Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 162


Cathleen terus ditahan di mansion Giorgio agar tak segera pulang ke apartemen. Tentu saja Geraldine dan Mommy Gabby tahu kalau Gerald pasti butuh waktu sendiri terlebih dahulu untuk mencari komputer keramat.


Namun, Cathleen sungguh tak tenang. Dia takut dan merasa bersalah. Seharian tak ada kabar dari suaminya. Tak mau terus berdiam diri di mansion mertuanya karena pikiran sudah terpenuhi oleh Gerald seorang. Apa komputernya masih ada di tempat dia menjual, apakah seluruh data dan server perusahaan Gerald aman? Banyak sekali pertanyaan yang terus berputar di dalam otaknya, tanpa tahu jawabannya kecuali dia mencari tahu secara langsung.


Menelepon Gerald pun tak tersambung, tapi mertua dan iparnya tidak mengizinkan untuk pergi. “Maaf, sekali lagi minta maaf, aku ingin pulang bertemu Gerald.” Cathleen menyela Geraldine yang sejak tadi mengajak mengobrol.


“Kau yakin mau pulang? Mungkin Gerald akan mendiamkanmu. Lebih baik di sini saja,” ucap Geraldine.


Cathleen menggelengkan kepala. “Tak apa Gerald mendiamkanku, setidaknya aku memastikan kalau dia menemukan komputernya.”


“Oke, baiklah, aku antar.” Geraldine segera berdiri sebelum iparnya bangkit.


Dengan diantarkan sang ipar, Cathleen akhirnya sampai juga di apartemennya. Dia segera turun, tapi Geraldine juga ikut.


“Sepertinya kau tak perlu ikut denganku, aku ingin menyelesaikan masalah ini berdua,” ucap Cathleen sebelum dia masuk ke dalam bangunan menjulang tinggi itu.


“Kau yakin bisa menghadapi Gerald sendirian?”


Cathleen menganggukkan kepala tanpa ragu. “Aku yang menyebabkan kekacauan ini, akan ku terima apa pun konsekuensinya.”


“Baiklah, semoga Gerald tak marah padamu karena sudah menyingkirkan komputer keramatnya.” Geraldine memeluk Cathleen, menepuk punggung sang ipar sebanyak tiga kali untuk memberikan semangat.


Cathleen segera berjalan masuk. Sepanjang langkah kaki, jantungnya berdebar. Telapak tangan pun sampai mengeluarkan keringat dingin. Ia langsung membuka pintu unit apartemen yang menjadi tempat tinggalnya.


Cathleen langsung menuju ruang game. Menyentuh handle pintu ruang keramat itu, dan dengan perasaan yang tak keruan, dia membuka perlahan.


Kedua mata Cathleen langsung berkaca-kaca saat melihat Gerald sedang duduk di depan komputer. “Sayang?” Sembari melangkah mendekati suami.


Gerald yang mendengar suara istrinya pun menengok ke arah pintu. Dia terdiam dengan wajah datar.


Melihat ekspresi Gerald, air mata Cathleen langsung meluncur bak air terjun. Kakinya terasa lemas saat itu, dia pun bersimpuh di lantai dengan kepala menunduk. Menandakan betapa menyesal dirinya saat ini. “Maafkan aku, aku tidak tahu kalau komputermu digunakan untuk bekerja. Jika ku tahu apa pekerjaanmu dan seberapa penting komputer itu, pasti aku tak akan lancang memberimu kejutan dengan mengganti yang versi terbaru.” Dia sampai sesegukan. Tak tahu kenapa saat ini menjadi sangat mudah menangis.


Gerald menghela napas, dia tidak menjawab permintaan maaf istrinya, justru berdiri. Pria itu berjongkok di depan Cathleen, meraih dagu wanitanya hingga bisa melihat betapa kacau wajah yang penuh air mata itu.


Jemari kekar menghapus jejak basah tersebut. “Salahku tak pernah memberi tahu apa pekerjaanku, sampai membuatmu berpikir kalau aku hanya seorang pengangguran yang senang menghabiskan waktu untuk bermain game.”


Diluar dugaan, Cathleen pikir Gerald akan marah, mendiamkannya, atau mungkin kembali dingin. Dia justru kembali menangis mendapatkan respon seperti itu dari suaminya. Entahlah apa mau wanita itu, sedikit-sedikit menangis, seperti tak ada kegiatan lain yang bisa dilakukan saja.


...*****...


...Cengeng amat lu jadi manusia Cath...


...Kebanyakan dari kalian ni pada nyalahin si Kucing, mentang-mentang si Gege cakep jadi pada lupa kalo dia juga salah. Sok misterius sih jadi laki, kena batu kan jadinya...