
Gerald berusaha memejamkan mata, membayangkan bagaimana dia hidup seorang diri. Tanpa istrinya yang sudah menemaninya enam bulan lebih sedikit. Bayangan kesendiriannya ditinggal orang-orang yang selalu ada di sisinya saat suka maupun duka ternyata mampu membuat matanya yang kering mulai terasa lembab.
“Aku mencintaimu, Cath. Jangan berpisah dariku,” gumam Gerald sangat lirih. Saat itu juga ada air yang mulai sedikit keluar dari mata. Menghayati saat membayangkan kehidupannya tanpa seorang istri mampu membuat dia menangis.
Gerald perlahan membuka kelopak matanya yang sejak tadi terpejam. Dia menengok ke arah kembarannya yang belum pergi terlalu jauh. Segera menyusul untuk memperlihatkan wajah sedihnya.
Menghadang tubuh dua orang yang hendak keluar dari cafe. “Lihat, aku berhasil menangis.”
Tapi, Geraldine tidak langsung percaya begitu saja. “Oh, ya? Apa itu air mata kesedihanmu atau palsu?” Dia sedikit menjinjit supaya kepala bisa sejajar dengan Gerald. Mencium bau-bau di sekitar wajah, siapa tahu kembarannya memakai bantuan lada, cabai, atau lainnya.
Geraldine kembali berdiri normal, menengok ke arah meja yang tadi ditempati untuk melihat apakah di sana ada benda-benda yang mencurigakan atau tidak. Ternyata masih sama persis seperti saat ditinggalkan. Tangannya terulur untuk mencolek buliran yang keluar dari mata Gerald. Dia sampai menjilat apakah itu sungguhan atau tidak. Ternyata asin, ya dia pernah mencoba merasakan air matanya sendiri sehingga tahu bagaimana rasanya.
Bukan sampai di situ saja. Geraldine masih mengamati apakah hidung kembarannya kembang kempis atau tidak. Dan benar, hidung Gerald sudah mulai memerah. Sekarang dia yakin kalau pria itu memang sedih.
“Roxy, tolong bantu Gerald,” pinta Geraldine pada pria yang berdiri di sampingnya.
“Sejujurnya aku sudah mendapatkan perintah dari Tuan Dominique dan Giorgio supaya tak boleh membantu dia. Tapi, karena kau yang meminta, akan ku lakukan.” Roxy memang orang yang lebih menurut dengan perintah Geraldine. Karena ada rasa yang tersembunyi untuk wanita itu.
“Ayo ke markas, semua data ada di komputerku.” Roxy mengajak sepasang suadara kembar itu untuk mengikutinya.
Gerald mengendarai mobil sendiri untuk kembali ke Cosa Nostra. Sedangkan Geraldine bersama Roxy. Sesampainya di tujuan, mereka langsung menuju ruangan Roxy.
Siapapun anggota keluarga yang baru bergabung dengan Dominique maupun Giorgio, pasti harus mengisi data-data penting yang sangat banyak, dan akan dilindungi kerahasiaannya oleh Cosa Nostra. Jadi, wajar saja kalau Roxy bisa tahu siapa nama pengacara Cathleen.
“Angel Austine namanya.” Roxy membacakan dokumen yang ada di depannya. Dia lalu memberitahukan di mana pengacara itu bekerja setiap harinya.
“Terima kasih, kalian sangat membantu.” Gerald menepuk pundak Roxy dan Geraldine secara bersamaan. Kakinya segera terayun meninggalkan ruangan itu untuk menemui pengacara Cathleen.
Gerald sudah sampai di tempat kerja orang yang ingin ditemui. Dia segera bertanya pada bagian resepsionis. “Aku ingin bertemu pengacara Angel Austine.”
“Maaf, orang yang Anda cari masih di luar. Jika mau menunggu, silahkan bisa duduk di sebelah sana.” Dia menjelaskan dengan sangat ramah seraya menunjuk sofa.
Satu jam kemudian, wanita bernama Angel Austine pun datang juga. Dia baru saja pulang dari menemani Cathleen ke pengadilan negeri untuk memasukkan formulir perceraian. Tubuhnya berdiri di depan Gerald duduk ketika diberi tahu ada orang yang mencari.
“Tuan, Anda mencari saya?” tanya Angel.
Gerald berhenti bermain game, kepalanya mendongak ke atas. “Apa kau pengacara Cathleen?”
“Benar.”
Gerald langsung berdiri. “Ya, aku mencarimu. Kau tahu siapa aku?”
“Suami Nona Cathleen.”
“Bagus, aku ingin berbicara hal penting denganmu.”
“Mari ke ruangan saya, Tuan.” Pengacara bernama Angel itu mengajak Gerald untuk berbincang di ruang kerjanya supaya lebih nyaman.
Kini mereka sudah duduk berhadapan dan tersekat oleh meja kerja.
“Apa yang ingin Anda bicarakan, Tuan?” tanya Angel.
“Aku ingin meminta kau bujuk Cathleen agar mencabut gugatan cerainya,” pinta Gerald dengan wajahnya yang bersungguh-sungguh.
“Maaf, Tuan, tidak bisa.” Angel melihat dari wajah Gerald kalau pria itu nampak tak ingin berpisah. “Anda bisa datang saja ketika sidang, buktikan kalau memang bersungguh-sungguh ingin mempertahankan rumah tangga. Saya yakin kalau Nona Cathleen akan mempertimbangkan agar tidak jadi berpisah.”
...*****...
...Udahlah Ge, gausah capek-capek memperjuangkan yang tak ingin diperjuangkan. Mendingan duduk manis sambil main game aja lebih enak gak perlu pusing mikirin cewek. Gausah cinta-cintaan, dah duda seumur hidup aja...