
Cathleen tidak menjawab, tidak membuka mata, dan tidak berhenti mengeluarkan bulir bening. Semakin diberi perhatian oleh Gerald, hatinya kian tersayat membayangkan kalau sang suami sedang berhalusinasi bahwa dirinya adalah Chloe.
“Baiklah jika kau tidak ingin bercerita denganku, istirahatlah.” Gerald mematikan lampu lagi dengan menggunakan suara berupa perintah. Dia membenamkan kepala Cathleen ke dada bidangnya yang tidak dibalut kaos.
Gerald terus mengusap rambut Cathleen dengan sangat lembut. Dadanya juga bisa merasakan luncuran air mata sang istri. Ingin mengurangi kesedihan wanita itu, tapi dia sendiri tak tahu penyebabnya apa. Sehingga hanya bisa memberikan sebuah pelukan saja.
Gerald tak tahu kalau perhatian tersebut justru membuat Cathleen semakin sakit hati dan takut melepaskan.
Tak terasa, Cathleen pun akhirnya tertidur juga setelah lelah menangis dalam dekapan suami.
Jika biasanya Cathleen bangun siang karena terlalu nyenyak, pagi ini ia sudah membuka mata seperti dahulu kala.
Tangan Cathleen langsung menyingkirkan sentuhan Gerald. Setelah dipikirkan secara matang, dia harus menguatkan diri daripada terus sakit hati.
Cathleen berangsur turun dari ranjang. Gerald yang tersadar sudah tak memeluk istri pun ikut bangun.
Mata Gerald memicing, mencari fokus pada sosok Cathleen yang sedang berdiri membelakangi dirinya. Lalu beralih melihat jam digital yang terus mengeluarkan cahaya kuning redup. “Baru jam empat pagi, tumben kau sudah bangun?” tanyanya.
“Hm, aku ingin berangkat lebih pagi,” jawab Cathleen. Dia enggan membalikkan tubuh karena setiap kali menatap wajah Gerald, hatinya selalu goyah dan mudah hanyut oleh perhatian pria itu.
Cathleen mengayunkan kaki kian mendekati walk in closet yang mana di dalam sana ada kamar mandi biasa tempatnya membersihkan tubuh. Namun, kaki berhenti sejenak di depan sebuah pintu. “Ge, tolong jawab pertanyaanku dengan jujur,” pintanya dengan sorot mata tertuju pada jajaran pakaian yang tergantung rapi.
“Kau mau tanya apa?” Gerald ikut bangkit karena ingin menyiapkan sarapan Cathleen sebelum berangkat kerja.
Cathleen menghirup udara sebanyak mungkin dan mengeluarkan perlahan. Kedua tangan mengepal, memberikan kekuatan dan meyakinkan diri untuk bertanya sesuatu yang terus mengganjal dalam benak. “Apa semalam kau sengaja merubah penampilanku menjadi seperti Chloe?”
Gerald berhenti melipat selimut. Pandangannya terus tertuju pada punggung Cathleen. “Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?”
“Aku hanya ingin tahu saja. Tolong katakan sejujurnya padaku.” Dada Cathleen bergemuruh lagi, bukan debaran cinta seperti biasa, tapi kerisauan.
“Ya,” jawab Gerald singkat tapi jujur. “Apakah kau tidak menyukai penampilan itu?” Pertanyaan tersebut keluar dengan intonasi lembut, tapi tetap saja bagaikan duri yang menancap pada hati Cathleen.
Cathleen tersenyum getir setelah mengetahui kenyataannya. Ia berbalik badan karena ingin melihat bagaimana ekspresi Gerald. “Kenapa kau lakukan itu padaku?”
“Lakukan apa? Aku sudah memberimu kesempatan untuk menolak jika tak suka, tapi kau tetap ingin melanjutkan.”
Ah Cathleen melupakan satu hal, bahwa Gerald tidak pernah mau disalahkan.
“Kau tidak mengatakan padaku kalau merubah penampilanku menjadi seperti mendiang kekasihmu, ku pikir kau sengaja merubah agar semakin cantik,” sanggah Cathleen.
Cathleen menggelengkan kepala sebagai jawaban.
“Kalau kau tidak suka dengan penampilan yang sekarang, ku antarkan ke salon untuk mengembalikan rambutmu yang sebelumnya,” ajak Gerald.
Helaan napas panjang sengaja dikeluarkan oleh Cathleen agar tetap sabar menghadapi suaminya. “Aku mandi dulu.”
Cathleen segera masuk ke dalam kamar mandi. Dia membasahi tubuh dengan shower, tapi terus melamun tanpa melakukan apa pun kecuali berdiam diri dan meratapi nasib. Bahkan tak menggunakan shampo ataupun sabun, langsung saja mengeringkan badan.
Koneksi otak Cathleen mendadak menjadi tak sinkron karena kepalanya seperti baru saja terhantam sebuah batu besar. Mengejutkan dan sakit, berdarah tapi tak nampak.
Cathleen membalut tubuh dengan pakaian formal. Tidak perlu berdandan, dia ingin segera keluar dari apartemen Gerald karena di sana terlalu sesak.
Cathleen hanya membawa tas yang biasa digunakan untuk bekerja. Tak lupa kunci mobil sendiri.
Kaki wanita itu terayun melewati dapur tanpa berniat untuk singgah di sana.
“Hei, mau ke mana? Sarapan dulu, sudah ku siapkan.” Gerald memberikan perintah saat melihat sang istri sudah menuju pintu.
“Maaf, aku langsung berangkat saja, ada meeting penting yang tak bisa ditunda.” Cathleen asal memberikan alasan.
“Yasudah, ku masukkan ke dalam kotak bekal untuk kau sarapan di kantor,” tawar Gerald seraya melepas apron.
“Tidak perlu repot-repot, aku bisa meminta koki perusahaan untuk membuatkan sarapan.” Cathleen mencoba menguatkan diri untuk tak terpedaya oleh perhatian Gerald.
“Kalau begitu, ku antar ke kantor.” Gerald mengayunkan kaki mendekati Cathleen.
“Jangan memanjakanku terus, aku bukan anak kecil!” Cathleen membuka handle pintu. Dia segera keluar dan menutup lagi sebelum tekadnya goyah.
“Selamat tinggal, Gerald. Maaf, aku memilih pergi karena menjadi bayangan terlalu menyakitkan.” Cathleen bergumam sepanjang ayunan kaki menyusuri lorong menuju lift. Luncuran air mata seakan terus diproduksi, dia kembali menangis karena harus merelakan memberikan jarak dengan sang suami.
Dinilai dari perdebatan kecil atas pertanyaannya tadi, Cathleen merasa kalau Gerald tidak menunjukkan rasa bersalah setelah membuat penampilannya seperti Chloe. Maka, daripada semakin makan hati, lebih baik menjauh saja sampai Gerald sadar sendiri.
...*****...
...Bener, tinggalin aja si Gege, biar aku lebih mudah masuk buat jadi pelakor wkwkwkwk...
...Ini tuh bukan konfliknya, cuma pemanasan aja biar kalian emosi. Gimana? Tensi aman kan?...