
Hari semakin larut, Gerald memberikan kode berupa elusan di punggung Cathleen untuk mengajak sang istri pulang ke apartemen mereka. “Sudah malam, ayo pergi,” bisiknya kemudian di telinga wanitanya.
Cathleen masih saja merasa geli tiap kali hembusan napas dari suara berbisik Gerald, menerpa telinga hingga kulit leher. “Iya, pamit dulu dengan orang tuaku.”
Gerald menggenggam tangan Cathleen, sedikit menarik wanitanya hingga berdiri. “Di mana mereka?”
“Mungkin di kamar.”
Gerald tidak perlu menanggapi lagi, ia melingkarkan tangan di pinggul Cathleen dan berjalan beriringan menuju kamar yang ditunjukkan oleh sang istri. Keduanya pun berhenti di depan pintu.
Gerald langsung mengetuk sebanyak tiga kali. Menanti ada sahutan dari dalam. Dan Mama Gwen yang membukakan.
“Gerald? Ada apa?” tanya Mama Gwen.
“Aku dan Cathleen ingin pulang,” jawab Gerald berusaha seramah mungkin walaupun masih kaku.
“Kalian tidak menginap di sini? Sudah larut, lebih baik besok saja pulangnya,” balas Mama Gwen.
“Besok Cathleen harus bekerja, mungkin lain kali kami menginap di sini.”
“Sudah, tidur di sini. Sesekali merasakan tinggal di mansionku. Sejak menikah, kalian belum pernah menginap.” Tiba-tiba suara Papa Danzel ikut menimpali. Pria paruh baya itu baru saja keluar dari kamar mandi dan langsung berdiri di samping sang istri. “Anggap saja sedang menemani kami, lagi pula di sini sangat sepi,” imbuhnya dengan mengusap lengan Mama Gwen.
Gerald menatap ke arah Cathleen untuk menanyakan jawaban. Jujur saja dirinya tak terbiasa tinggal di mansion orang lain kecuali keluarganya sendiri.
Gerald pun menganggukkan kepala, menuruti permintaan Cathleen. “Boleh.”
“Kau ada pakaian ganti?” tanya Papa Danzel. “Jika tidak, ku pinjami baju-bajuku saat muda. Sepertinya muat untukmu.”
“Aku tidak ada persiapan untuk menginap.”
“Kalau begitu, ayo ikut aku.” Papa Danzel mengajak Gerald menuju ruang penyimpanan barang-barang lamanya. Masih banyak pakaian yang tersimpan rapi di sana.
“Kau pilih saja mana yang pas untuk tubuhmu, kalau tidak ada, ku pinjamkan milik putraku,” tutur Papa Danzel seraya membuka almari besar.
“Tidak perlu, ini saja sudah cukup.” Gerald hanya mengambil kaos dan celana boxer untuk tidur. Padahal belum tentu juga malam ini dipakai karena biasanya tidak berbusana bersama sang istri ketika tidur. Dia berusaha menghargai mertua yang sudah menerimanya dengan baik.
Setelah mendapatkan pakaian ganti, Gerald ditunjukkan kamar Cathleen yang ada di lantai dua. Pria itu langsung menyusul sang istri yang sudah terlebih dahulu berada di sana.
Ulasan senyum manis langsung menyambut kedatangan Gerald. “Selamat datang di kamarku,” ucap Cathleen.
Gerald menutup pintu secara perlahan, melepaskan alas kaki dan segera naik ke ranjang. Pria itu langsung menerjang wanitanya hingga terjerembab di atas kasur empuk dengan posisi dirinya berada di atas Cathleen. “Sepertinya Papamu tidak perlu meminjamiku pakaian.” Ia berbicara seraya mengusap rambut sang istri yang sangat lembut.
Cathleen mengulas senyum dengan rentetan gigi yang sengaja diperlihatkan. “Maaf sudah membuatmu kecewa. Tapi, aku sedang keluar bercak darah,” jelasnya seraya mengusap rahang tegas Gerald.
Gerald menghela napas, menggulingkan tubuh hingga terlentang di samping istri yang sudah dicintai. “Ternyata aku harus menahan diri.”