Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 59


“Jika kau ingin tahu informasi sedetail mungkin hingga ke akarnya, itu membutuhkan waktu yang cukup lama dan biaya yang tak murah. Apa kau bersedia menunggu dan membayar sebesar tujuh ratus lima puluh ribu dollar?” Sebelum menjalankan misi, agen rahasia itu harus mengajukan kesediaan clientnya terlebih dahulu.


“Tak masalah, asalkan kau datang kembali padaku sudah membawa kabar yang memuaskan,” jawab Edbert. Uang sebesar yang diminta oleh agen rahasia itu bukanlah hambatan baginya, asalkan Cathleen bisa kembali ke dalam pelukannya.


“Baik, aku akan mulai menjalankan misi ketika kau sudah membayar seluruh biaya yang sudah kau sanggupi tadi,” ucap agen rahasia itu.


“Aku akan memberimu lima puluh persen, sisanya akan ku bayar setelah pekerjaanmu beres.” Edbert mulai bernegosiasi. Belum juga mendapatkan hasil, tapi sudah meminta bayaran penuh.


“Tidak bisa, seratus persen atau tidak sama sekali,” tegas pria yang berprofesi sebagai agen rahasia tersebut.


Edbert menatap nyalang pada pria yang duduk di sofa panjang. “Jika ku bayar semua, apa kau bisa menjamin menyelesaikan permasalahanku?”


“Tentu saja, tidak pernah ada misi yang gagal ketika aku turun tangan. Jika kau tidak percaya, maka jangan memakai jasaku. Aku tidak mau bekerja pada orang yang meragukan kemampuanku!” tegas orang tersebut.


Edbert terdiam sebentar untuk berpikir. Tapi, memang agen rahasia itu sangat laris di kalangan orang-orang kelas atas di Amerika, padahal tidak ada informasi apa pun tentang perusahaan penyedia jasa itu. Bisa dikatakan sangat tertutup karena termasuk perusahaan ilegal.


“Baiklah, tapi kau harus kembali dengan informasi selengkap-lengkapnya,” pinta Edbert setelah memikirkan berbagai pertimbangan.


“Kau bisa mengandalkan aku.”


Edbert pun kembali mendekati meja kerja, ia menarik laci untuk mengambil sebuah cek. Tangan bertatonya menuliskan nominal sesuai yang diinginkan oleh agen rahasia. Dan lagi-lagi dia melemparkan selembar kertas yang bisa mencairkan uang sebesar tujuh ratus lima puluh dollar Amerika.


Saat sendirian, Edbert langsung mengepalkan tangan. “Akan ku ambil wanita yang seharusnya bukan milikmu!” gerutunya dengan wajah yang nampak mengeraskan rahang.


...........


Tiga hari berlalu, Cathleen sudah diizinkan untuk pulang. Dan setelah hasil laboratorim untuk mengidentifikasi penyakit wanita itu keluar, ternyata memang benar seperti dugaan dokter. Cathleen mengalami dehidrasi. Beruntungnya langsung segera diperiksakan. Jika tidak, bisa fatal akibatnya karena tubuh kekurangan cairan.


Semenjak Cathleen sehat, kehidupan rumah tangganya juga kembali seperti biasa. Jarang bertemu dan mengobrol. Hambar tak ada rasa. Tapi sekuat hati dia menjalani pernikahan itu, tentu dengan harapan suatu hari nanti Gerald bisa membuka hati padanya, seperti dirinya yang mulai memiliki percikan rasa pada sang suami.


Hari ini Cathleen sengaja tak masuk kerja karena ingin menunggu Gerald sampai bangun. Dia ingin menyampaikan pesan dari Alceena—saudara kembarnya yang mengajak berkumpul bersama keluarga besar Dominique.


Cathleen duduk di sofa yang menghadap ke kamar Gerald. Ia memangku MacBook untuk mengerjakan pekerjaan kantor.


Setelah ditunggu dari pagi, akhirnya jam empat sore Gerald baru menunjukkan batang hidung. Pria itu menyembul keluar dari kamar dengan wajah seperti orang bangun tidur. Bahkan Gerald menguap sangat lebar seraya menarik tangan ke atas. Dia tak sadar kalau masih ada istrinya di apartemen.


Cathleen baru pertama kali ini melihat tingkah suaminya yang seperti itu. Dia mengulas senyum karena Gerald tetap saja terlihat tampan. “Kau baru bangun?” Tiba-tiba dia mengeluarkan suara.


...*****...


...Bukan, abis berak! Begitu aja ditanyain Cing, udah jelas masih muka bantal begitu. Masih aja ditanyain baru bangun tidur. Kalo cari bahan obrolan tuh yang bermutu dikitlah Cing Kucing. Bikin emosi aja...