentang hari pernikahan ini sampai ke telinga si psikopat Gretta. Jadi, siapa saja yang dari luar keluarga, pasti akan dicurigai merupakan komplotan.
“Cath, ayo keluar.” Papa Danzel mengulurkan tangan untuk menggandeng putrinya. Antara rela dan tidak melepaskan Cathleen disaat bahaya masih mengancam keselamatan orang tersayangnya. Tapi, dia akan mencoba percaya dengan rencana Gerald dan Edbert. Toh kalau ada hal buruk yang terjadi pada keluarganya, kedua pria itu siap menerima akibatnya.
Cathleen menganggukkan kepala seraya tangan terulur. Sembari berangsur berdiri, ia melihat kecemasan dari sorot mata orang tuanya. “Tenang, Pa, semua pasti akan baik-baik saja.” Ucapan tersebut diiringi mengusap lengan yang mulai beranjak tua.
Dengan digandeng Papanya, Cathleen mengayunkan kaki keluar ruangan untuk menuju altar. Sementara Edbert mengekor di belakang, tak lupa mendorong stroller si kembar.
Sembari mengantarkan mempelai wanita kepada calon suami yang sudah menanti, mata Edbert terus menyisir ke seluruh penjuru Katedral. Di dalam sana sudah banyak orang yang berdatangan untuk ikut menyaksikan hari penting untuk Cathleen dan Gerald.
Pernikahan itu dijaga ketat oleh bodyguard dari Cosa Nostra. Ada yang nampak jelas berdiri dengan mimik waspada, ada pula yang membaur dengan tamu lainnya.
Sampai Edbert duduk di deretan keluarga yang ada di bagian depan, ia tidak melihat ada kejanggalan sedikit pun.
Dari tempat duduk Edbert saat ini, bisa melihat jelas Tuan Pattinson sedang menyerahkan Cathleen pada Gerald. Dia tersenyum getir saat itu juga, tenggorokan rasanya tercekat. Entah kenapa sedih sekali dan ingin menangis tapi tidak bisa. Dadanya begitu sakit ketika harus merelakan wanita yang dicintai sepenuh hati dan dijaga selama ini akhirnya memilih pria lain.
Semua orang yang hadir dalam Katedral itu bisa mendengarkan saat Cathleen dan Gerald saling mengucapkan janji masing-masing. Keduanya mengikrarkan atas nama Tuhan, tandanya pernikahan itu tidak akan terceraikan lagi.
Bahkan wajah pengantin baru itu terlihat terus mengulas senyum. Tentu saja bahagia karena meskipun pernah berpisah, akhirnya bersatu lagi.
Tanpa diberikan perintah, Gerald langsung meraih kepala Cathleen. Mendekatkan kedua bibir dan mencium wanita yang dahulu tidak dicintai, tapi kini berhasil mengisi seluruh relung hati.
Edbert memilih untuk menunduk. Daripada melihat wanita yang dicintai berciuman dengan pria lain, lebih baik menatap dua keponakannya yang jagoan. “Ini adalah hari patah hati uncle kalian.”
Kasian sekali Faydor dan Galtero, kalau bersama Edbert pasti menjadi tempat untuk mencurahkan isi hati.
Riuh tepuk tangan mengisi seluruh Katedral, tapi dari seratus orang yang datang, ada salah satunya yang perlu di waspadai karena saat ini sedang memasang wajah tak suka. Dia terlihat mengeluarkan ponsel untuk menghubungi seseorang.
Pria bernama sepanjang rel kereta api itu baru mengangkat pandangan ketika merasakan ponsel bergetar. Ia mengambil benda tersebut dari saku, memicingkan mata ketika ada nomor baru menghubungi.
Tombol hijau dipencet, Edbert menempelkan ponsel di telinga tapi tidak menyapa. Sebab, orang yang menelepon sudah mengucapkan sesuatu padanya.
“Sudah ku katakan padamu, jaga wanita yang kau cintai kalau tak ingin kehilangan dia. Kau tahu betul siapa yang aku mau, Gerald! Bukannya menjauhkan wanita itu dari pria incaranku, kau justru membiarkan mereka menikah. Bersiaplah untuk mengucapkan selamat tinggal padanya.”
...*****...
...Akhirnya lu gak makan gaji buta lagi Gretong, kalo berhasil ngerusuh dan bikin huru hara, tar gajinya gue naikin...