Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 249


Dua bulan berlalu, Faydor dan Galtero memasuki usia tiga bulan. Dua bayi itu sungguh tak mau jauh dari Gerald. Bahkan mandi sekalipun akan menangis kalau bukan sang Daddy yang melakukan. Tidur juga harus berada di samping pria itu. Definisi Cathleen hanya dibutuhkan ketika haus saja.


“Aku kembali ke kamarku, ya?” pamit Gerald setelah memastikan dua bayinya telah terlelap dan memasukkan Faydor serta Galtero ke box bayi.


Saat ini Gerald sedang tidur di atas ranjang Cathleen dengan posisi saling berhadapan. Memainkan rambut sang wanita supaya tidak menutupi wajah cantik yang pipinya sedikit berisi akibat banyak makan.


Dengan berat hati Cathleen mengangguk. Padahal dalam hati sangat ingin pria itu tetap tinggal di dalam sana.


“Telepon saja aku kalau anak-anak bangun dan menangis.” Gerald meninggalkan kecupan di kening dan terakhir bibir wanitanya.


Gerald tidak ingin cepat-cepat beranjak dari sana, tapi ini sudah tengah malam. Memeluk Cathleen terlebih dahulu, walaupun tak akan puas kalau hanya untuk sesaat. “Aku pasti bisa membujuk orang tuamu. Meskipun sekat kita hanya sebatas lantai, tapi rasanya tetap begitu berat jauh darimu.”


“Aku percaya padamu.” Cathleen membalas pelukan Gerald, membenamkan kepala di dada bidang pria itu. Ia selalu suka dengan aroma tubuh yang tercium maskulin. Tentu saja dari parfum.


Gerald menyudahi pelukan itu sebelum ia menginginkan sesuatu yang lebih. Kakinya berat untuk diayunkan menuju pintu. Tapi, pada akhirnya berada di luar juga dan kembali ke kamarnya yang ada di lantai satu.


Gerald tak bisa tidur, dia terus memikirkan di mana Gretta sekarang berada. Sampai detik ini belum menunjukkan batang hidung juga.


“Ku rasa tak bisa membasmi wanita itu sendiri, aku harus mencari bantuan,” gumam Gerald.


Tangan kekar pria itu berselancar di ponsel untuk melihat apakah Daddy atau pamannya sedang online di aplikasi whatsapp atau tidak. Ketika melihat salah satunya masih belum tidur, ia menelepon orang tersebut.


“Dad?” panggil Gerald pada orang tuanya yang baru saja mengangkat telepon.


“Hm?”


“Bisakah aku memohon sesuatu padamu?”


“Apa?”


“Datang saja kalau kau memang membutuhkan. Tapi, ingat, Cosa Nostra bukan lagi kelompok mafia seperti saat dikelola oleh kakekmu, kita sudah beralih menjadi penyedia jasa pertahanan dan keamanan.“


“Memang itu yang sedang aku butuhkan saat ini, melindungi dari ancaman berbahaya.”


“Hubungi Roxy, aku dan Davis sudah mempercayakan Cosa Nostra padanya.”


“Terima kasih, Dad.”


Panggilan pun berakhir. Gerald segera menghubungi Roxy untuk meminta bertemu besok.


...........


“Kau mau ke mana?” tanya Cathleen ketika melihat Gerald seperti terburu-buru hendak keluar.


“Ada urusan penting sebentar. Kau jangan keluar kemanapun. Tetap di dalam mansion sampai keadaan aman, oke?” Gerald berpamitan dengan mengusap pipi Cathleen dan berakhir kecupan di kening.


“Kalau Faydor dan Galtero menangis, bagaimana? Mereka hanya luluh padamu.” Cathleen bertanya seraya menunjuk dua anaknya yang ada di stroller. Mereka baru saja jalan-jalan mengelilingi bangunan utama mansion Pattinson.


Faydor, Galtero, dan Cathleen sudah seperti rapunzel yang tak bisa keluar dari menara.


“Aku akan pulang ketika mereka menangis.” Gerald berjongkok di hadapan dua bayinya untuk membisikkan sesuatu.


“Boys, jangan menangis sebelum Daddy pulang, oke? Aku harus menyelesaikan urusan penting supaya kita bisa tidur berempat.”


...*****...


...Tidur berlima dong, angkat aku jadi anakmu juga Ge, gapapa rela deh. Biar gampang nendang si kucing...