
Cathleen terus memaksa dan meyakinkan Gerald untuk menandatangani surat kesepakatan cerai tersebut. Walaupun suaminya terus mengatakan kalau mencintainya, tapi tak membuat Cathleen goyah sedikit pun. Berpisah adalah jalan terbaik supaya ia bebas dari rasa sakit hati, walaupun kegalauan pasti akan tetap bersemanyam di dalam dirinya. Tapi, setidaknya bukan patah hati seorang istri lagi. Selama masih ada Chloe, dia merasa kalau Gerald tidak akan bisa memperlakukan wanita itu sewajarnya.
“Fine! Jika itu keputusan yang kau inginkan.” Gerald sudah membujuk istrinya semampu yang ia bisa supaya mengurungkan niat untuk bercerai. Tapi tetap saja Cathleen ingin berpisah. Dengan kasar, tangannya mengambil dokumen dan pulpen, membubuhkan tanda tangan di sana.
Gerald melemparkan map beserta pulpen tersebut ke atas meja. “Sudah ku setujui, semoga hidupmu bahagia.” Penuh rasa kesal, ia segera berdiri dan meninggalkan Cathleen. Hatinya terasa bergemuruh dan baru sekarang emosinya sangat meluap. Biasanya, ia bisa mengendalikan amarah. Tapi entah kenapa saat diajak bercerai, membuatnya kurang bisa mengendalikan diri.
Cathleen menghela napas sembari menatap punggung Gerald yang hendak masuk ke dalam ruang game. “Pasti ada jalan untuk kita kembali kalau garis takdir kita memang berakhir bersatu,” ucapnya sebelum suaminya menghilang tertutup pintu.
Gerald tidak menanggapi, dia masih kesal karena Cathleen mengajaknya bercerai. Justru pria itu langsung menutupi telinga menggunakan headphone dan bermain game untuk menghilangkan emosinya.
Cathleen tetap mengulas senyum walaupun terlihat getir. Ia membawa dokumen tersebut ke dalam kamar, memasukkan ke dalam koper.
Cathleen sudah mengemasi seluruh barangnya sejak tadi. Dirasa sudah tidak berhak lagi di apartemen itu, ia pun berniat untuk pulang ke mansionnya ketika pagi menyapa.
“Semoga keputusan ini adalah yang terbaik untuk kita semua.” Cathleen menitikan air mata saat hendak berusaha tidur.
...........
Pagi-pagi sekali Cathleen sudah bangun, tidurnya semalam sangat tak nyenyak. Ia sudah bersiap untuk angkat kaki dari apartemen Gerald, walaupun suaminya belum mengusir. Tapi daripada seperti seorang pasangan yang ada tapi seperti tak ada, lebih baik pergi saja.
Cathleen keluar dari kamar, menatap ruang game sejenak. Dia tidak berniat membangunkan Gerald karena tak mau mengganggu pria itu. “Sampai jumpa di kesempatan lain. Semoga Tuhan mempertemukan kita dalam keadaan yang tepat.” Ia melanjutkan mengayunkan kaki. Membawa pergi segenap rasa cintanya yang harus dibekukan oleh situasi.
Wanita itu benar-benar pergi meninggalkan Gerald, memilih menyerah daripada berjuang sendirian. Sebelum kembali ke mansion keluarganya, Cathleen berhenti sebentar ke toko penjual bunga yang sudah buka pagi sekali.
Cathleen turun dari mobilnya, membeli satu buket bunga mawar putih. Dia mengendarai sendiri menuju rumah sakit di mana Chloe berada. Sejak ditemukan, ia belum menjenguk karena saat itu hatinya belum terlalu kokoh menerima kenyataan. Sekarang situasinya sudah berbeda.
Cathleen membawa bunga berwarna putih tersebut menuju ruang rawat Chloe. Dia masuk ke dalam setelah ada seseorang mengizinkan.
“Halo, Chloe,” sapa Cathleen diiringi senyum ramah.
“Cath?”
“Ya, kau ingat aku? Kita satu kampus, walaupun tidak berteman dekat.” Cathleen kian mendekatkan diri ke ranjang pasien. Ia memberikan buket bunga itu ke orang tua Chloe.
...*****...
...Sabar ya Cing, masih ada Eed yang menunggu jandamu kok...