
Edbert segera berdiri, padahal yang lain masih duduk. Kedua bola mata menyisir ke seluruh penjuru ruangan, mencari seseorang yang wajahnya nampak mencurigakan.
Memencet sebuah alat yang ada di telinga, itu sebagai cara berkomunikasi dengan seluruh bodyguard dan juga Gerald. “Ge, amankan Cathleen, ku rasa wanita psikopat itu ada di dalam sini, dia baru saja menghubungiku.”
Di depan sana, Gerald yang mendengar informasi dari Edbert pun langsung menatap ke arah mantan rivalnya seolah bertanya. Di mana?
Edbert memberikan isyarat gelengan.
Dengan menggandeng Cathleen, Gerald segera turun untuk mengambil kedua anaknya. Bahkan mereka belum menandatangani surat pernikahan sebagai legalitas bahwa keduanya benar-benar sudah bersatu. Tapi, tak masalah, itu bisa dilakukan menyusul. Setidaknya janji mereka sudah diikrarkan.
“Kabari aku kalau sudah mendapatkan wanita itu,” pinta Gerald dan dijawab anggukan kepala oleh Edbert. Mereka berdua bisa melihat wajah Cathleen yang nampak bingung.
Supaya memastikan Gerald, Cathleen, Faydor, dan Galtero keluar dari Katedral dengan selamat, Edbert memberikan perintah pada seluruh bodyguard. “Jangan boleh ada satu orang pun yang pergi dari sini!”
Edbert beralih melihat ke arah Gerald yang merangkul mantan kekasihnya dengan mendorong stroller bayi. “Semoga kalian selamat,” harapnya sangat tulus. Meskipun rasa ingin memiliki Cathleen masih ada, tapi ia tahu kalau semua sudah pupus.
Keluarga Pattinson dan Giorgio tidak bingung kenapa mendadak pengantin pergi begitu saja, mereka sudah dijelaskan tentang rencana hari ini. Justru kini ikut berdiri dan menelisik satu persatu wajah yang datang di sana. Mereka melihat mimik kebingungan dari para tamu.
Tapi, ada satu orang yang nampaknya sedang tersenyum ke arah Edbert. Tentu saja pria itu langsung mengayunkan kaki untuk mendekat.
Tangan Edbert meraih dagu wanita yang tadi menatapnya, mendongakkan kepala sampai menghadap ke arahnya. Ternyata bukan wajah psikopat yang baru. “Kau orang suruhan Gretta?” tanyanya dengan mata mendelik.
Wanita itu menggelengkan kepala. “Bu—bukan.” Nampaknya ia terbata-bata, terlihat takut saat didekati oleh Edbert.
“Lalu, kenapa kau tersenyum padaku?!”
“Ka—karena kau se—dang menatapku.”
Sial! Mencari dan menangkap satu wanita saja sejak tadi tak kunjung dapat. “Atau mungkin sebenarnya dia tidak di dalam sini, tapi di luar?”
Kalau Gretta datang ke Katedral, pasti sudah ditemukan. Tapi, tak ada wajah bekas operasi plastik sampai menyerupai Chloe.
“Kalian berjaga di pintu, aku akan memberikan perintah untuk seluruh tamu keluar satu persatu. Jangan lupa dicek apakah ada dari mereka yang mencurigakan atau tidak.” Setelah memberikan perintah pada semua bodyguard, Edbert segera membubarkan seluruh orang.
Sesuai arahan, satu demi satu keluar dengan tertib dan rapi. Dari seratus orang yang datang, semuanya lolos keluar.
Setelah di dalam Katedral sepi, Edbert mendekati bodyguard yang berjaga di pintu. “Apa ada yang mencurigakan? Membawa senjata tajam?”
“Tidak ada, Tuan, semua bersih.”
Edbert menghela napas kasar, lalu berkacak pinggang. “Di mana kau bersembunyi wanita gila!”
Selama masih ada Gretta yang menjadi ancaman keselamatan Cathleen, Edbert tak pernah bisa tenang.
Edbert merasakan sakunya bergetar lagi, itu dari ponselnya. Segera melihat penelepon, ternyata nomor yang tak dikenal lagi.
“Jangan bersembunyi kau! Kalau berani, tunjukkan wajahmu di hadapanku!” Edbert langsung menyentak karena kesal dan merasa sudah dipermainkan oleh Gretta.
Tapi, wanita itu justru tertawa terbahak-bahak. “Kau mencariku, ya? Sulit menemukanku? Kemampuanmu tidak bisa menandingi aku. Jadi, bersiaplah kalian dengan permainan yang sesungguhnya.”
...*****...
...Bagus Gretong, kalo kerjamu memuaskan, nanti ku perpanjang kontraknya. Jadilah virus yang membuat hidup mereka tak tenang HAHAHAHA tawa jahat...