Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 159


Gerald akhirnya harus menahan diri. Ternyata ada gunanya juga pakaian yang dipinjami mertuanya. Dia paham dengan siklus wanita yang memiliki masa istimewa. Dan sepasang suami istri itu hanya menghabiskan malam dengan tidur berpelukan tanpa melakukan apa pun.


Mungkin Gerald terlalu lelah karena selama dua hari ini seakan tak ada waktu untuk istirahat yang berkualitas. Pria itu masih terlelap, padahal waktu sudah menunjukkan pagi hari.


Tapi, untung saja Cathleen tidak ikut bangun siang. Wanita itu sudah membuka mata dan perlahan menyingkirkan tangan Gerald karena ia tak tahan ingin mengeluarkan urine. Bahkan tidak sempat untuk memandang wajah tampan pria yang selalu ada di sampingnya ketika pertama kali membuka mata setelah terlelap.


Cathleen segera mengeluarkan cairan yang perlu dibuang. Sudah berada di dalam kamar mandi, dia berniat ingin membersihkan tubuh juga agar tak perlu bolak balik.


Meloloskan satu persatu pakaian yang menempel di tubuh, mata Cathleen berhenti pada salah satu kain. “Tumben sekali masih bersih, biasanya langsung keluar darah. Padahal, kemarin sudah ada bercak.”


Cathleen berhenti mengamati pakaiannya, memasukkan kain kotor ke dalam keranjang. Segera memposisikan diri di bawah shower, dia mandi tanpa banyak ritual yang membuat lama. Sehingga lima belas menit kemudian sudah keluar lagi dan berganti pakaian yang formal.


Kaki Cathleen meninggalkan area walk in closet, dan mendapati Gerald masih terlelap begitu nyenyak. “Aku tak tega ingin membangunkan suamiku.”


Cathleen tidak berniat mengganggu tidur Gerald. Tapi, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh. Biasanya dia berangkat ke kantor maksimal setengah delapan. Wanita itu duduk di tepi ranjang. Karena bangun tidur belum sempat memandang sang suami, maka kali ini akan ia tatap rakus si tampan kesayangannya.


Tangan Cathleen mengelus rahang Gerald dengan hati-hati agar tak membangunkan prianya. “Aku berangkat kerja dulu, Sayang, istirahat yang nyenyak. I love you.” Dia meninggalkan kecupan di kening sang suami.


Biasanya kebiasaan itu dilakukan oleh suami pada istri, tapi tidak berlaku pada pasangan Gerald dan Cathleen. Sebab, yang berangkat bekerja adalah sang wanita, sedangkan prianya menghabiskan waktu dengan game online.


Gerald tetap tak bangun walaupun dikecup. Terlihat jelas kalau ia sedang sangat lelah.


Cathleen turun ke bawah seorang diri, dan bergabung dengan orang tuanya yang telah duduk di meja makan.


“Kenapa kau sendiri? Di mana suamimu?” tanya Papa Danzel.


“Masih tidur, dia sangat lelah,” jawab Cathleen.


Jawaban Cathleen justru memancing Tuan dan Nyonya Pattinson untuk saling berpandangan. Keduanya mengulas senyum.


“Kalau pagi hari biasanya wanita yang kelelahan,” celetuk Mama Gwen.


“Pria juga bisa lelah, Ma. Kami ini bekerja keras lebih banyak,” timpal Papa Danzel.


“Maklum, suamiku baru pulang dari luar negeri dan belum istirahat.” Cathleen justru memberikan tanggapan yang tak sejalan dengan maksud orang tuanya. Tapi, mereka tidak menyadari akan hal tersebut karena pembicaraan itu tergolong ambigu.


Selepas sarapan, Cathleen langsung berpamitan dengan kedua orang tuanya. “Kalau suamiku bangun, tolong sampaikan padanya jika aku sudah berangkat.”


“Iya, nanti akan ku sampaikan,” tutur Mama Gwen.


Cathleen pun meninggalkan mansion untuk memulai aktivitas seperti biasa. Dipenuhi dengan hati yang penuh suka cita karena tidak ada keresahan lagi. Orang tuanya sudah menerima Gerald, begitupun sebaliknya.


“Sayang?” panggil Gerald.


Tidak ada sahutan, membuat Gerald segera turun dan mencari ke dalam kamar mandi. Ternyata lantai masih basah.


Gerald segera mengganti pakaian dengan yang kemarin. Turun ke bawah untuk memastikan kalau Cathleen belum berangkat.


“Ge?” panggil Mama Gwen ketika melihat sang menantu turun ke bawah dengan terburu-buru.


“Ma, lihat istriku?” tanya Gerald seraya mengikis jarak dengan mertuanya.


“Sudah berangkat ke kantor, diantar supir,” jawab Mama Gwen.


“Oh.” Gerald tidak menunjukkan respon terkejut sedikit pun. Justru terkesan biasa saja.


Karena di mansion itu sudah tak ada istrinya, Gerald juga tak tahu harus melakukan apa di sana, akhirnya ia izin pulang.


Sebelum melajukan mobil, Gerald menelepon Cathleen terlebih dahulu. “Sayang? Apa kau sudah sampai di kantor?” Sebuah pertanyaan langsung dilontarkan saat panggilan diangkat.


“Sudah, kau tak perlu khawatir,” sahut Cathleen.


“Syukurlah, aku akan merasa sangat bersalah kalau terjadi sesuatu denganmu karena membiarkanmu berangkat sendiri.”


Cathleen justru tersenyum mendengar betapa perhatian suaminya. “Aku baik-baik saja.”


“Baiklah, selamat bekerja, aku pulang ke apartemen dulu,” pamit Gerald sebelum mengakhiri telepon.


“Hati-hati, Sayang.”


Gerald pun bisa pulang dengan lega setelah memastikan kalau sang istri selamat sampai tujuan.


“Dua hari aku tak bermain game,” gumam Gerald saat pertama kali menginjakkan kaki ke tempat tinggalnya.


Sesampainya di apartemen, Gerald tidak mandi terlebih dahulu, tapi langsung menuju ruang kesayangan. Kaki mendadak berhenti di depan komputer, merasakan ada sesuatu yang berbeda di sana.


...*****...


...Laki beku kalo mencair jadinya lebay. Ihhhh gak cocok, sumpah demi kerang ajaib, mending balik kaya dulu aja deh...