Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 144


Tak sampai satu jam Cathleen menyaksikan aurora, Gerald sudah menarik tangannya untuk diajak kembali ke penginapan. Gemuruh di dada wanita itu mulai tak keruan, tapi tetap berusaha tenang seperti saran Alceena.


Gerald tak sabar ingin menuntaskan segala keinginan diri yang sudah lama ditahan. Ia pria normal yang memiliki napsu, tapi sejauh menikah dengan Cathleen belum pernah sekalipun disalurkan. Namun kali ini berbeda, pria itu sudah lelah untuk menunggu kesiapan sang istri. Enam bulan pernikahan, kurang lama apa lagi dirinya bersabar?


Meskipun ketika awal pernikahan Gerald tak memiliki hasrat sedikit pun pada Cathleen. Tapi, setelah berdamai dengan keadaan, semua mulai berubah.


Gerald segera mengunci pintu supaya tak ada orang yang bisa keluar masuk penginapan milik keluarga Giorgio. Ia menuntun Cathleen ke depan sebuah kobaran berwarna merah yang dihasilkan dari kayu dibakar.


“Aku sudah menghidupkan perapian agar kita berdua tak kedinginan ketika bercinta.” Gerald berbisik seraya mengarahkan tubuh Cathleen agar merendah. Ia sedikit menekan pundak sang istri ke bawah, hingga wanita itu terduduk di atas sebuah karpet bulu yang hangat.


Debaran di dada Cathleen semakin menjadi-jadi. Bahkan ia sampai tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Seolah terbungkam untuk menolak ajakan suami. Hanya anggukan kepala sebagai pertanda kalau ia mau melakukan hubungan yang biasa suami istri lakukan.


Kedua sudut bibir Gerald terangkat, ia kian mendekatkan wajah setelah ikut duduk bersimpuh di karpet dan berhadapan dengan Cathleen. “Balas ciumanku, Cath, jangan kaku lagi agar kita sama-sama saling menikmati,” pintanya seraya mengusap bibir sang istri yang ada di depannya persis.


Kepala Cathleen mengangguk pertanda setuju. Dan Gerald langsung menerjang bibir sensual sang istri.


Kedua manusia itu saling beradu lidah, menghayati setiap sesap yang dilakukan satu sama lain. Hingga tak terasa tangan Cathleen melingkar di leher Gerald karena semakin lama membuatnya nyaman dan hilang rasa takut setelah percikan gairah mulai muncul.


Merasa jika sang istri mulai nyaman dengan suasana yang dibangun oleh Gerald, pria itu perlahan melucuti satu persatu pakaian yang menutupi Cathleen dan juga dirinya sendiri.


“Kau yakin mau melakukan itu denganku? Ketika sudah menyatu, maka kau bisa memiliki diriku seutuhnya, begitupun sebaliknya.” Sebelum melanjutkan penyatuan, Gerald meminta persetujuan terlebih dahulu. Dia tak ingin bercinta tanpa keputusan dua belah pihak.


“Aku yakin.” Cathleen memancarkan keseriusan dari sorot mata, begitu juga dengan usapan di rahang tegas Gerald menambahkan bahwa kali ini sudah siap.


“Aku tak akan kasar, kalau dahulu aku menikahimu karena kita menghabiskan malam tanpa ku sadari mungkin menyakitimu sebab tak menggunakan perasaan, maka malam ini ku lakukan dengan penuh kelembutan.” Gerald berbicara seraya merebahkan tubuh Cathleen ke atas karpet bulu.


Cathleen sudah pasrah, entah pada akhirnya Gerald akan curiga atau tidak, yang pasti saat ini dirinya tak menunjukkan gelagat aneh sedikit pun.


Cathleen mulai menggelinjang kala Gerald melakukan pemanasan, menggerakkan lidah pada daerah inti di bagian bawah sana yang bisa mengeluarkan cairan pelumas permainan agar jalannya lebih licin.


Melihat jika Cathleen mulai relax dan menikmati, Gerald siap memasukkan bagian tubuhnya yang sudah berdiri tegak, kokoh bagaikan pilar meskipun tanpa tulang.


...*****...


...Thor gak panas, kurang cetar pemersatu bangsanya, kok gak detail sih thor. Pasti bakalan ada aja yang bilang begitu nih wkwkwk, nebak aja aku. Begini bestie, aku cari aman nulisnya biar gak kena tolak bebeb kesayangan kita. Kalo mau yang lebih wow lagi, nonton film purno aja bestie hehehe. Kaborrrr...