
Mendengar ungkapan hati Edbert, membuat reflek Cathleen menuntun kedua tangannya untuk membalas pelukan pria itu. Sesaat mereka saling mendekap erat. “Maaf karena aku tak bisa membalas perasaanmu lagi melebihi kasih seorang adik pada kakaknya.”
“Tak apa, aku tahu, dan sudah ku relakan juga. Setidaknya, terima kasih karena kau dan keluargamu memberikan aku hangatnya sebuah rumah. Jika aku tak mengenalmu, mungkin sampai detik ini tak pernah ada keluarga yang memperlakukanku sebaik keturunan Pattinson.”
Edbert mulai mengendurkan pelukan, beralih memegang kedua lengan Cathleen. “Setelah ini, hiduplah bahagia serta damai bersama suami dan anak-anakmu.” Dengan berani, dia melabuhkan kecupan di kening. Rasanya ingin sekali mencium atau minimal mengecup bibir. Tapi, sadar diri dan posisi saja, mantan kekasihnya adalah istri pria lain.
“Maaf jika aku lancang. Setelah ini tak akan ku ulangi lagi.” Edbert yang tak biasa mengulas senyum pun menarik dua sudut bibir, mengusap penuh kelembutan di pipi Cathleen. “Aku pergi dulu, Cath,” pamitnya kemudian.
Edbert menarik napas sedalam mungkin, dan mengeluarkan pelan. Begitu berat berdiri meninggalkan Cathleen, tapi harus dilakukan demi menyelamatkan dan menentramkan kehidupan orang-orang terkasih.
“Tunggu!” Cathleen mencekal pergelangan tangan Edbert yang hendak melangkah.
Membuat Edbert berhenti sesaat untuk kembali menatap mantan kekasih tercinta. “Ya?”
“Berjanjilah padaku, kau pasti akan kembali dengan selamat,” pinta Edbert.
“Aku akan mengusahakan yang terbaik untuk kehidupanmu.” Edbert tidak bisa mengucapkan sesuai permintaan Cathleen. Dia tak ingin terlalu memberikan banyak harapan.
Dorongan hati Cathleen membawa wanita itu berinisiatif memeluk Edbert. “Ed, aku sangat menyayangimu.”
“I know.” Mata Edbert kembali berkaca-kaca sembari mengusap punggung Cathleen. Tapi, tidak lama, dia segera melepaskan pelukan wanita itu yang seperti tidak merelakannya pergi melakukan misi.
Edbert meraih tas yang tadi diberikan oleh Roxy, menyampirkan benda tersebut. Lalu, berjalan mundur menuju pintu. Dia mengulas senyum terus sembari menatap Cathleen.
Tapi, saat sudah melangkah sebanyak sepuluh kali, Edbert berbalik, memudarkan mimik yang diperlihatkan untuk mantan kekasihnya. Kembali pada sosoknya berwajah dingin dan sangar.
Edbert membuka pintu, langsung melihat Gerald di hadapannya. “Jaga baik-baik Cathleen,” pintanya seraya memeluk pria itu.
“Aku pergi dulu.” Edbert tidak mengajak anggota Cosa Nostra satu pun. Dia akan menjalankan rencananya sendiri dan tak mau melibatkan siapa pun.
“Wait!” Saat melihat tas yang dibawa oleh Edbert, Gerald mencegah pria itu supaya berhenti melangkah.
“Kau sungguh akan menghancurkannya?” tanya Gerald.
“Ya.” Edbert kembali mengayunkan kaki. Tidak peduli kalau saat ini Gerald sedang berusaha mencegahnya supaya tak gegabah. Tapi, dia tetap ingin menjalankan sesuai misinya sendiri. Gretta tetap harus dihancurkan, barulah semua akan tenang.
Edbert masuk ke dalam mobilnya, bahkan saat itu pun Gerald masih berusaha menahan. Tapi, dia keras kepala. Pergi seorang diri.
Gerald kembali masuk ke dalam, dia harus tetap di sini untuk menjaga Cathleen. Tapi, tak akan membiarkan Edbert sendirian.
“Ikuti Edbert, pastikan dia selamat!” titah Gerald pada anggota Cosa Nostra. Tim khususnya pun segera mengikuti perintah.
...........
Gerald membawa Cathleen kembali ke kamar. Berharap istrinya akan lebih tenang. “Faydor dan Galtero sedang diselamatkan oleh Edbert, mereka pasti akan kembali dalam kondisi utuh dan sehat.”
“Siapa yang diselamatkan? Faydor dan Galtero saja bersama kami.”
Suara itu membuat Cathleen dan Gerald menatap ke arah yang sama dengan mata membulat.
...*****...
...My honey bunny sugar plum, Uncle Ed ... Malaikat maut coming dengan anggun, awas nanti jatuh cinta ya. HAHAHA kalian semua sudah terkecoh oleh tipuan mautku *tawa jahat*...