
Cathleen sampai membulatkan mata saat melihat bagaimana teganya Edbert memantau dirinya. Dia tahu jika mantan kekasihnya sangat berlebihan dalam memperlakukan dirinya, tapi tak habis pikir, ternyata sampai memasang kamera pengawas. “Aku sama sekali tak menyadari jika dipantau secara jauh.”
Cathleen sungguh kecewa dengan Edbert. Ia berusaha untuk berdamai dengan masa lalu, mempertimbangkan agar mantan kekasihnya bisa menjadi teman atau sahabat. Tapi, saat mengetahui kegilaan Edbert, rasanya ingin memutus segala hubungan dengan pria itu.
Namun, apakah bisa? Mengingat kalau orang tua Cathleen sudah menganggap Edbert seperti keluarga. Sebab, pria itu sebatang kara dan mudah berkamuflase menjadi menantu idaman Papa Danzel. Bahkan, sampai detik ini pun Edbert masih sering berkunjung ke mansion Pattinson dan berhubungan baik dengan orang tua Cathleen.
“Edbert pernah memberimu barang apa saja?” tanya Gerald seraya mematikan dan menutup MacBook untuk menyudahi penyelidikan hari ini.
“Banyak, ada perhiasan, berlian, pakaian, sepatu, make up, ponsel—” Jawabannya terjeda karena Gerald sudah menyela.
“Ponsel? Yang kau pakai sehari-hari?”
Kepala Cathleen mengangguk, membenarkan tebakan suaminya. “Iya.”
“Berikan pondelmu padaku!” titah Gerald dengan tangan menengadah ke depan dada Cathleen.
“Tunggu sebentar.” Cathleen beranjak dari sofa, masuk ke dalam kamar untuk mengambil barang yang diminta oleh Gerald. Tak lama kemudian, ia kembali dan menyodorkan ponsel miliknya ke hadapan suami yang sudah mencintainya. “Kenapa tiba-tiba kau ingin mengecek ini?”
“Aku hanya ingin memastikan.” Gerald terlihat mengecek seluruh aplikasi. Baik yang terlihat jelas di tampilan depan, maupun tersembunyi. Setiap aplikasi dibuka untuk dicek, tidak ada yang terlewat sedikit pun.
Gerald menghela napas lega saat ponsel Cathleen aman. “Ku pikir dia akan meretas ponselmu juga.”
“Dia hanya sering melacak menggunakan IP Address.”
“Awalnya dia orang yang baik, tapi semakin lama justru sifatnya berubah menjadi pengekang. Aku juga tak tahu kenapa bisa seperti itu.” Cathleen menundukkan kepala, dia sungguh menyesal karena tak teliti dalam menjalani hidup. “Dahulu, aku sangat ingin memiliki kekasih yang mencintaiku. Dan kebetulan berkenalan dengan Edbert yang menunjukkan perhatian padaku. Jadi, saat itu aku jatuh cinta padanya.”
Gerald menarik kepala Cathleen untuk dibenamkan di dada bidangnya. Mengusap puncak kepala hingga punggung sang istri. “Dan sekarang kau sudah memiliki aku yang mencintaimu. Sebisa mungkin aku akan melindungimu. Tidak perlu takut.”
Gerald bisa memberikan Cathleen rasa nyaman dan aman. Buktinya, wanita itu sudah tenang dan tak resah lagi. Sebab, Cathleen percaya seratus persen jika Gerald bisa menepati semua ucapan. Sejauh ini, belum ada satu kata pun yang diingkari oleh suami idaman itu.
...........
Keesokan harinya, Gerald mengantarkan Cathleen menuju mansion Pattinson. Ia ingin ke suatu tempat, tapi tak mau membawa sang istri.
“Hari ini aku ada urusan ke luar negeri, ada sesuatu yang perlu aku bereskan. Kau menginap di tempat orang tuamu dulu, oke?” ucap Gerald seraya mengusap puncak kepala Cathleen ketika mobilnya sudah berhenti di depan hunian megah.
“Ke mana?”
“Hanya berkunjung ke negara lain. Tak akan lama, mungkin satu atau dua hari saja.”
Cathleen akhirnya mengangguk. Jika Gerald saja bisa memberikan ruang untuk dirinya melakukan segala hal yang diinginkan, maka dia pun akan memberikan hal yang sama juga. “Aku tak tahu kau akan pergi ke mana. Tapi, hati-hati, pulanglah dengan kondisi utuh dan sehat.” Ia mendaratkan kecupan di pipi sang suami sebelum turun dari mobil.
...*****...
...Balik-balik tinggal nama loh, ati-ati lu Cath, abis ini jadi jendes wkwkwkwk...